Friday, January 27, 2017

La La Land – Overanalyzed

Pagi itu ada sebuah pesan berpendar dari HP di tangan, sebuah ajakan.
“Yuk nonton La La Land sekarang!”
Aku yang memang penasaran dengan segala komentar terkait film ini, mengiyakan dengan mudahnya.

Singkat cerita, kami duduk dibarisan atas sebuah bioskop di daerah Kuningan.

I wasn’t into musical things...
Dalam kepala, terbayang adegan ala Mama Mia, dengan pemeran utama bernyanyi dari jendela, atau berputar-putar riang di pasar membuat semua pedagang ikut tenggelam dalam nyanyian, lalu mungkin, mungkin, sedikit senyum bisa datang pada kejenakaan adegan dalam layar.

Yaaa.. jenaka.
Itu adalah ekspektasi saya ketika akhirnya duduk pada bangku bioskop dan lampu-lampu mulai diredupkan.
Ya, memang tidak perlu selalu jenaka. Biasanya ada pemeran antagonis yang mengambil alih ditengah-tengah cerita, cerita mencapai klimaksnya, sampai akhirnya pemeran protagonis mengambil alih keseluruhan cerita, dan ya semua bahagia pada akhirnya.
Plot, alur cerita, bahkan tarian dan nyanyian yang sudah bisa saya bayangkan dalam kepala.

Lalu apa yang begitu istimewa, mengapa semua orang sepertinya tergila-gila?

Sampai mendekati akhir cerita semua dapat saya prediksi dengan sempurna. Pemeran utama akhirnya benar-benar menjadi pemeran utama dalam hidupnya.
Mia berhasil memukau talent hunter dengan nyanyianya yang sederhana.

Happy ending?

Ya dan Tidak.
Damien Chazelle, yang sepertinya tergila-gila pada kesederhanaan cerita ternyata punya kejutan bagi semua pemirsanya.
5 menit saja, untuk membuat keseluruhan cerita lengkap dan membuat siapa saja yang menyaksikannya melanglang buana hingga tiba pada kejadian yang kurang lebih serupa pada hidupnya masing-masing. 
Pilihan antara mimpi dan seseorang (yang mungkin sangat dicinta).

Butterfly Effect?

5 menit saja, untuk mengubah keseluruhan cerita.
Pilihan Sebastian antara menghiraukan Mia atau memeluknya ternyata berdampak teramat jauh hingga tiba dimana takdir akhirnya mempertemukan mereka pada meja yang berbeda.

As a person who overanalyzed everything... Yes, I burst into tears.
Mia dan Sebastian adalah orang-orang biasa yang tak ubahnya kita, memelihara mimpi, dan memupuknya dengan bangga. Hingga datang disaat jalan mereka begitu berjarak untuk tetap berpegangan tangan. Pada akhirnya Mia dan Sebastian yang “terbiasa” memitakan mimpi berbeda namun bersama-sama harus melepaskan genggamannya pada satu dan yang lainnya.

Jika hal yang sama – yang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita – Apakah kamu akan menjadikan aku Mia dalam cerita?


No comments:

Post a Comment