Saturday, September 29, 2012


Pelita dan Keegoisan Manusia




Suara bising, teriakkan, tangisan, ocehan tak jelas, dan entah suara pesawat, kereta atau roket hancur yang mereka peragakan. Kini aku tak pernah lagi terganggu, entah karena terpaksa hingga membuat aku menerima kenyataan aku terjebak dalam realita yang entah indah atau tidak. Atau malah karena sebenarnya aku menyukai semua itu, suara-suara itu, tangisan-tangisan itu atau teriakkan-teriakkan itu.

Aku masih ingat, ketika itu, kebanyakan dari mereka datang dengan airmata dan keputus asaan. Maksudku bukan mereka, tapi orang tua mereka. Mereka bercerita mengenai hadiah mereka masing-masing, bagaimana hadiah-hadiah ini menimbulkan keputus asaan dalam kehidupan mereka. Bagaimana hadiah-hadiah ini membuat hidup mereka berantakan, menghadirkan perceraian hingga penderitaan. Bahkan beberapa dari mereka datang kepadaku dalam keadaan yang parah. Frustasi, sudah pasti dan beberapa hampir bunuh diri. Aku bertanya pada mereka saat itu, apakah hadiah-hadiah ini penyebabnya? Atau keegoisan merekalah yang menjadi penyebabnya?

7 tahun yang lalu, dari sanalah semua ini bermula. Mahasiswa ekonomi semester akhir yang frustasi, dan hampir bunuh diri. Bagaimana tidak, tinggal dirumah tua peninggalan warisan kakek nenek yang sudah lama menjadi tulang belulang, atau mungkin telah rata dengan tanah. Tinggal bersama orang tua tunggal tanpa kasih sayang seorang ayah, jauh sebelum aku dapat mengucapkan kata pertamaku. Hidup dari usaha catering kecil-kecilan yang lebih sering kurang daripada cukupnya. Ditambah aku harus tinggal bersama saudara laki-laki yang tak mirip manusia.

Aku seringkali bertanya pada ibu, bagaimana ibu bisa merasa senang dan bahagia hidup dengan manusia yang tak mirip manusia itu. Ibu hanya  menjawab, ia hadiah dari Allah untuk ibu. Hah… waktu itu aku hanya berpikir, apa lagi yang dimaksud orang dengan kebahagiaan ada di dalam kebijaksanaan. Ibu memang bijaksana bisa dibilang begitu, tapi kalau bahagia entahlah, mungkin ibu bahagia tapi tidak dengan aku saat itu.

Laki-laki aneh ini 2 kali besarnya dibanding aku dan ibu, kulitnya sawo matang, matanya hitam, bulat, dan besar, seperti melotot setiap saat. Tangan-tangannya kasar, entah karna apa. Bibirnya kering dan sedikit hitam. Tapi rambutnya hitam, halus, dan lembut, bak bintang iklan produk sampo ternama. Aku tak pernah menganggapnya manusia, karena memang ia tak mirip manusia. Gaya bicaranya aneh, lebih mirip suara decit sepatu boot tua, dan aku tak bisa mengerti apa yang ia katakan. Gaya berjalannya juga aneh, kaki-kakinya tidak pernah melangkah bersamaan, layaknya perompak laut karibian yang terkena ledakan meriam tepat di kakinya, hingga harus menggunakan kaki besi berat yang berkarat.

Keseharian yang aneh, satu demi satu tradisi nyentrik tanpa alpa muncul setiap pagi. Mas Andri akan mengetuk setiap pintu, pintu kamar mandi sekalipun, 3 kali pada pukul 5 pagi, 2 kali pada pukul 12 siang tepat, dan 1 kali setiap pukul 6 sore. Ia akan menutup semua pintu dan mengetuknya tanpa maksud yang jelas. Menyusun sikat gigi berdasarkan bulu sikat yang paling halus ke yang paling kasar. Ditambah dengan susunan sandal yang diurutkan berdasarkan degradasi warna yang sempurna, jika ada sepasang sandal yang tiba-tiba saja muncul di halaman, Mas Andri akan menyusunnya dari awal, dan tak lupa tetap dengan degradasi warna yang terlampau sempurna.

Itu sungguh belum apa-apa, Mas Andri tidak akan makan jika tanpa sepasang sendok dan garpu kodok hijau tua, kesayangannya. Pernah karena kesal, aku menyembunyikan sendok dan garpu kesayangannya itu. Bagaimana tidak satu-satunya temanku selama kuliah, berkunjung kerumah, memindahkan sandal degradasi warnanya. Dan tiba-tiba saja Mas Andri datang dan berteriak menjabak rambut temanku dan mendorongnya menyingkir dari sandal-sandalnya itu. Dan dengan asyik kembali menyusun sandal-sandalnya, tanpa peduli apa yang baru saja ia perbuat dalam hidupku. Temanku yang ketakutan, menyangka kakakku itu sakit jiwa atau semacamnya. Berlari dan menangis tanpa pernah sekalipun menoleh pada diriku lagi.

Aku yang begitu meluap-luap amarahnya saat itu, tanpa pikir panjang memberantakan hasil kerjanya, mengacak-acak sandal-sandal degradasi warna miliknya. Memakinya, meneriakinya, dan sesekali memukulnya. Aku tahu percuma saja aku melakukan itu padanya, makianku tak akan pernah di mengertinya, teriakkanku mungkin hanya angin lalu baginya, dan air mataku mungkin hanya tetesan air hujan yang setia menemaninya. Aku kalap. Tapi ia berdiri tak bergeming menatapku lurus jauh kedalam batinku yang telah lama koyak. Yang telah lama mati, hidup ini hanya retorika bagiku, kata-kata yang kau keluarkan tanpa cela. Dimana orang tak bisa seenaknya saja memotong hidupmu. Sela diantara kata, hanya udara kering bagiku, yang memberiku ruang untuk sekedar menarik nafas-nafas pendek, melemaskan sarafku yang kejang, dan menyadari, lagi-lagi hidup tak lebih dari sebuah retorika belaka.

Aku tak mengerti hadiah apa yang dimaksud ibu. Ia mengacak-acak rumah mencari sendok kodoknya itu, aku disudut ruangan, mencoba mengalihkan tatapanku, dan pikiranku darinya. Dari monster yang entah darimana asalnya. Kesal dengan diriku sendiri, akhirnya kukembalikan sendok itu, tanpa perasaan bersalah, dan membiarkan ibu yang mengurusnya setelah itu.
Ibu tak pernah lelah biacara padaku, untuk menerima kakakku yang seperti monster itu dengan keikhalasan. Tapi saat itu, aku sungguh tak bisa, aku sungguh tak mampu menerima kenyataan. Bahwa ibuku yang bijaksana ini, yang tak pernah putus sholatnya ini adalah mantan pecandu narkoba, ibu hamil diluar nikah, menikah dengan ayah diusianya yang muda belia, melahirkan monster tak keruan ini. Hingga dua tahun kemudian lahirlah aku, bayi kecil yang tak pernah minta untuk dilahirkan. Ayah meninggalkan kami, menikah lagi dengan mantan pacarnya selagi SMA dulu, lalu kini hilang tak ketahuan rimbanya.

Entah apa yang aku pikirkan saat itu, rasa egois telah mengusai setiap inchi dalam tubuhku, sel-sel mitokondriaku dikendalikan layaknya boneka sirkus yang senantiasa menurut pada tuannya yang kejam, dengan pecut ditangan dan hati yang kering kerontang dari cinta.
Tapi selalu saja ada ruang, disini, tepat dihatiku yang kehilangan penghuninya. Yang meronta menangis dan memberontak, yang anehnya ingin saja mengakui dengan mudah bahwa Andri Asnarta Yusuf adalah kakakku, kakakku yang normal yang sama sekali tak ada bedanya dengan orang kebanyakan. Aku ingin saja mengakui bahwa laki-laki monster itu adalah alasan kedua aku masih ada di dunia saat ini sekarang. Tak peduli dengan ketukan pintunya, sikat gigi halusnya, atau sandal-sandal degradasi warnanya. Bahwa jauh didasar hatiku aku mencintainya, tak peduli apa kata orang tentangnya entah itu gila, idiot, cacat. Tak peduli kata dokter tentang down syndrome, atau apalah lagi istilahnya yang lainnya.

Ibuku, wanita itu pembangun dan penguat hidupku. Membangun kembali puing-puing hidupku yang hancur berantakan saat itu. Mas ku yang berdiri sebagai tiang penguatnya yang entah mengapa baru aku sadari sekarang. Saat aku membalas tatapannya yang dalam, aku merasakan ia bicara padaku, ia bercerita padaku, mengizinkan aku melihat mimpi buruknya dan membiarkan ia merangkul jiwaku yang kering. Hanya air mata saat itu, menyadari pengobat sakitku hanya sebuah tatapan dari monster yang selama ini kubenci.

Itulah cerita bagaimana berdrinya sekolah cahaya ini, dengan modal seadanya yang aku punya. Telah kubuat sebuah rumah sederhana bagi mereka anak-anak istimewa, yang dititipkan kepada para ibu yang istimewa pula. Karena hanya mereka yang mampulah yang bisa dengan bahagianya menerima hadiah-hadiah iniI. 

Entahlah berapa liter air mata dan air liur yang mereka berikan padaku. Anak-anak itu benar-benar malaikat dalam bentuk yang berbeda, tatapan mereka berbicara dengan kata-kata yang tak pernah terbayangkan. Mereka adalah hadiah bagi keegoisan penghuni dunia, karena percayalah ketukan pintu itu, sikat gigi halus itu, dan sandal-sandal degradasi warna itu, hidup begitu dekat dengan kita. Dan malaikat-malaikat itu melindungi kita dengan cahayanya yang senantiasa menjadi pelita bagi kita. Untuk semua ibu di dunia, biarkanlah cahaya itu tetap menjadi pelita bagi kita.


Created by : Syapira

No comments:

Post a Comment