La La Land – Overanalyzed
Pagi itu ada sebuah pesan berpendar
dari HP di tangan, sebuah ajakan.
“Yuk nonton La La Land sekarang!”
Aku yang memang penasaran dengan
segala komentar terkait film ini, mengiyakan dengan mudahnya.
Singkat cerita, kami duduk dibarisan
atas sebuah bioskop di daerah Kuningan.
I wasn’t into musical things...
Dalam kepala, terbayang adegan ala
Mama Mia, dengan pemeran utama bernyanyi dari jendela, atau berputar-putar
riang di pasar membuat semua pedagang ikut tenggelam dalam nyanyian, lalu
mungkin, mungkin, sedikit senyum bisa datang pada kejenakaan adegan dalam
layar.
Yaaa.. jenaka.
Itu adalah ekspektasi saya ketika akhirnya
duduk pada bangku bioskop dan lampu-lampu mulai diredupkan.
Ya, memang tidak perlu selalu jenaka.
Biasanya ada pemeran antagonis yang mengambil alih ditengah-tengah cerita,
cerita mencapai klimaksnya, sampai akhirnya pemeran protagonis mengambil alih
keseluruhan cerita, dan ya semua bahagia pada akhirnya.
Plot, alur cerita, bahkan tarian dan
nyanyian yang sudah bisa saya bayangkan dalam kepala.
Lalu apa yang begitu istimewa,
mengapa semua orang sepertinya tergila-gila?
Sampai mendekati akhir cerita semua
dapat saya prediksi dengan sempurna. Pemeran utama akhirnya benar-benar menjadi
pemeran utama dalam hidupnya.
Mia berhasil memukau talent hunter dengan nyanyianya yang
sederhana.
Happy ending?
Ya dan Tidak.
Damien Chazelle, yang sepertinya
tergila-gila pada kesederhanaan cerita ternyata punya kejutan bagi semua
pemirsanya.
5 menit saja, untuk membuat
keseluruhan cerita lengkap dan membuat siapa saja yang menyaksikannya melanglang
buana hingga tiba pada kejadian yang kurang lebih serupa pada hidupnya
masing-masing.
Pilihan antara mimpi dan seseorang
(yang mungkin sangat dicinta).
Butterfly Effect?
5 menit saja, untuk mengubah
keseluruhan cerita.
Pilihan Sebastian antara menghiraukan
Mia atau memeluknya ternyata berdampak teramat jauh hingga tiba dimana takdir
akhirnya mempertemukan mereka pada meja yang berbeda.
As a person who overanalyzed everything... Yes, I burst into tears.
Mia dan Sebastian adalah orang-orang
biasa yang tak ubahnya kita, memelihara mimpi, dan memupuknya dengan bangga.
Hingga datang disaat jalan mereka begitu berjarak untuk tetap berpegangan
tangan. Pada akhirnya Mia dan Sebastian yang “terbiasa” memitakan mimpi berbeda
namun bersama-sama harus melepaskan genggamannya pada satu dan yang lainnya.
Jika hal yang sama – yang sangat
mungkin terjadi dalam kehidupan kita – Apakah kamu akan menjadikan aku Mia
dalam cerita?
No comments:
Post a Comment