A Person Behind Me
Aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku
harus menyelesaikan surat ini sebelum keberangkatanku ke Belgia besok pagi. Mak
telah membalas surat permohonanku yang ke 19 kalinya dengan kata tidak, yang
begitu jelas, lugas, dan tegas, walaupun
itu tak pernah tertulis secara jelas disana. Sudah seminggu surat itu aku
biarkan rapat dengan perekatnya disamping mesin fax, dan tak pernah kusentuh
lagi semenjak kuambil dari tukang pos berparas lusuh, yang kebetulan saja
kutemui sebelum masuk rumah tepat seminggu yang lalu. Ya, aku akui saja, aku
memang kesal dengan Mak, yang mati-matian menolak tawaranku yang tulus itu.
Aku memang telah berjanji, paling
tidak aku akan mengiriminya surat dengan perangko Perancis seperti biasa, dan
bukannya Belgia. Tapi hari ini tak kusangka teman-teman sekantorku membuat kejutan
dan pesta kecil-kecilan untuk mengenang pertemanan kami, selama jadi rekan
kantor yang pahit manisnya telah kami telan bersama. Aku tak pernah menyangka,
aku akan diterima begini baiknya dengan kaum inividualis eropa yang layaknya
robot dari abad 22.
Kami
tertawa bersama, memutar The Notebook, film romantis favorit kami. Yang entah
apakah ini adalah yang ke 2354 kali kami menontonnya atau 3254 kali. Seperti
biasa, mereka tau siapa aku. Tidak ada beer, wine, sampanye atau semacamnya.
Hanya ada sekitar limabelasan kaleng soda murahan. Entah karena mereka
menghormatiku sebagai seorang muslim, atau karena mereka tak mau merogoh
kantong dalam-dalam untuk memberikan pesta perpisahan sederhana, bagi orang
asing yang terlalu banyak aturannya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.
Aku baru sampai pukul 1:47 malam
dirumah, jam digital disamping pigura yang memberitahuku. Sebelum masuk
kekamarku, lebih dulu aku masuk kekamar malaikat kecilku, mengecup keningnya
dan berlalu tanpa menimbulkan suara bising. Suamiku tidur tertelungkup, terlalu
lelah untuk menyadari kedatanganku yang bagai hantu keluyuran pada pukul 1:47
malam. Sekedar informasi aku juga mencium keningnya.
Belum sempat aku menghela nafas panjang,
kulepaskan mantel lima lapisku, dan duduk dengan gusar di bangku, mengambil
selembar kertas dan ballpoint biru dari tas suamiku. Aku mulai menulis.
Paris, 15 Desember 2007
Untuk Mak tercinta
Hai Mak, maaf aku
terlambat membalas suratmu yang terakhir. Brian benar-benar merepotkan, ia
demam beberapa hari lalu. Ditambah Alex, yang memiliki masalah dengan beberapa
rekan kerjanya di kantor. Aku berusaha untuk membalas surat ini secepatnya,tapi
ternyata ada beberapa deadline yang harus kukerjakan sebelum tenggat waktunya
habis kemarin lusa.
Mak, sebelum aku
pura-pura mengerti, atas alasan mengapa Mak tak pernah mau tinggal bersamaku.
Aku ingin meminta untuk yang ke-20 kalinya, dan mungkin yang terakhir kalinya.
“Mak maukah kau tinggal bersama aku, Alex, dan Brian ? ” Yah aku tahu
sebenarnya ini sia-sia, karena Mak tetap akan menolaknya. Tapi sungguh Mak,
hatiku sebenernya tercabik, membaca 19 surat penolakan Mak. Dan harus
menggelengkan kepalaku, kepada Alex, tanda Mak tak mau tinggal bersama kami,
hingga tak perlulah Alex repot-repot mentransletkan tulisan cakar ayam Mak
kedalam bahasa Perancis.
Mak aku tahu betapa
beratnya Mak, meninggalkan tanah kelahiran Mak, tempat Mak dibesarkan. Tapi
tahukah Mak, aku kangen Mak, aku ingin lihat Mak lagi, menyemangitiku,
tersenyum untukku, bahkan menangis diam-diam ditengah malam untukku, berdoa dan
menyebut namaku.
Aku tahu betul Mak,
sekolah tak pernah bisa Mak tinggalkan. Di kesembilan belas surat Mak, tertulis
disana dengan jelas. “Sekolah lebih butuh Mak sekarang, guru-guru muda semuanya
sudah pindah ke kota, gajinya lebih besar disana”. Aku paham betul Mak, karena
dulu aku juga disana, aku ingat gaji Mak yang hanya Rp 25.000,- dan harus cukup
untuk makan 2 bulan. Aku ingat betul Mak, beberapa temanku tanpa alas kaki
datang kesekolah, baju mereka lecak tak tertriska, dan tangan mereka kasar,
habis memcahkan batu kali yang 3 kali lebih besar daripada mereka. Kami duduk
berempat satu meja, sikut kamu beradu, hingga tak jarang aku mengalah dan
mengerjakan tugasku dilantai.
Ribuan anak buruh tani,
pemecah batu, bahkan yatim piatu seperti aku, telah kau rajang dan kau asah.
Dalam kata-katamu yang lembut waktu itu “Yakinlah nak, maka kamu akan
mendapatkannya” dan tahukah Mak, aku begitu yakin saat itu, aku belajar siang
malam, pagi sore, berharap sehari ada 27 jam. Hingga beasiswa ini aku raih
dengan keringat dan darah, bukan hanya aku tapi Mak juga.
Mak tahu apa
cita-citaku dulu? Aku hanya ingin menjadi guru layaknya Mak, guru yang ikhlas
dibayar atau tidak. Dicaci atau dimaki orang kampung, dan yang digedor rumahnya
oleh seoarang asing yang membawa parang ditangannya, bilang kalau anaknya
menangis dipaksa belajar membaca. Aku ingin menjadi seperti Mak.
Aku berhutamg banyak
pada Mak, aku ingat waktu itu, anak kurus kering dengan lebam ditubuhnya,
dipaksa pamannya memecahkan batu yang berkali-kali lebih besar dari tubuhunya.
Menangis didepan pintu rumah Mak. Mak yang kasihan membawanya masuk dan tanpa pikir panjang,
menjadikan anak itu sebagai anak Mak.
Mak tahukah kalau aku letih,
aku hanya meminta dan berdoa menjadi seorang guru gaji rendahan layaknya Mak,
tapi malahan jadi seorang koresponden dan penulis terkenal di negeri orang.
Doaku yang kelewat manjur, atau malaikat yang salah menyampaikan kepada Tuhan.
Semua orang disini bertanya, siapakah dia? Orang yang berada tepat
dibelakangku. Dan dengan perasaan yang hancur berantakan harus ku katakan tidak
ada. Orang tuaku telah lama mati, dan aku telah lama pula hidup sendiri.
Seperti janjiku pada Mak, aku tak pernah menyebutkan nama Mak, kecuali pada
suami dan anakku.
Jam weker mengagetkanku
pukul 04:30 pagi, aku harus segera menyelesaikan surat ini. Mak, sebenarnya aku
berpindah kantor lagi, kini ke sebuah stasiun televisi besar, dan aku akan
berpidato didepan rekan kerja baruku yang haus pertanyaan besok pagi. Entahlah
Mak, izinkan aku melanngar perjanjian ini sekali saja. Anggap saja ini adalah
obat sakit hatiku atas semua penolakkan Mak.
Aku cinta Mak.
Anakmu tercinta
Azizah
Aku
terbang dengan pesawat paling pagi hari ini, bersama Alex dan Brian, dua
malaikat pelindungku. Kami menempati apartement mewah di Belgia, dan membuat
beberpa kue jahe, sebagai perkenalan baik dari tetangga baru.
Rekan-rekan kantorku, mengenal
dengan fasih siapa aku. Bahkan beberapa orang yang berpapasn denganku tanpa
malu-malu mendatangiku dan meminta tanda tanganku. Saat pidato sederhanaku
kusampaikan, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang kukenali sebagai pendana
dari banyak buku yang telah kuterbitkan bertanya dengan lantangnya, “Ayoo, Azi
beritahu kami, siapa dia orang yang berada tepat dibelakangmu?” Dan tahukah
kalian apa jawabanku.
“Sebelumnya aku selalu saja berkata
tak ada. Tapi untuk sekali ini aku akan melanggar janjiku. Aku Azizah datang
dari daerah terpencil dipelosok Indonesia, memang adalah seorang anak yatim
piatu sejak lahir. Tapi kalian benar aku memang memiliki seseorang yang tepat
berdiri dibelakangku. Dia seoarang wanita luar biasa, seorang guru dengan gaji
seadanya, tak buta dengan gemerlap kehidupan dunia, tersenyum dalam pilunya,
dan yang menangis dalam doanya. Ia adalah wanita inspiratif, pembentuk ribuan
karakter manusia. Ia adalah Mak’ku” Hanya tepuk tangan riuh yang kudengar
setelah kalimat itu ku akhiri. Tapi aku tahu jauh disana, masih dipelosok
Indonesia, tepuk riuh itu tak jauh berbeda dengan suara perut Mak, atau
gemerincing batu kali yang baru saja dipecahkan oleh anak-anak usia belasan.
Mak maafkan aku, aku melanggar
janjiku.
Created by: Syapira
Created by: Syapira

No comments:
Post a Comment