MEMILIH MENJADI PECINTA
Selamat datang dalam dunia ini dan itu.
Tempat kamu membaca peta dan mengambil kompasmu dari
saku, diselingi bertanya sesekali, kalau-kalau kamu tak yakin dan takut
tersesat dalam belantaranya yang mencekam.
Dunia ini dan itu, selalu menawarkan kamu yang ini dan
yang itu. Berbelok di jalan ini atau jalan yang itu. Semuanya terserah kamu.
Memilih berarti membawa kamu kepada hal yang ini
daripada yang itu.
Memilih menjadi pecinta atau yang dicinta?
Seandainya aku bisa keduanya, tapi ini pilihan, maka
hanya ada ini atau itu, bukan ini dan itu.
Jika dunia tawarkan aku dua hal ini, maka maju aku
selangkah lebih dekat pada persimpangan yang isinya tanda tanya. Sedikit lebih
dekat pada belokan yang akan membawaku pada cabang-cabang yang sama sekali
berbeda
Menjadi pecinta maka aku menebar kata dan cinta
disetiap simpangannya, tanpa harap tanpa doa jika seseorang lewat sempat
memungut dan merangkainya.
Menjadi pecinta maka doaku, hanya agar kompasku
bekerja, membawaku pada utara yang berbeda.
Menjadi pecinta maka cermin yang kupunya hanya akan
memantulkan wajahku sendiri, tanpa harap cermin itu memantulkan bayangan
berbeda.
Menjadi pecinta maka aku hanya terbang pada
malam-malam gelap tanpa suara, berlarian dari cahaya, berharap tak tertangkap.
Menjadi pecinta maka aku tak boleh bertanya, aku harus
pandai membaca petaku sendiri, berlayar sendiri, menarik sauh sendiri,
merentangkan layar sendiri.
Menjadi pecinta maka harapku adalah agar tak lelah
menebar cinta pelan-pelan, diam-diam, agar ia yang kelak menemukannya tak
bergegas pergi dan mencari jalan yang lain.
Menjadi pecinta maka tangisku adalah sedu sedan tanpa
suara.
Menjadi pecinta maka aku hanya dapat berharap angin
sore menerbangkan satu-satu kupu-kupu kertasku yang menari-nari indah
menemanimu.
Menjadi pecinta maka gerimis adalah surat pertamaku,
yang sampaikan sepatah dua patah kata tak beraturan, berantakan.
Menjadi pecinta maka aku lantas memilihmu.
Lalu…menjadi pecinta membuat aku menjadi aku.
Memilih berarti membawa kamu pada jalan-jalan baru
yang sama sekali berbeda.
Memilih menjadi pecinta atau yang dicinta?
Menjadi yang dicinta maka kamu memunguti kata dan
cintaku pada persimpangan tempat kamu berdiri sejak tadi, merangkainya,
merangkainya sesuka hatimu.
Menjadi yang dicinta maka kamu sesekali mengambil
kompas dari sakumu, memastikan utara adalah jalanmu, lalu pelan-pelan
bersenandung menyusuri jalanan yang menurun.
Menjadi yang dicinta maka kamu memiliki bayang berbeda
dalam cermin-cerminmu, memilihnya sendiri.
Menjadi yang dicinta maka kamu berlarian senang di
terangnya matahari, mengayun-ayunkan tanganmu seolah menari.
Menjadi yang dicinta maka kamu akan sesekali bertanya,
pada satu atau mungkin beberapa pecinta yang tawarkan kamu kapal berbeda dengan
tujuan yang jelas tak sama.
Menjadi yang dicinta maka kamu boleh sesekali
bernyanyi, dan mengubah haluanmu secepat nada-nada lagumu yang berlarian kamu
nyanyikan.
Menjadi yang dicinta maka air matamu adalah berita
utama.
Menjadi yang dicinta maka kamu akan menari dengan
banyak kupu-kupu diladang bunga mataharimu.
Menjadi yang dicinta maka kamu merangkai
gerimis-gerimis kecil menjadi serangkai surat, yang sampaikan maksudku padamu.
Menjadi yang dicinta maka kamu lantas memilihku, atau
dia.
Lalu…menjadi yang dicinta membuat kamu menjadi kamu.
Maka menjadi pecinta adalah pilihanku, meski harus
kutiti pelan-pelan langkahku, maka biar. Karena aku sudah pernah melihatmu di
persimpangan itu, lalu aku jatuh cinta dan menjadi pecinta.
Maka menjadi pecinta adalah sebuah permintaan maaf
tulusku untukmu.
Sebaris prosa tanpa nama.
Seikat bunga.
Dan sebatang coklat hitam.
Maka menjadi pecinta adalah sungguh-sungguh sebuah permintaan maafku untukmu.
Untuk kamu yang juga menebar kata dan cinta pada
tiap-tiap persimpangan.
Maka beginilah dunia kita yang memang memiliki banyak
sekali persimpangan, dimana sesama pecinta termenung, berharap salah satu
diantara mereka bersedia berubah menjadi mereka yang dicinta.
Maka, akan kubuatkan kamu sepotong cerita penuh cinta, menjelaskan betapa aku menikmati pilihanku sebagai pecinta meski terkulai lemas dan kadang lelah menyadari duniaku adalah gelap, sendiri, dan pelan-pelan.
Maka, prosa ini memang aku buat untukmu yang entah berada pada simpangan sebelah mana, berharap kamu cukup berani untuk mengambil dan lekas merangkai kata dan cinta yang sudah sejak lama kutebar.
Maka, prosa ini memang aku buat untukmu, untuk kamu yang telah lelah menjadi pecinta, sebagai permintaan maafku padamu.
Maka disinilah aku, memilih tetap menjadi pecinta,namun jika suatu hari kompas usangku rusak dan tak lagi tunjukkan arah utara, maka aku sungguh akan sangat berterimakasih pada Tuhan, karena pada saat itulah aku akan berhenti menjadi pecinta, karena aku sudah temukan kamu yang menebar cintanya pada tiap simpangan namun tak seorangpun berani merangkainya.
Maka pada saat itulah aku akan berhenti menjadi pecinta, melepaskan seluruh ambisiku untuk segera tiba di utara.
Maka pada saat itulah, aku akan berhenti, berdiri diujung persimpangan, dan melambaikan tangaku padamu. Itulah utara bagimu dan kamu adalah pengganti kompasku.
Maka hingga saat itu tiba, maaf…
Aku adalah pecinta.
By Syapira

No comments:
Post a Comment