Sunday, October 12, 2014

RENUNGAN MALAM


Agak berbeda dari tulisan-tulisan gue yang sebelumnya, tulisan ini sebenernya gak bakal jadi tulisan yang berat (emang gak pernah bikin tulisan berat juga sih) tulisan ini bakal lebih mirip curhatan eksplisit (padahal kalo nulis emang tandanya lagi curhat). Kenapa eksplisit?  Capek ahh implisit terus, mungkin yang di implisitin juga belum tentu tau artinya apa, atau bahkan esktrimnya gak pernah baca dan gak pernah tau kalo tulisan-tulisan itu ada dan terlahir berkat jalur takdir yang sama-sama berpotongan di masing-masing garis yang kita punya. 

Hmmm.. sebelumnya minta maaf banget nih kalo tulisan ini bener-bener gak memberikan value added apapun buat yang baca aka nyampah banget, tapi dimaafin lahh ya kalo nyampahnya di blog sendiri dan lagipula siapa sih yang baca blog gue, trafficnya aja gak ada gitu hahaha... Lagi, sebenernya tulisan ini berawal dari ngobrol ringan dengan seorang teman dimobil malam hari ditengah macetnya Jakarta, ditemani lagu-lagunya Buble, Boyz II Men, atau kadang-kadang Westlife dan Maroon 5. Dan sebelum lupa dan menguap, buru-buru pas nyampe rumah gue langsung tuliskan.

“Never take something or someone for granted” pasti sering banget deh denger orang-orang ngomong ini, atau at least pernah baca dibuku atau mungkin di quotes nya tumblr. Sebenernya apa sih ini? Dan kenapa banyak banget orang-orang yang menyuarakan untuk jangan sampe deh lo melakukan hal ini, terhadap apapun atau siapapun. Sederhananya alih bahasa yang pas buat sebaris kata bertanda kutip diatas tadi adalah jangan pernah deh menjadikan apa pun itu yang sudah kamu miliki sekarang ini seolah-olah adalah hak paten abadi yang selamanya bakal ada atau gak bakal ilang sehingga lo memperlakukan hal tersebut layaknya “ada yaaa syukur gak ada yaaa gak apa-apa”. Gimana, kira-kira udah tau belum mau dibawa kemana tulisan ini?

Nyatanya, naluri dan emang bawaannya manusia deh yang selalu aja merasa kurang, merasa belum cukup, selalu merasa ingin lebih lagi. Kita selalu sibuk membandingkan yang kita punya sekarang dengan yang kita punya dulu, celakanya kita selalu merasa yang dulu itu selalu lebih baik, tapi dulu kita amat sangat sedikit sekali bersyukur dengan apa yang kita miliki. 

Nature nya manusia emang suka banget membuat perbandingan, mengkotak-kotakkan sesuatu, mendefinisikan sesuatu, sehingga dalam kacamata manusia semua akan selalu terlihat berbeda, gak pernah sama, lagi, celakanya jarang yang makin baik dimata manusia. Kita selalu menginginkan lebih, meski nyatanya yang kita miliki sudah lebih baik, pun kalau belum sudah sepantasnyalah kita tetap bersyukur, kenapa?? Karena orang lain belum tentu memiliki apa yang kita miliki sekarang. Why we have more attention on what color of parachute we have, instead of just being happy because we don’t hit the ground and die, when in reality some people they even don’t have it at all, why??

Parahnya lagi, kadang kita melakukan hal ini bukanya hanya kepada ‘apa’ tapi kepada ‘siapa’ which means kita melakukan hal ini kepada orang lain yang biasanya terjadi kepada mereka yang sudah attach atau sangat dekat sama kita. 

Seringkali kita, manusia, menganggap apa yang kita punya adalah hak milik selamanya, kita lupa kalo sebenarnya kita ini cuma juru parkir, yang dtitipkan mobil orang lain, kita gak pernah memiliki mobil-mobil itu, gak pernah sekalipun, gak pernah sama sekali. Kita hanya dititipkan mereka, orang-orang yang kadang kita take for granted ini oleh Tuhan, untuk bersamanya kita bermain, tertawa, menangis, belajar, berdoa, membenci, mencintai, menyayangi, berbagi kasih. Tapi kita lupa kalo mereka ini cuma titipan, dan suatu saat pemilik sebenarnya akan datang dan membawa pergi miliknya. Kalau kita mengingat kembali peran kita sebagai juru parkir, tentu air mata sama sekali bukan opsi yang akan diambil kita, ketika si pemilik mobil ini datang dan membawanya pergi, tapi kita lupa, lupa peran kita.

Kadang kita memperlakukan mereka yang sudah dan sedang bersama kita layaknya sepatu-sepatu tua yang bisa dengan mudah kita cari gantinya. Padahal kenyataannya sepatu baru yang kita temukan seringkali ukurunnya lebih kecil hingga melukai kulit-kulit kaki kita, padahal jarak dan jalan yang kita tempuh semakin jauh dan semakin berat setiap harinya, sedang sepatu-sepatu lama yang nyaman itu sudah terlanjur diloakan dan entah kemana perginya. Kalau begini, kita, manusia, cuma bisa terseok-seok sepanjang jalan, meratapi kebodohan sambil sesekali menengok kebelakang dan sesekali menyeka air mata, hmmmm... gue rasa setiap orang punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan analogi sepatu tua ini.

Pun gue mengalaminya, makanya bisa menjabarkannya dalam analogi yang gue buat sendiri ini. Seringkali manusia merasa mereka bisa berjalan sendiri, mereka bisa menempuh perjalanannya sendiri, menurut mereka itu lebih cepat, tujuan mereka rasanya jadi lebih dekat dan tak perlu banyak kompromi dengan lebih banyak manusia. 

Pada kenyataannya, berjalan lebih cepat tidak melulu membuat kita sampai pada tujuan yang lebih jauh, coba deh perhatikan pelari marathon, mereka gak akan berlari sangat cepat dari awal pertandingan dan kemudian kehilangan tenaga di tengah-tengah, mereka berlari pada irama konstan, irama yang membuat mereka nyaman, hingga sampai diakhir garis finish. 

Begitupun kita, tujuan yang jauh tak layaknya ditempuh sendiri karena merasa kita tak sanggup kompromi. Ia yang bersama kamu berjalan hingga kelak sampai ditujuan, meski kadang merengek minta berhenti, atau kadang kelelehan hingga kamu harus menggendong dia dipunggungmu, seringkali ia bisa menjelma menjadi gerimis-gerimis kecil kala matahari panasnya bahkan bisa membakar hati. Seringkali ia menyeka keringatmu dan membantumu melihat lebih jelas diantara fatamorgana yang menipu dan memperdaya. Sederhananya jika mau berjalan lebih jauh maka jangan pernah berjalan sendiri.

Tapi yaa, begitulah manusia, mereka bukannya tidak tau apa yang mereka miliki sampai Tuhan mengambilnya, mereka tau betul apa yang mereka miliki. Hanya saja, mereka tak pernah menyangka Tuhan akan mengambilnya lebih cepat dari waktu yang mereka perkirakan, kadang bahkan tanpa tanda-tanda, tau-tau tinggal kenangan yang kita jadikan perbandingan.

Sebenarnya tulisan ini adalah kumpulan kata yang gue rangkai sebagai permintaan maaf sederhana gue buat orang yang mungkin gue perlakukan seperti ini. Gue memang terkadang lupa kalo gue ini cuma juru parkir, dan punya sepatu baru seringkali berarti gue harus berulang kali merasakan perih dan menyeka luka. Ya, gue merasakan sakit dan perihnya, sama atau mungkin lebih menyakitkan dari yang orang ini rasakan. Tapi bisa apa? Ketika semua sudah menjadi seperti apa yang ada sekarang, permintaan maaf dan penyesalan cuma sekedar pelepas rasa bersalah tanpa pernah menngurangi perih dan sakit yang dirasakan masing-masing dari kita yang pergi dan ditinggalkan.

Moral value dari curhat eksplisit ini adalah, jangan deh sekali-sekali melakukan yang namanya take it for granted, hargai baik-baik apa yang kita punya dan miliki sekarang, syukuri itu meski rupa dan bentuknya tidak sesuai dengan keinginan kita. Meski begitu, mungkin itu adalah hal yang paling kita butuhkan, mungkin itu adalah sepatu dengan ukuran paling pas dan dengan sol yang paling nyaman, tidak pernah melukai, meskipun penampilannya usang dan sudah ketinggalan jaman. 

Gue adalah tipe orang yang amat sangat percaya kalau semua yang terjadi di dunia ini pasti punya alasan yang sadar atau tidak sadar akan mengajari kita tentang banyak hal. Yang diterima atau pun tidak diterima telah membentuk kita menjadi pribadi seperti apa kita sekarang. Jadi, cobalah tengok kanan dan kirimu, pandang, hargai, cintai, dan syukuri, karena mungkin kenyataan di masa depan tidak akan pernah lagi semanis pemandangan yang kamu pandang saat ini.

Ingat kamu, kita, bahkan dia sama-sama cuma juru parkir, yang sama-sama berlari dengan sepatu masing-masing, menuju tujuan akhir yang entah berapa ribu kilometer lagi jauhnya, dan tidak akan pernah nyaman dan menyenangkan jika hanya berlari sendiri, menangis sendiri, dan menyeka luka sendiri. 


Ya, karena kita cuma juru parkir yang berlari. 

No comments:

Post a Comment