Monday, February 8, 2016

Konstelasi 1001 Nama


Pada hitam dan bintik bewarnanya yang menyala pada semesta yang belum manusia petakan, ada bintang yang nyalanya gemerlap namun tenang. Bintang-bintang ini letaknya berdekatan meski tidak berhimpitan, tidak berdesakkan.

Nyalanya pun satu-satu bergantian, seolah ada irama yang jadi patokan. Ada tiga bintang yang tanpa dinyanya begitu berkilau sehingga mana mungkin aku sampai hati memalingkan pandangan. Bintang-bintang ini apakah yang paling terang pada hamparannya yang berikilau? Aku rasa tidak juga. Mereka terlihat sama sekilas, sekejap sama dengan bintik berkilau lainnya, namun aku punya alasan mengapa pada konstelasi yang tak muncul dalam peta diam-diam aku berani memberikan mereka nama.

Pada musim rindu yang baru saja datang beberapa hari lalu, aku biasanya menunggu hingga mentari akhirnya bersembunyi dibalik jubah semesta. Pukul dua malam biasanya adalah waktu paling mujarab buat berulang kali menyebut nama mereka yang belum aku yakini mana yang paling tepat mewakilkan.

Ketiganya baru aku sadari hadirnya belum lama sebelum musim rindu tiba-tiba saja sudah menggugurkan bunga di halaman belakang rumah. Rasanya baru kemarin aku menatap pada yang tak dinyanya mampu memberikan kesan pada dua bola mata biasa.

Ketiganya seperti pencuri yang datangnya diam-diam dan tiba-tiba saja separuh dari rasa yang aku tulis pagi-pagi atau malam sekali di kepala sudah mereka bawa pergi entah kemana.

Bintang-bintang ini riwayatnya amat terang di musim sebelumnya, nyalanya menemani aku pulang 
kerumah, mendengangkan lagu serupa doa yang melelapkan aku hingga tiba di dunia berbeda tanpa nama. Kerlipnya membantu aku berpijak lebih kuat pada guncangan yang datangnya tiba-tiba, pun hadirnya di siang hari yang tak kasat mata tetap terasa entah bagaimana.

***

Musim rindu adalah ketuk satu-satu di pintu, adalah rintik di jendela biru kamarku. Pada musim rindu jalan-jalan basah berkat memori yang meluap dijalan-jalan itu. Pada musim rindu, ada teduh yang mengusik aku tentang tiga bintang yang namanya belum sempat aku paku.

Pada musim rindu semua niscaya sepertinya terkabul, ada pisah sebagai padanan temu ada tunggu pada renung. Pada musim rindu menyaksikan ketiga bintang berkilau bersama adalah kejadian langka, karna pada musim rindu awan-awan sepertinya tanpa ampun menutupi pekat langit malam, hanya untuk hadirkan rindu.

Pada musim rindu, aku masih saja merenung tentang nama yang berganti untuk ketiga bintang tiap malam. Kadang aku sebut si bintang pertama sebagai penenang, si bintang kedua sebagai penabur tawa, dan bintang ketiga sebagai pelengkap bahagia. Tapi malam berikutnya bisa saja mereka bertukar tempat atau bahkan berubah dalam kata yang berlawanan.

Kisahku dengan ketiga bintang dalam konstelasi nun jauh disana adalah nyata yang kubahasakan sesuai khayalku di kepala tentang tiga bintang yang datang dalam hidupku yang teramat sederhana. Mereka memancarkan cahaya menenangkan dalam malam-malam paling gelap, mengingatkan bahwa tak pernah ada aku yang sendirian.

Beberapa bait kata aku tangkap untuk ketiganya kini tumpah pada cerita sederhana, betapa kagumku pada ketiganya adalah kekaguman tanpa masa kadaluarsa

No comments:

Post a Comment