Ia memang selalu begitu, ragu-ragu, seperti cuaca belakangan ini yang menyerahkan dirinya pada perbincangan 12 siang di bangku-bangku kepasrahan. Padahal dulu, Ia selalu ingin mengenggam tanganmu sampai hancur dan rebah di subuh-subuh sunyi yang kau titipkan pada tangan perempuan lain, selain dirinya.
Dan semua lelah rela ditelannya bulat-bulat, karna katanya matahari tidak pernah tenggelam hanya bumi berputar. Padahal matanya padam, bahkan tenggelam di dasar ketidakpastian.
Besok hari Kamis dan bukan tangis, katanya biar saja semua , aku ini gerimis memangnya tak boleh berharap matahari?
No comments:
Post a Comment