Konstelasi 1001 Nama
Pada hitam
dan bintik bewarnanya yang menyala pada semesta yang belum manusia petakan, ada
bintang yang nyalanya gemerlap namun tenang. Bintang-bintang ini letaknya
berdekatan meski tidak berhimpitan, tidak berdesakkan.
Nyalanya pun
satu-satu bergantian, seolah ada irama yang jadi patokan. Ada tiga bintang yang
tanpa dinyanya begitu berkilau sehingga mana mungkin aku sampai hati
memalingkan pandangan. Bintang-bintang ini apakah yang paling terang pada
hamparannya yang berikilau? Aku rasa tidak juga. Mereka terlihat sama sekilas,
sekejap sama dengan bintik berkilau lainnya, namun aku punya alasan mengapa
pada konstelasi yang tak muncul dalam peta diam-diam aku berani memberikan
mereka nama.
Pada musim
rindu yang baru saja datang beberapa hari lalu, aku biasanya menunggu hingga
mentari akhirnya bersembunyi dibalik jubah semesta. Pukul dua malam biasanya
adalah waktu paling mujarab buat berulang kali menyebut nama mereka yang belum
aku yakini mana yang paling tepat mewakilkan.
Ketiganya
baru aku sadari hadirnya belum lama sebelum musim rindu tiba-tiba saja sudah
menggugurkan bunga di halaman belakang rumah. Rasanya baru kemarin aku menatap
pada yang tak dinyanya mampu memberikan kesan pada dua bola mata biasa.
Ketiganya
seperti pencuri yang datangnya diam-diam dan tiba-tiba saja separuh dari rasa
yang aku tulis pagi-pagi atau malam sekali di kepala sudah mereka bawa pergi
entah kemana.
Bintang-bintang
ini riwayatnya amat terang di musim sebelumnya, nyalanya menemani aku pulang
kerumah, mendengangkan lagu serupa doa yang melelapkan aku hingga tiba di dunia
berbeda tanpa nama. Kerlipnya membantu aku berpijak lebih kuat pada guncangan
yang datangnya tiba-tiba, pun hadirnya di siang hari yang tak kasat mata tetap
terasa entah bagaimana.
***
Musim rindu
adalah ketuk satu-satu di pintu, adalah rintik di jendela biru kamarku. Pada
musim rindu jalan-jalan basah berkat memori yang meluap dijalan-jalan itu. Pada
musim rindu, ada teduh yang mengusik aku tentang tiga bintang yang namanya
belum sempat aku paku.
Pada musim
rindu semua niscaya sepertinya terkabul, ada pisah sebagai padanan temu ada
tunggu pada renung. Pada musim rindu menyaksikan ketiga bintang berkilau
bersama adalah kejadian langka, karna pada musim rindu awan-awan sepertinya tanpa
ampun menutupi pekat langit malam, hanya untuk hadirkan rindu.
Pada musim
rindu, aku masih saja merenung tentang nama yang berganti untuk ketiga bintang
tiap malam. Kadang aku sebut si bintang pertama sebagai penenang, si bintang
kedua sebagai penabur tawa, dan bintang ketiga sebagai pelengkap bahagia. Tapi malam
berikutnya bisa saja mereka bertukar tempat atau bahkan berubah dalam kata yang
berlawanan.
Kisahku
dengan ketiga bintang dalam konstelasi nun jauh disana adalah nyata yang
kubahasakan sesuai khayalku di kepala tentang tiga bintang yang datang dalam
hidupku yang teramat sederhana. Mereka memancarkan cahaya menenangkan dalam
malam-malam paling gelap, mengingatkan bahwa tak pernah ada aku yang sendirian.
Beberapa bait
kata aku tangkap untuk ketiganya kini tumpah pada cerita sederhana, betapa
kagumku pada ketiganya adalah kekaguman tanpa masa kadaluarsa
No comments:
Post a Comment