RENUNGAN MALAM
Agak berbeda dari tulisan-tulisan gue yang
sebelumnya, tulisan ini sebenernya gak bakal jadi tulisan yang berat (emang gak
pernah bikin tulisan berat juga sih) tulisan ini bakal lebih mirip curhatan
eksplisit (padahal kalo nulis emang tandanya lagi curhat). Kenapa eksplisit?
Capek ahh implisit terus, mungkin yang di implisitin juga belum tentu tau artinya apa,
atau bahkan esktrimnya gak pernah baca dan gak pernah tau kalo tulisan-tulisan
itu ada dan terlahir berkat jalur takdir yang sama-sama berpotongan di
masing-masing garis yang kita punya.
Hmmm.. sebelumnya minta maaf banget nih kalo tulisan
ini bener-bener gak memberikan value added apapun buat yang baca aka nyampah
banget, tapi dimaafin lahh ya kalo nyampahnya di blog sendiri dan lagipula
siapa sih yang baca blog gue, trafficnya aja gak ada gitu hahaha... Lagi,
sebenernya tulisan ini berawal dari ngobrol ringan dengan seorang teman dimobil
malam hari ditengah macetnya Jakarta, ditemani lagu-lagunya Buble, Boyz II Men,
atau kadang-kadang Westlife dan Maroon 5. Dan sebelum lupa dan menguap,
buru-buru pas nyampe rumah gue langsung tuliskan.
“Never take something or someone for granted” pasti
sering banget deh denger orang-orang ngomong ini, atau at least pernah baca
dibuku atau mungkin di quotes nya tumblr. Sebenernya apa sih ini? Dan kenapa
banyak banget orang-orang yang menyuarakan untuk jangan sampe deh lo melakukan
hal ini, terhadap apapun atau siapapun. Sederhananya alih bahasa yang pas buat
sebaris kata bertanda kutip diatas tadi adalah jangan pernah deh menjadikan apa
pun itu yang sudah kamu miliki sekarang ini seolah-olah adalah hak paten abadi
yang selamanya bakal ada atau gak bakal ilang sehingga lo memperlakukan hal
tersebut layaknya “ada yaaa syukur gak ada yaaa gak apa-apa”. Gimana, kira-kira
udah tau belum mau dibawa kemana tulisan ini?
Nyatanya, naluri dan emang bawaannya manusia deh
yang selalu aja merasa kurang, merasa belum cukup, selalu merasa ingin lebih
lagi. Kita selalu sibuk membandingkan yang kita punya sekarang dengan yang kita
punya dulu, celakanya kita selalu merasa yang dulu itu selalu lebih baik, tapi
dulu kita amat sangat sedikit sekali bersyukur dengan apa yang kita
miliki.
Nature nya manusia emang suka banget membuat
perbandingan, mengkotak-kotakkan sesuatu, mendefinisikan sesuatu, sehingga
dalam kacamata manusia semua akan selalu terlihat berbeda, gak pernah sama,
lagi, celakanya jarang yang makin baik dimata manusia. Kita selalu menginginkan
lebih, meski nyatanya yang kita miliki sudah lebih baik, pun kalau belum sudah
sepantasnyalah kita tetap bersyukur, kenapa?? Karena orang lain belum tentu
memiliki apa yang kita miliki sekarang. Why we have more attention on what
color of parachute we have, instead of just being happy because we don’t hit
the ground and die, when in reality some people they even don’t have it at all,
why??
Parahnya lagi, kadang kita melakukan hal ini bukanya
hanya kepada ‘apa’ tapi kepada ‘siapa’ which means kita melakukan hal ini
kepada orang lain yang biasanya terjadi kepada mereka yang sudah attach atau
sangat dekat sama kita.
Seringkali kita, manusia, menganggap apa yang kita
punya adalah hak milik selamanya, kita lupa kalo sebenarnya kita ini cuma juru
parkir, yang dtitipkan mobil orang lain, kita gak pernah memiliki mobil-mobil
itu, gak pernah sekalipun, gak pernah sama sekali. Kita hanya dititipkan
mereka, orang-orang yang kadang kita take for granted ini oleh Tuhan, untuk
bersamanya kita bermain, tertawa, menangis, belajar, berdoa, membenci,
mencintai, menyayangi, berbagi kasih. Tapi kita lupa kalo mereka ini cuma
titipan, dan suatu saat pemilik sebenarnya akan datang dan membawa pergi
miliknya. Kalau kita mengingat kembali peran kita sebagai juru parkir, tentu
air mata sama sekali bukan opsi yang akan diambil kita, ketika si pemilik mobil
ini datang dan membawanya pergi, tapi kita lupa, lupa peran kita.
Kadang kita memperlakukan mereka yang sudah dan
sedang bersama kita layaknya sepatu-sepatu tua yang bisa dengan mudah kita cari
gantinya. Padahal kenyataannya sepatu baru yang kita temukan seringkali
ukurunnya lebih kecil hingga melukai kulit-kulit kaki kita, padahal jarak dan
jalan yang kita tempuh semakin jauh dan semakin berat setiap harinya, sedang
sepatu-sepatu lama yang nyaman itu sudah terlanjur diloakan dan entah kemana
perginya. Kalau begini, kita, manusia, cuma bisa terseok-seok sepanjang jalan,
meratapi kebodohan sambil sesekali menengok kebelakang dan sesekali menyeka air
mata, hmmmm... gue rasa setiap orang punya pengalaman yang kurang lebih sama
dengan analogi sepatu tua ini.
Pun gue mengalaminya, makanya bisa menjabarkannya
dalam analogi yang gue buat sendiri ini. Seringkali manusia merasa mereka bisa
berjalan sendiri, mereka bisa menempuh perjalanannya sendiri, menurut mereka
itu lebih cepat, tujuan mereka rasanya jadi lebih dekat dan tak perlu banyak
kompromi dengan lebih banyak manusia.
Pada kenyataannya, berjalan lebih cepat tidak melulu
membuat kita sampai pada tujuan yang lebih jauh, coba deh perhatikan pelari
marathon, mereka gak akan berlari sangat cepat dari awal pertandingan dan
kemudian kehilangan tenaga di tengah-tengah, mereka berlari pada irama konstan,
irama yang membuat mereka nyaman, hingga sampai diakhir garis finish.
Begitupun kita, tujuan yang jauh tak layaknya
ditempuh sendiri karena merasa kita tak sanggup kompromi. Ia yang bersama kamu
berjalan hingga kelak sampai ditujuan, meski kadang merengek minta berhenti,
atau kadang kelelehan hingga kamu harus menggendong dia dipunggungmu,
seringkali ia bisa menjelma menjadi gerimis-gerimis kecil kala matahari
panasnya bahkan bisa membakar hati. Seringkali ia menyeka keringatmu dan
membantumu melihat lebih jelas diantara fatamorgana yang menipu dan memperdaya.
Sederhananya jika mau berjalan lebih jauh maka jangan pernah berjalan sendiri.
Tapi yaa, begitulah manusia, mereka bukannya tidak
tau apa yang mereka miliki sampai Tuhan mengambilnya, mereka tau betul apa yang
mereka miliki. Hanya saja, mereka tak pernah menyangka Tuhan akan mengambilnya
lebih cepat dari waktu yang mereka perkirakan, kadang bahkan tanpa tanda-tanda,
tau-tau tinggal kenangan yang kita jadikan perbandingan.
Sebenarnya tulisan ini adalah kumpulan kata yang gue
rangkai sebagai permintaan maaf sederhana gue buat orang yang mungkin gue
perlakukan seperti ini. Gue memang terkadang lupa kalo gue ini cuma juru
parkir, dan punya sepatu baru seringkali berarti gue harus berulang kali
merasakan perih dan menyeka luka. Ya, gue merasakan sakit dan perihnya, sama
atau mungkin lebih menyakitkan dari yang orang ini rasakan. Tapi bisa apa?
Ketika semua sudah menjadi seperti apa yang ada sekarang, permintaan maaf dan
penyesalan cuma sekedar pelepas rasa bersalah tanpa pernah menngurangi perih
dan sakit yang dirasakan masing-masing dari kita yang pergi dan ditinggalkan.
Moral value dari curhat eksplisit ini adalah, jangan
deh sekali-sekali melakukan yang namanya take it for granted, hargai baik-baik
apa yang kita punya dan miliki sekarang, syukuri itu meski rupa dan bentuknya
tidak sesuai dengan keinginan kita. Meski begitu, mungkin itu adalah hal yang
paling kita butuhkan, mungkin itu adalah sepatu dengan ukuran paling pas dan
dengan sol yang paling nyaman, tidak pernah melukai, meskipun penampilannya
usang dan sudah ketinggalan jaman.
Gue adalah tipe orang yang amat sangat percaya kalau
semua yang terjadi di dunia ini pasti punya alasan yang sadar atau tidak sadar
akan mengajari kita tentang banyak hal. Yang diterima atau pun tidak diterima
telah membentuk kita menjadi pribadi seperti apa kita sekarang. Jadi, cobalah tengok
kanan dan kirimu, pandang, hargai, cintai, dan syukuri, karena mungkin
kenyataan di masa depan tidak akan pernah lagi semanis pemandangan yang kamu
pandang saat ini.
Ingat kamu, kita, bahkan dia sama-sama cuma juru
parkir, yang sama-sama berlari dengan sepatu masing-masing, menuju tujuan akhir
yang entah berapa ribu kilometer lagi jauhnya, dan tidak akan pernah nyaman dan
menyenangkan jika hanya berlari sendiri, menangis sendiri, dan menyeka luka
sendiri.
Ya, karena kita cuma juru parkir yang berlari.
No comments:
Post a Comment