Pelita dan Keegoisan Manusia
Suara
bising, teriakkan, tangisan, ocehan tak jelas, dan entah suara pesawat, kereta
atau roket hancur yang mereka peragakan. Kini aku tak pernah lagi terganggu,
entah karena terpaksa hingga membuat aku menerima kenyataan aku terjebak dalam
realita yang entah indah atau tidak. Atau malah karena sebenarnya aku menyukai
semua itu, suara-suara itu, tangisan-tangisan itu atau teriakkan-teriakkan itu.
Aku
masih ingat, ketika itu, kebanyakan dari mereka datang dengan airmata dan keputus
asaan. Maksudku bukan mereka, tapi orang tua mereka. Mereka bercerita mengenai
hadiah mereka masing-masing, bagaimana hadiah-hadiah ini menimbulkan keputus
asaan dalam kehidupan mereka. Bagaimana hadiah-hadiah ini membuat hidup mereka
berantakan, menghadirkan perceraian hingga penderitaan. Bahkan beberapa dari
mereka datang kepadaku dalam keadaan yang parah. Frustasi, sudah pasti dan
beberapa hampir bunuh diri. Aku bertanya pada mereka saat itu, apakah
hadiah-hadiah ini penyebabnya? Atau keegoisan merekalah yang menjadi
penyebabnya?
7
tahun yang lalu, dari sanalah semua ini bermula. Mahasiswa ekonomi semester
akhir yang frustasi, dan hampir bunuh diri. Bagaimana tidak, tinggal dirumah
tua peninggalan warisan kakek nenek yang sudah lama menjadi tulang belulang,
atau mungkin telah rata dengan tanah. Tinggal bersama orang tua tunggal tanpa
kasih sayang seorang ayah, jauh sebelum aku dapat mengucapkan kata pertamaku.
Hidup dari usaha catering kecil-kecilan yang lebih sering kurang daripada
cukupnya. Ditambah aku harus tinggal bersama saudara laki-laki yang tak mirip
manusia.
Aku
seringkali bertanya pada ibu, bagaimana ibu bisa merasa senang dan bahagia
hidup dengan manusia yang tak mirip manusia itu. Ibu hanya menjawab, ia hadiah dari Allah untuk ibu.
Hah… waktu itu aku hanya berpikir, apa lagi yang dimaksud orang dengan
kebahagiaan ada di dalam kebijaksanaan. Ibu memang bijaksana bisa dibilang
begitu, tapi kalau bahagia entahlah, mungkin ibu bahagia tapi tidak dengan aku
saat itu.
Laki-laki
aneh ini 2 kali besarnya dibanding aku dan ibu, kulitnya sawo matang, matanya
hitam, bulat, dan besar, seperti melotot setiap saat. Tangan-tangannya kasar,
entah karna apa. Bibirnya kering dan sedikit hitam. Tapi rambutnya hitam,
halus, dan lembut, bak bintang iklan produk sampo ternama. Aku tak pernah
menganggapnya manusia, karena memang ia tak mirip manusia. Gaya bicaranya aneh,
lebih mirip suara decit sepatu boot tua, dan aku tak bisa mengerti apa yang ia
katakan. Gaya berjalannya juga aneh, kaki-kakinya tidak pernah melangkah
bersamaan, layaknya perompak laut karibian yang terkena ledakan meriam tepat di
kakinya, hingga harus menggunakan kaki besi berat yang berkarat.
Keseharian
yang aneh, satu demi satu tradisi nyentrik tanpa alpa muncul setiap pagi. Mas
Andri akan mengetuk setiap pintu, pintu kamar mandi sekalipun, 3 kali pada
pukul 5 pagi, 2 kali pada pukul 12 siang tepat, dan 1 kali setiap pukul 6 sore.
Ia akan menutup semua pintu dan mengetuknya tanpa maksud yang jelas. Menyusun
sikat gigi berdasarkan bulu sikat yang paling halus ke yang paling kasar.
Ditambah dengan susunan sandal yang diurutkan berdasarkan degradasi warna yang
sempurna, jika ada sepasang sandal yang tiba-tiba saja muncul di halaman, Mas
Andri akan menyusunnya dari awal, dan tak lupa tetap dengan degradasi warna
yang terlampau sempurna.
Itu
sungguh belum apa-apa, Mas Andri tidak akan makan jika tanpa sepasang sendok
dan garpu kodok hijau tua, kesayangannya. Pernah karena kesal, aku
menyembunyikan sendok dan garpu kesayangannya itu. Bagaimana tidak satu-satunya
temanku selama kuliah, berkunjung kerumah, memindahkan sandal degradasi
warnanya. Dan tiba-tiba saja Mas Andri datang dan berteriak menjabak rambut
temanku dan mendorongnya menyingkir dari sandal-sandalnya itu. Dan dengan asyik
kembali menyusun sandal-sandalnya, tanpa peduli apa yang baru saja ia perbuat
dalam hidupku. Temanku yang ketakutan, menyangka kakakku itu sakit jiwa atau
semacamnya. Berlari dan menangis tanpa pernah sekalipun menoleh pada diriku
lagi.
Aku
yang begitu meluap-luap amarahnya saat itu, tanpa pikir panjang memberantakan
hasil kerjanya, mengacak-acak sandal-sandal degradasi warna miliknya.
Memakinya, meneriakinya, dan sesekali memukulnya. Aku tahu percuma saja aku
melakukan itu padanya, makianku tak akan pernah di mengertinya, teriakkanku
mungkin hanya angin lalu baginya, dan air mataku mungkin hanya tetesan air
hujan yang setia menemaninya. Aku kalap. Tapi ia berdiri tak bergeming
menatapku lurus jauh kedalam batinku yang telah lama koyak. Yang telah lama
mati, hidup ini hanya retorika bagiku, kata-kata yang kau keluarkan tanpa cela.
Dimana orang tak bisa seenaknya saja memotong hidupmu. Sela diantara kata,
hanya udara kering bagiku, yang memberiku ruang untuk sekedar menarik
nafas-nafas pendek, melemaskan sarafku yang kejang, dan menyadari, lagi-lagi
hidup tak lebih dari sebuah retorika belaka.
Aku
tak mengerti hadiah apa yang dimaksud ibu. Ia mengacak-acak rumah mencari
sendok kodoknya itu, aku disudut ruangan, mencoba mengalihkan tatapanku, dan pikiranku
darinya. Dari monster yang entah darimana asalnya. Kesal dengan diriku sendiri,
akhirnya kukembalikan sendok itu, tanpa perasaan bersalah, dan membiarkan ibu
yang mengurusnya setelah itu.
Ibu
tak pernah lelah biacara padaku, untuk menerima kakakku yang seperti monster
itu dengan keikhalasan. Tapi saat itu, aku sungguh tak bisa, aku sungguh tak
mampu menerima kenyataan. Bahwa ibuku yang bijaksana ini, yang tak pernah putus
sholatnya ini adalah mantan pecandu narkoba, ibu hamil diluar nikah, menikah
dengan ayah diusianya yang muda belia, melahirkan monster tak keruan ini.
Hingga dua tahun kemudian lahirlah aku, bayi kecil yang tak pernah minta untuk
dilahirkan. Ayah meninggalkan kami, menikah lagi dengan mantan pacarnya selagi
SMA dulu, lalu kini hilang tak ketahuan rimbanya.
Entah
apa yang aku pikirkan saat itu, rasa egois telah mengusai setiap inchi dalam
tubuhku, sel-sel mitokondriaku dikendalikan layaknya boneka sirkus yang
senantiasa menurut pada tuannya yang kejam, dengan pecut ditangan dan hati yang
kering kerontang dari cinta.
Tapi
selalu saja ada ruang, disini, tepat dihatiku yang kehilangan penghuninya. Yang
meronta menangis dan memberontak, yang anehnya ingin saja mengakui dengan mudah
bahwa Andri Asnarta Yusuf adalah kakakku, kakakku yang normal yang sama sekali
tak ada bedanya dengan orang kebanyakan. Aku ingin saja mengakui bahwa
laki-laki monster itu adalah alasan kedua aku masih ada di dunia saat ini
sekarang. Tak peduli dengan ketukan pintunya, sikat gigi halusnya, atau sandal-sandal
degradasi warnanya. Bahwa jauh didasar hatiku aku mencintainya, tak peduli apa
kata orang tentangnya entah itu gila, idiot, cacat. Tak peduli kata dokter
tentang down syndrome, atau apalah lagi istilahnya yang lainnya.
Ibuku,
wanita itu pembangun dan penguat hidupku. Membangun kembali puing-puing hidupku
yang hancur berantakan saat itu. Mas ku yang berdiri sebagai tiang penguatnya
yang entah mengapa baru aku sadari sekarang. Saat aku membalas tatapannya yang
dalam, aku merasakan ia bicara padaku, ia bercerita padaku, mengizinkan aku
melihat mimpi buruknya dan membiarkan ia merangkul jiwaku yang kering. Hanya
air mata saat itu, menyadari pengobat sakitku hanya sebuah tatapan dari monster
yang selama ini kubenci.
Itulah
cerita bagaimana berdrinya sekolah cahaya ini, dengan modal seadanya yang aku
punya. Telah kubuat sebuah rumah sederhana bagi mereka anak-anak istimewa, yang
dititipkan kepada para ibu yang istimewa pula. Karena hanya mereka yang
mampulah yang bisa dengan bahagianya menerima hadiah-hadiah iniI.
Entahlah
berapa liter air mata dan air liur yang mereka berikan padaku. Anak-anak itu
benar-benar malaikat dalam bentuk yang berbeda, tatapan mereka berbicara dengan
kata-kata yang tak pernah terbayangkan. Mereka adalah hadiah bagi keegoisan
penghuni dunia, karena percayalah ketukan pintu itu, sikat gigi halus itu, dan
sandal-sandal degradasi warna itu, hidup begitu dekat dengan kita. Dan
malaikat-malaikat itu melindungi kita dengan cahayanya yang senantiasa menjadi
pelita bagi kita. Untuk semua ibu di dunia, biarkanlah cahaya itu tetap menjadi
pelita bagi kita.
Created by : Syapira
Created by : Syapira

No comments:
Post a Comment