Under Accross
“Ini
adalah pria ke enam yang datang untuk melamarmu Te. Bagaimana apa kamu suka? ”
Jean kakak Te, menanyakan hal yang membuatnya hampir saja menyerah. Ia lebih
menujukan pertanyaan itu sebagai formalitas daripada menanti sebuah kabar
bahagia.
Te, masih saja diam. Entah pikiran macam apa yang menari-nari diatas kepalanya dan menginjak-injak perasaanya hingga sampai pada keadaan yang membuatnya begini menderita. “Bagaimana Te?” Jean kembali bertanya, lirih. Te, yang sejak tadi pandanganya menerawang, membalikan badannya, dan memandang mata hitam pekat kakaknya, dalam-dalam. “Ia sahabatku” hanya 2 kata sederhana itu yang keluar dari mulut Te, yang sejak tadi bunkam. Te, yang merasa telah memberikan jawaban, membalikkan kembali badannya, dan kembali hidup dalam angan-angannya yang mati. Pandangannya lagi-lagi menerawang dan hujan lagi-lagi menjadi teman. Dipeluk erat lututnya, ia tenggelam.
Hujan ini membawa Te lagi-lagi kembali pada sebuah keadaan yang disebut garis nasib atau apapun itu. Apa aku menerka-nerka, atau bagaimana. tapi dari sinilah semua datang, dari sinilah semua bermula. Te bukan gadis kesepian, ia gadis yang ceria dengan caranya sendiri. Te bukan seorang pengkhayal atau apapun. Ia cenderung realistis, dan senang berbagi. Ia punya sedikit teman tapi anehnya ia punya banyak sahabat. Ini semua bermula, karena Tuhan, lalu begitu pun akhirnya, ini berakhir pula karna Tuhan.
Tak kurang dari 3 tahun lamanya Te merasakan hangatnya mentari begitu hangat. Indahnya dunia begitu indah, dan merahnya merah begitu merah. Sebelum semua itu dihadapkan pada perbedaan yang begitu mendasar. Selayaknya putih dan hitam, siang dan malam, lalu air dan api. Mereka ada, berbeda, tapi mereka satu.
Te, tak pernah mengeluh akan apa yang telah ia dapat. Ia selalu saja merasa cukup, seperti cukup untuk mencintai satu orang saja. Analogikan saja dengan hidupmu sendiri, saat kau menerima yang cukup pantas untuk dirimu sendiri, apa yang akan kau lakukan. Merasa cukup, pasti. Merasa bersyukur, harus. Merasa kau rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya, itulah pertanyaannya. Sejak kapan kau jatuh dan rela melakukan apa saja kapan saja dan dimana saja. Tak pernah jatuh pada waktu dan saat yang tepat. Rasa itu tumbuh, sebelum kita menyadari apa-apa.
Te, mencintai seorang laki-laki, dan memang seharusnyalah begitu. Untuk yang pertama, aku kira bukan, karna itu pasti ayahnya. Untuk yang terakhir, aku kira juga bukan, karna aku tak pandai memprediksi. Michael, tak suka makan pedas, beasiswa sejak umur 12 tahun, pandai bermain semua alat musik kecuali clarinet, kacamata minus 5, dan jam tangan swiss yang tak pernah absen dipergelangan tangan. Laki-laki ini, membuat kehidupan Te berubah, benar-benar berubah. TOTAL.
Entah apa maksud Tuhan mempertemukan mereka, untuk alasan cintakah? Saat itu Te senantiasa bersyukur bahwasanya takdir mempertemukan mereka dan membawa mereka bersama. Kehidupan mereka layaknya cerita fiksi apik yang dirancang sendiri oleh penulis kenamaan. Tidak ada lagi cerita mengenai kehidupan biasa, hanya keindahan yang menyertai kehidupan mereka. Keseharian mereka seperti sebuah skenario film dokumenter yang masuk nominasi Golden Globe, atau ajang pengahargaan bergengsi lainnya. Mulai dari beasiswa musik yang sama-sama mereka dapat, hingga perjalanan keluar negeri yang mereka nikmati bersama.
Cinta atau bukan, perasaan itu telah membuat mereka merasa sama-sama saling memiliki. Tidak akan ada Te, jika tidak ada Mike, dan tidak ada Mike jika tidak ada Te. Mereka layaknya bintang dan bulan yang saling melengkapi, atau kumbang dan bunga yang saling memiliki.
Perkenalan mereka, terjadi karena sebuah ketidaksengajaan, yaa…sebut saja itu takdir. Ris sahabat Te, secara tidak langsung adalah kerabat dekat Mike. Ayah Ris meninggal kira-kira 3 tahun yang lalu, tepat dimana Tuhan mempertemukan mereka. Memang benar apa yang selalu orang katakan, disetiap bencana pasti ada hikmah. Tapi apakah hal seperti ini bisa disebut sebagai hikmah? Apalagi Ris tidak mendapatkan keuntungan secara langsung.
Terlepas dari hikmah atau bukan, kisah mereka mulai saya bukukan hari itu. Terlalu banyak keserampangan terjadi di tengah kehidupan kita yang seharusnya damai. Jika tak ada kekuatan sekuat cinta, lalu bagaimana kita mendefinisikannya. Te dan Mike adalah orang-orang terpilih, bagaimana tidak, cinta bukan permainan, apalagi sebauh kesalahan. Dan lagi-lagi kita tak akan membicarakan siapa pemenangnya lalu siapa pencundangnya. Ya, cinta hanya begitu, begitu saja.
Banyak orang percaya bahwa apa yang telah digariskan oleh Tuhan, tak peduli apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Tapi bisakah anda memberitahu saya barang 1 atau 2 orang yang benar-benar menggunakan teori ini dalam kehidupan mereka. Akui saja, kita memang hanya manusia biasa. Begitupun cinta, cinta itu biasa.
Te, masih saja diam. Entah pikiran macam apa yang menari-nari diatas kepalanya dan menginjak-injak perasaanya hingga sampai pada keadaan yang membuatnya begini menderita. “Bagaimana Te?” Jean kembali bertanya, lirih. Te, yang sejak tadi pandanganya menerawang, membalikan badannya, dan memandang mata hitam pekat kakaknya, dalam-dalam. “Ia sahabatku” hanya 2 kata sederhana itu yang keluar dari mulut Te, yang sejak tadi bunkam. Te, yang merasa telah memberikan jawaban, membalikkan kembali badannya, dan kembali hidup dalam angan-angannya yang mati. Pandangannya lagi-lagi menerawang dan hujan lagi-lagi menjadi teman. Dipeluk erat lututnya, ia tenggelam.
Hujan ini membawa Te lagi-lagi kembali pada sebuah keadaan yang disebut garis nasib atau apapun itu. Apa aku menerka-nerka, atau bagaimana. tapi dari sinilah semua datang, dari sinilah semua bermula. Te bukan gadis kesepian, ia gadis yang ceria dengan caranya sendiri. Te bukan seorang pengkhayal atau apapun. Ia cenderung realistis, dan senang berbagi. Ia punya sedikit teman tapi anehnya ia punya banyak sahabat. Ini semua bermula, karena Tuhan, lalu begitu pun akhirnya, ini berakhir pula karna Tuhan.
Tak kurang dari 3 tahun lamanya Te merasakan hangatnya mentari begitu hangat. Indahnya dunia begitu indah, dan merahnya merah begitu merah. Sebelum semua itu dihadapkan pada perbedaan yang begitu mendasar. Selayaknya putih dan hitam, siang dan malam, lalu air dan api. Mereka ada, berbeda, tapi mereka satu.
Te, tak pernah mengeluh akan apa yang telah ia dapat. Ia selalu saja merasa cukup, seperti cukup untuk mencintai satu orang saja. Analogikan saja dengan hidupmu sendiri, saat kau menerima yang cukup pantas untuk dirimu sendiri, apa yang akan kau lakukan. Merasa cukup, pasti. Merasa bersyukur, harus. Merasa kau rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya, itulah pertanyaannya. Sejak kapan kau jatuh dan rela melakukan apa saja kapan saja dan dimana saja. Tak pernah jatuh pada waktu dan saat yang tepat. Rasa itu tumbuh, sebelum kita menyadari apa-apa.
Te, mencintai seorang laki-laki, dan memang seharusnyalah begitu. Untuk yang pertama, aku kira bukan, karna itu pasti ayahnya. Untuk yang terakhir, aku kira juga bukan, karna aku tak pandai memprediksi. Michael, tak suka makan pedas, beasiswa sejak umur 12 tahun, pandai bermain semua alat musik kecuali clarinet, kacamata minus 5, dan jam tangan swiss yang tak pernah absen dipergelangan tangan. Laki-laki ini, membuat kehidupan Te berubah, benar-benar berubah. TOTAL.
Entah apa maksud Tuhan mempertemukan mereka, untuk alasan cintakah? Saat itu Te senantiasa bersyukur bahwasanya takdir mempertemukan mereka dan membawa mereka bersama. Kehidupan mereka layaknya cerita fiksi apik yang dirancang sendiri oleh penulis kenamaan. Tidak ada lagi cerita mengenai kehidupan biasa, hanya keindahan yang menyertai kehidupan mereka. Keseharian mereka seperti sebuah skenario film dokumenter yang masuk nominasi Golden Globe, atau ajang pengahargaan bergengsi lainnya. Mulai dari beasiswa musik yang sama-sama mereka dapat, hingga perjalanan keluar negeri yang mereka nikmati bersama.
Cinta atau bukan, perasaan itu telah membuat mereka merasa sama-sama saling memiliki. Tidak akan ada Te, jika tidak ada Mike, dan tidak ada Mike jika tidak ada Te. Mereka layaknya bintang dan bulan yang saling melengkapi, atau kumbang dan bunga yang saling memiliki.
Perkenalan mereka, terjadi karena sebuah ketidaksengajaan, yaa…sebut saja itu takdir. Ris sahabat Te, secara tidak langsung adalah kerabat dekat Mike. Ayah Ris meninggal kira-kira 3 tahun yang lalu, tepat dimana Tuhan mempertemukan mereka. Memang benar apa yang selalu orang katakan, disetiap bencana pasti ada hikmah. Tapi apakah hal seperti ini bisa disebut sebagai hikmah? Apalagi Ris tidak mendapatkan keuntungan secara langsung.
Terlepas dari hikmah atau bukan, kisah mereka mulai saya bukukan hari itu. Terlalu banyak keserampangan terjadi di tengah kehidupan kita yang seharusnya damai. Jika tak ada kekuatan sekuat cinta, lalu bagaimana kita mendefinisikannya. Te dan Mike adalah orang-orang terpilih, bagaimana tidak, cinta bukan permainan, apalagi sebauh kesalahan. Dan lagi-lagi kita tak akan membicarakan siapa pemenangnya lalu siapa pencundangnya. Ya, cinta hanya begitu, begitu saja.
Banyak orang percaya bahwa apa yang telah digariskan oleh Tuhan, tak peduli apapun yang terjadi adalah yang terbaik. Tapi bisakah anda memberitahu saya barang 1 atau 2 orang yang benar-benar menggunakan teori ini dalam kehidupan mereka. Akui saja, kita memang hanya manusia biasa. Begitupun cinta, cinta itu biasa.
***
Te,
sudah selama 2 jam duduk menunggu tak bergerak di bangkunya. Tampak jelas
kegelisahan mengusiknya, bolak-balik ia mengumamkan kata-kata yang entah apa.
Dan sesekali melongok keluar kaca, tapi yang ia lihat hanya hujan dan beberapa
mobil yang lalu lalang, menghiraukan perasaanya. 3 gelas jus apel, 2 gelas air
mineral, dan segelas kopi panas, ditambah dengan satu gelas lagi air mineral
yang baru saja ia pesan.
Ia, telah membulatkan tekadnya. Apapun yang terjadi, sesulit apapun itu ia harus menghadapinya. Te tak pernah dihadapkan dengan masalah sebegini rumitnya. Apalagi jika dilihat ini semua terjadi karna sebuah kisah sederhana.
Te, yang makin kelihatan gelisah, menggigit-gigit bibirnya, kemudian membolak-balikan tangannya. Perutnya sudah penuh seluruhnya, tapi ia masih menegak segelas air putih yang baru saja diantarkan. Te, menudukkan kepalanya, hingga tak menyadari kedatangan Mike yang tanpa suara.
“Maaf aku terlambat” Mike berkata lirih, mengembalikan kesadaran Te yang telah lama lenyap. Te, mengangkat kepalanya perlahan, lebih sebagai pemastian bahwa ia tidak sedang berkhayal. Mike yang kelihatan tak kalah bingung dan gelisah, memiringkan kepalanya dan mengulangi kata-katanya. “Maaf aku terlambat” kali ini dengan suara yang agak keras.
Te, hanya tersenyum lemah, kemudian berusaha sebisa mungkin mengembalikan kesadarannya dan menahan air matanya yang hampir jatuh. Mike duduk dan tersenyum melihat Te, menurutnya Te tak terlihat seburuk yang ia kira. Te masih baik-baik saja pikirnya. Te membalas senyum Mike tipis, ketidaksanggupannya menarik seualas senyum lebar, membuat senyumnya kali ini terlihat seperti sebuah keterpaksaaan belaka.
“Maafkan aku Te” Mike menarik sebuah nafas panjang sebelum ia mengucapkan kata-kata tersebut. Te masih terdiam, terlalu takut untuk mengatakan barang sepatah kata sebagai balasan. “Ini benar-benar diluar prediksiku. Aku tau ini sulit, kita bisa melewatinya. Pasti Te”
“Apa yang mesti kita lewati?” akhirnya Te angkat bicara.
“Kita bisa meyakinkan ayahku Te, please…” Mike berkata memohon. “Jangan pojokkan aku Mike, aku tau apa yang kamu maksud dengan meyakinkan ayahmu” Te menaikkan suaranya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan Te? Apakah kamu punya jalan yang lebih baik daripada ini”
Te terdiam. Sesaat sebelum Te angkat bicara, Mike membungkam Te dengan genggaman tangannya hangat dan kata-kata yang mengalun.
“Aku tak pernah membayangkan kehilangan dirimu Te. Awalnya aku selalu saja berpikir bahwa kita ditakdirkan bersama. Tapi ini, salah apa yang pernah kita buat?” Te hanya menggeleng lemah. “Ayahhku seorang pastur Te, jika aku mengubah keyakinanku, sama saja dengan aku mencorengkan noda hitam besar di wajahnya.”
“Lalu bagaimana dengan aku Mike, jika aku mengubah keyakinanku apa yang akan kukatakan nanti pada Tuhanku. Alasan apa yang akan aku jadikan pegangan?” Te berkata lirih.
“Lalu apa? Harus beginikah akhirnya?” Mike mengajukan pertanyaan, yang terdengar lebih sebagai pernyataan. “Haruskah aku?” Te menghentikan kata-kata Mike, dan dengan keras bicara tanpa mengeluarkan air mata. “Biar aku yang memutuskan sendiri kali ini. Aku tak mau kita sama-sama meragukan apa yang sedang Tuhan kerjakan. Jika ini adalah akhir yang Ia inginkan, maka kita mesti mematuhinya” sebutir air mata menetes saat Te, mengakhiri kalimatnya.
“Percaya pada apa yang kau percaya. Sulit atau tidak ini tetap akan jadi sulit jika kau membiarkannya terus seperti ini.” Te kemudian melepaskan genggaman Mike, berdiri kemudian tersenyum tipis. “Maafkan aku Mike” Te berlari menerjang hujan dan mengabaikan teriakkan Mike.
“Te, tolong pikirkan ini baik-baik. Jangan terlalu mudah dipengaruhi emosi” Mike berlari mengejar Te, tak peduli hujan dan petir menyambar-nyambar bersahutan. Mike menarik tangan Te, dan meraihnya kedalam dekapannya yang hangat. “Jangan katakan apapun” suara Mike lemah.
“Hiduplah dengan bahagia Mike.”
“Kumohon Te, jangan, jangan seperti ini” air mata Mike menyatu dengan air hujan yang asam.
“Biarkan aku jadi bagian dari kenanganmu, ingat aku sebagai Te’mu saja. Itu sudah lebih dari cukup untukku” seulas senyum muncul saat kalimat itu diakhiri.
“Bagaimana jika aku tidak bisa Te?” Mike berkata ragu. “Aku yakin kamu pasti bisa Mike.” Te melepaskan pelukan Mike. “Jangan pernah salahkan Tuhan Mike, Ia telah begitu berbaik hati mempertemukan kita”
Ia, telah membulatkan tekadnya. Apapun yang terjadi, sesulit apapun itu ia harus menghadapinya. Te tak pernah dihadapkan dengan masalah sebegini rumitnya. Apalagi jika dilihat ini semua terjadi karna sebuah kisah sederhana.
Te, yang makin kelihatan gelisah, menggigit-gigit bibirnya, kemudian membolak-balikan tangannya. Perutnya sudah penuh seluruhnya, tapi ia masih menegak segelas air putih yang baru saja diantarkan. Te, menudukkan kepalanya, hingga tak menyadari kedatangan Mike yang tanpa suara.
“Maaf aku terlambat” Mike berkata lirih, mengembalikan kesadaran Te yang telah lama lenyap. Te, mengangkat kepalanya perlahan, lebih sebagai pemastian bahwa ia tidak sedang berkhayal. Mike yang kelihatan tak kalah bingung dan gelisah, memiringkan kepalanya dan mengulangi kata-katanya. “Maaf aku terlambat” kali ini dengan suara yang agak keras.
Te, hanya tersenyum lemah, kemudian berusaha sebisa mungkin mengembalikan kesadarannya dan menahan air matanya yang hampir jatuh. Mike duduk dan tersenyum melihat Te, menurutnya Te tak terlihat seburuk yang ia kira. Te masih baik-baik saja pikirnya. Te membalas senyum Mike tipis, ketidaksanggupannya menarik seualas senyum lebar, membuat senyumnya kali ini terlihat seperti sebuah keterpaksaaan belaka.
“Maafkan aku Te” Mike menarik sebuah nafas panjang sebelum ia mengucapkan kata-kata tersebut. Te masih terdiam, terlalu takut untuk mengatakan barang sepatah kata sebagai balasan. “Ini benar-benar diluar prediksiku. Aku tau ini sulit, kita bisa melewatinya. Pasti Te”
“Apa yang mesti kita lewati?” akhirnya Te angkat bicara.
“Kita bisa meyakinkan ayahku Te, please…” Mike berkata memohon. “Jangan pojokkan aku Mike, aku tau apa yang kamu maksud dengan meyakinkan ayahmu” Te menaikkan suaranya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan Te? Apakah kamu punya jalan yang lebih baik daripada ini”
Te terdiam. Sesaat sebelum Te angkat bicara, Mike membungkam Te dengan genggaman tangannya hangat dan kata-kata yang mengalun.
“Aku tak pernah membayangkan kehilangan dirimu Te. Awalnya aku selalu saja berpikir bahwa kita ditakdirkan bersama. Tapi ini, salah apa yang pernah kita buat?” Te hanya menggeleng lemah. “Ayahhku seorang pastur Te, jika aku mengubah keyakinanku, sama saja dengan aku mencorengkan noda hitam besar di wajahnya.”
“Lalu bagaimana dengan aku Mike, jika aku mengubah keyakinanku apa yang akan kukatakan nanti pada Tuhanku. Alasan apa yang akan aku jadikan pegangan?” Te berkata lirih.
“Lalu apa? Harus beginikah akhirnya?” Mike mengajukan pertanyaan, yang terdengar lebih sebagai pernyataan. “Haruskah aku?” Te menghentikan kata-kata Mike, dan dengan keras bicara tanpa mengeluarkan air mata. “Biar aku yang memutuskan sendiri kali ini. Aku tak mau kita sama-sama meragukan apa yang sedang Tuhan kerjakan. Jika ini adalah akhir yang Ia inginkan, maka kita mesti mematuhinya” sebutir air mata menetes saat Te, mengakhiri kalimatnya.
“Percaya pada apa yang kau percaya. Sulit atau tidak ini tetap akan jadi sulit jika kau membiarkannya terus seperti ini.” Te kemudian melepaskan genggaman Mike, berdiri kemudian tersenyum tipis. “Maafkan aku Mike” Te berlari menerjang hujan dan mengabaikan teriakkan Mike.
“Te, tolong pikirkan ini baik-baik. Jangan terlalu mudah dipengaruhi emosi” Mike berlari mengejar Te, tak peduli hujan dan petir menyambar-nyambar bersahutan. Mike menarik tangan Te, dan meraihnya kedalam dekapannya yang hangat. “Jangan katakan apapun” suara Mike lemah.
“Hiduplah dengan bahagia Mike.”
“Kumohon Te, jangan, jangan seperti ini” air mata Mike menyatu dengan air hujan yang asam.
“Biarkan aku jadi bagian dari kenanganmu, ingat aku sebagai Te’mu saja. Itu sudah lebih dari cukup untukku” seulas senyum muncul saat kalimat itu diakhiri.
“Bagaimana jika aku tidak bisa Te?” Mike berkata ragu. “Aku yakin kamu pasti bisa Mike.” Te melepaskan pelukan Mike. “Jangan pernah salahkan Tuhan Mike, Ia telah begitu berbaik hati mempertemukan kita”
***
Cinta atau bukan, hal itu telah membawa Te pada klimaks kehidupannya. Ia selalu saja berpikir bahwa ini tidak akan bisa jadi lebih sulit lagi daripada ini. Tapi nyatanya makin hari justru terlihat makin sulit. Setelah memutuskan untuk menghadiri pernikahan Mike, dengan gadis pilihan orang tuanya. Te makin terlihat kacau. Ia mencoba untuk tidak berpikir apa sebenarnya alasan Tuhan mempertemukan meraka berdua. Tapi semakin ia mencoba pertanyaan itu makin bertambah besar. Bukankah akan lebih mudah jika Tuhan tak pernah mempertemukan mereka berdua. Mereka tak pernah bertemu, tak ada cinta, tak ada ujian, maka tak pernah ada perpisahan.
Adakah kalimat yang lebih pantas kiranya untuk mengatakan betapa indahnya sebuah pertemuan. Te tenggelam dalam kesedihannya sendiri seolah ia punya terlalu sedikit untuk dibagi, dan terlalu banyak untuk disimpan sendiri. Ia masih saja menganggap pertemuannya dengan Mike adalah sebuah anugerah. Tuhan terlalu baik terhadapnya selama ini, jadi ia tak pernah ingin mengecewakan Tuhan.
Perbedaan ini membuat mereka begitu berjarak, ada ribuan kilo sungai terhampar diantara mereka, dan ratusan jurang yang menjadikan penghalang. Bagaimana bisa Tuhan yang notabenenya hanya ada satu, bisa begini dijadikan perbedaan. Apa yang terjadi pada hidup belakangan ini.
Te meminta Mike untuk hidup bahagia, dengan catatan ia menderita. Beginikah yang dinamakan keadilan? Secara tidak langsung Te telah meragukan keimanannya sendiri. Jika ia menentukan sebuah pilihan, apapun itu, tidak ada dua pilihan anatara bahagia atau tidak. Hanya ada satu kemungkinan yang bisa ia dapatkan. Bahagia adalah satu-satunya kemungkinan.
Jean, berulang kali mengatakan hal yang sama tapi Te lagi-lagi hanya menggumamkan kata-kata yang tak jelas apa. “Kau juga harus bahagia Te” Jean hendak bangun dari duduknya. Sesaat sebelum Te kemudian bicara “Apakah aku telah meragukan-Nya Jean?” Te berkata pelan.
“Jika kau ingin jawaban jujur, kau sudah tau sendiri apa jawabannya Te”
“Kalau begitu aku bersedia” Te menoleh, dan mendapati kakaknya yang baru saja ingin pergi.
“Bersedia? Apa?” Jean terlihat bingung. “Katakan pada Ris, aku bersedia”
“Bersedia untuk menikah dengannya maksudmu?” Jean berkata kaget, hingga hampir tersandung kakinya sendiri. “Aku akan bahagia bersama Ris, bukan? Maka katakanlah padanya aku bersedia.”
Bahagia atau tidak, hal ini sungguh tergantung bagaimana kita menyikapi hal ini sendiri. Takdir memang telah digariskan. Tapi ingat Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, buka apa yang kita inginkan.
Te, Mike, Ris, cinta mereka nyata, cinta mereka hidup. Tapi Te memilih mengenangnya dalam bentuk yang berbeda. Karena seyogyanya cinta membawa kita kedalam kebagahagian, apapun bentuknya.
Cinta atau bukan, hal itu telah membawa Te pada klimaks kehidupannya. Ia selalu saja berpikir bahwa ini tidak akan bisa jadi lebih sulit lagi daripada ini. Tapi nyatanya makin hari justru terlihat makin sulit. Setelah memutuskan untuk menghadiri pernikahan Mike, dengan gadis pilihan orang tuanya. Te makin terlihat kacau. Ia mencoba untuk tidak berpikir apa sebenarnya alasan Tuhan mempertemukan meraka berdua. Tapi semakin ia mencoba pertanyaan itu makin bertambah besar. Bukankah akan lebih mudah jika Tuhan tak pernah mempertemukan mereka berdua. Mereka tak pernah bertemu, tak ada cinta, tak ada ujian, maka tak pernah ada perpisahan.
Adakah kalimat yang lebih pantas kiranya untuk mengatakan betapa indahnya sebuah pertemuan. Te tenggelam dalam kesedihannya sendiri seolah ia punya terlalu sedikit untuk dibagi, dan terlalu banyak untuk disimpan sendiri. Ia masih saja menganggap pertemuannya dengan Mike adalah sebuah anugerah. Tuhan terlalu baik terhadapnya selama ini, jadi ia tak pernah ingin mengecewakan Tuhan.
Perbedaan ini membuat mereka begitu berjarak, ada ribuan kilo sungai terhampar diantara mereka, dan ratusan jurang yang menjadikan penghalang. Bagaimana bisa Tuhan yang notabenenya hanya ada satu, bisa begini dijadikan perbedaan. Apa yang terjadi pada hidup belakangan ini.
Te meminta Mike untuk hidup bahagia, dengan catatan ia menderita. Beginikah yang dinamakan keadilan? Secara tidak langsung Te telah meragukan keimanannya sendiri. Jika ia menentukan sebuah pilihan, apapun itu, tidak ada dua pilihan anatara bahagia atau tidak. Hanya ada satu kemungkinan yang bisa ia dapatkan. Bahagia adalah satu-satunya kemungkinan.
Jean, berulang kali mengatakan hal yang sama tapi Te lagi-lagi hanya menggumamkan kata-kata yang tak jelas apa. “Kau juga harus bahagia Te” Jean hendak bangun dari duduknya. Sesaat sebelum Te kemudian bicara “Apakah aku telah meragukan-Nya Jean?” Te berkata pelan.
“Jika kau ingin jawaban jujur, kau sudah tau sendiri apa jawabannya Te”
“Kalau begitu aku bersedia” Te menoleh, dan mendapati kakaknya yang baru saja ingin pergi.
“Bersedia? Apa?” Jean terlihat bingung. “Katakan pada Ris, aku bersedia”
“Bersedia untuk menikah dengannya maksudmu?” Jean berkata kaget, hingga hampir tersandung kakinya sendiri. “Aku akan bahagia bersama Ris, bukan? Maka katakanlah padanya aku bersedia.”
Bahagia atau tidak, hal ini sungguh tergantung bagaimana kita menyikapi hal ini sendiri. Takdir memang telah digariskan. Tapi ingat Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, buka apa yang kita inginkan.
Te, Mike, Ris, cinta mereka nyata, cinta mereka hidup. Tapi Te memilih mengenangnya dalam bentuk yang berbeda. Karena seyogyanya cinta membawa kita kedalam kebagahagian, apapun bentuknya.

hmm.. baru baca nih
ReplyDeletejadi inget pertanyaan pas SosAct.. apa itu cinta?
ah, mungkin gw memandang cinta terlalu simpel.
cinta datang dan pergi, cinta yang pergi akan ada yang menggantikan, bukan? so, why so serious? haha.. yah begitulah, feel-nya memang beda. but, life must go on.. meskipun dengan orang yang tak sama, hidup harus tetap berjalan :)
oh ya, ini sudut pandang pake orang ketiga atau kesatu ya? kyknya agak kecampur deh.
di paragraf 3 ada kata "aku".
anyway, lu cocok banget jadi cerpenis. gaya bahasa tulisan lo keren banget!!! two thumb up for you :D