Saturday, September 29, 2012


A Person Behind Me 




Aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku harus menyelesaikan surat ini sebelum keberangkatanku ke Belgia besok pagi. Mak telah membalas surat permohonanku yang ke 19 kalinya dengan kata tidak, yang begitu jelas, lugas, dan tegas,  walaupun itu tak pernah tertulis secara jelas disana. Sudah seminggu surat itu aku biarkan rapat dengan perekatnya disamping mesin fax, dan tak pernah kusentuh lagi semenjak kuambil dari tukang pos berparas lusuh, yang kebetulan saja kutemui sebelum masuk rumah tepat seminggu yang lalu. Ya, aku akui saja, aku memang kesal dengan Mak, yang mati-matian menolak tawaranku yang tulus itu.
            
Aku memang telah berjanji, paling tidak aku akan mengiriminya surat dengan perangko Perancis seperti biasa, dan bukannya Belgia. Tapi hari ini tak kusangka teman-teman sekantorku membuat kejutan dan pesta kecil-kecilan untuk mengenang pertemanan kami, selama jadi rekan kantor yang pahit manisnya telah kami telan bersama. Aku tak pernah menyangka, aku akan diterima begini baiknya dengan kaum inividualis eropa yang layaknya robot dari abad 22.      

Kami tertawa bersama, memutar The Notebook, film romantis favorit kami. Yang entah apakah ini adalah yang ke 2354 kali kami menontonnya atau 3254 kali. Seperti biasa, mereka tau siapa aku. Tidak ada beer, wine, sampanye atau semacamnya. Hanya ada sekitar limabelasan kaleng soda murahan. Entah karena mereka menghormatiku sebagai seorang muslim, atau karena mereka tak mau merogoh kantong dalam-dalam untuk memberikan pesta perpisahan sederhana, bagi orang asing yang terlalu banyak aturannya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.

Aku baru sampai pukul 1:47 malam dirumah, jam digital disamping pigura yang memberitahuku. Sebelum masuk kekamarku, lebih dulu aku masuk kekamar malaikat kecilku, mengecup keningnya dan berlalu tanpa menimbulkan suara bising. Suamiku tidur tertelungkup, terlalu lelah untuk menyadari kedatanganku yang bagai hantu keluyuran pada pukul 1:47 malam. Sekedar informasi aku juga mencium keningnya.

Belum sempat aku menghela nafas panjang, kulepaskan mantel lima lapisku, dan duduk dengan gusar di bangku, mengambil selembar kertas dan ballpoint biru dari tas suamiku. Aku mulai menulis.

Paris, 15 Desember 2007
Untuk Mak tercinta
Hai Mak, maaf aku terlambat membalas suratmu yang terakhir. Brian benar-benar merepotkan, ia demam beberapa hari lalu. Ditambah Alex, yang memiliki masalah dengan beberapa rekan kerjanya di kantor. Aku berusaha untuk membalas surat ini secepatnya,tapi ternyata ada beberapa deadline yang harus kukerjakan sebelum tenggat waktunya habis kemarin lusa.
Mak, sebelum aku pura-pura mengerti, atas alasan mengapa Mak tak pernah mau tinggal bersamaku. Aku ingin meminta untuk yang ke-20 kalinya, dan mungkin yang terakhir kalinya. “Mak maukah kau tinggal bersama aku, Alex, dan Brian ? ” Yah aku tahu sebenarnya ini sia-sia, karena Mak tetap akan menolaknya. Tapi sungguh Mak, hatiku sebenernya tercabik, membaca 19 surat penolakan Mak. Dan harus menggelengkan kepalaku, kepada Alex, tanda Mak tak mau tinggal bersama kami, hingga tak perlulah Alex repot-repot mentransletkan tulisan cakar ayam Mak kedalam bahasa Perancis.
Mak aku tahu betapa beratnya Mak, meninggalkan tanah kelahiran Mak, tempat Mak dibesarkan. Tapi tahukah Mak, aku kangen Mak, aku ingin lihat Mak lagi, menyemangitiku, tersenyum untukku, bahkan menangis diam-diam ditengah malam untukku, berdoa dan menyebut namaku.
Aku tahu betul Mak, sekolah tak pernah bisa Mak tinggalkan. Di kesembilan belas surat Mak, tertulis disana dengan jelas. “Sekolah lebih butuh Mak sekarang, guru-guru muda semuanya sudah pindah ke kota, gajinya lebih besar disana”. Aku paham betul Mak, karena dulu aku juga disana, aku ingat gaji Mak yang hanya Rp 25.000,- dan harus cukup untuk makan 2 bulan. Aku ingat betul Mak, beberapa temanku tanpa alas kaki datang kesekolah, baju mereka lecak tak tertriska, dan tangan mereka kasar, habis memcahkan batu kali yang 3 kali lebih besar daripada mereka. Kami duduk berempat satu meja, sikut kamu beradu, hingga tak jarang aku mengalah dan mengerjakan tugasku dilantai.
Ribuan anak buruh tani, pemecah batu, bahkan yatim piatu seperti aku, telah kau rajang dan kau asah. Dalam kata-katamu yang lembut waktu itu “Yakinlah nak, maka kamu akan mendapatkannya” dan tahukah Mak, aku begitu yakin saat itu, aku belajar siang malam, pagi sore, berharap sehari ada 27 jam. Hingga beasiswa ini aku raih dengan keringat dan darah, bukan hanya aku tapi Mak juga.
Mak tahu apa cita-citaku dulu? Aku hanya ingin menjadi guru layaknya Mak, guru yang ikhlas dibayar atau tidak. Dicaci atau dimaki orang kampung, dan yang digedor rumahnya oleh seoarang asing yang membawa parang ditangannya, bilang kalau anaknya menangis dipaksa belajar membaca. Aku ingin menjadi seperti Mak.
Aku berhutamg banyak pada Mak, aku ingat waktu itu, anak kurus kering dengan lebam ditubuhnya, dipaksa pamannya memecahkan batu yang berkali-kali lebih besar dari tubuhunya. Menangis didepan pintu rumah Mak. Mak yang kasihan  membawanya masuk dan tanpa pikir panjang, menjadikan anak itu sebagai anak Mak.
Mak tahukah kalau aku letih, aku hanya meminta dan berdoa menjadi seorang guru gaji rendahan layaknya Mak, tapi malahan jadi seorang koresponden dan penulis terkenal di negeri orang. Doaku yang kelewat manjur, atau malaikat yang salah menyampaikan kepada Tuhan. Semua orang disini bertanya, siapakah dia? Orang yang berada tepat dibelakangku. Dan dengan perasaan yang hancur berantakan harus ku katakan tidak ada. Orang tuaku telah lama mati, dan aku telah lama pula hidup sendiri. Seperti janjiku pada Mak, aku tak pernah menyebutkan nama Mak, kecuali pada suami dan anakku.
Jam weker mengagetkanku pukul 04:30 pagi, aku harus segera menyelesaikan surat ini. Mak, sebenarnya aku berpindah kantor lagi, kini ke sebuah stasiun televisi besar, dan aku akan berpidato didepan rekan kerja baruku yang haus pertanyaan besok pagi. Entahlah Mak, izinkan aku melanngar perjanjian ini sekali saja. Anggap saja ini adalah obat sakit hatiku atas semua penolakkan Mak.
Aku cinta Mak.
            Anakmu tercinta
Azizah


Aku terbang dengan pesawat paling pagi hari ini, bersama Alex dan Brian, dua malaikat pelindungku. Kami menempati apartement mewah di Belgia, dan membuat beberpa kue jahe, sebagai perkenalan baik dari tetangga baru.

Rekan-rekan kantorku, mengenal dengan fasih siapa aku. Bahkan beberapa orang yang berpapasn denganku tanpa malu-malu mendatangiku dan meminta tanda tanganku. Saat pidato sederhanaku kusampaikan, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang kukenali sebagai pendana dari banyak buku yang telah kuterbitkan bertanya dengan lantangnya, “Ayoo, Azi beritahu kami, siapa dia orang yang berada tepat dibelakangmu?” Dan tahukah kalian apa jawabanku.

“Sebelumnya aku selalu saja berkata tak ada. Tapi untuk sekali ini aku akan melanggar janjiku. Aku Azizah datang dari daerah terpencil dipelosok Indonesia, memang adalah seorang anak yatim piatu sejak lahir. Tapi kalian benar aku memang memiliki seseorang yang tepat berdiri dibelakangku. Dia seoarang wanita luar biasa, seorang guru dengan gaji seadanya, tak buta dengan gemerlap kehidupan dunia, tersenyum dalam pilunya, dan yang menangis dalam doanya. Ia adalah wanita inspiratif, pembentuk ribuan karakter manusia. Ia adalah Mak’ku” Hanya tepuk tangan riuh yang kudengar setelah kalimat itu ku akhiri. Tapi aku tahu jauh disana, masih dipelosok Indonesia, tepuk riuh itu tak jauh berbeda dengan suara perut Mak, atau gemerincing batu kali yang baru saja dipecahkan oleh anak-anak usia belasan.
            

Mak maafkan aku, aku melanggar janjiku. 


Created by: Syapira

No comments:

Post a Comment