Wednesday, October 1, 2014

Mencintai Kēḷvi dan Sorunlar 


Awalnya kita selalu menyoal cinta, bertanya cinta, mencari cinta, mendefinisikan cinta, meragukan cinta, semua soal tanda tanya. Seolah-olah cinta adalah pertanyaan, harus dirangkai rumusannya, dicari jawabannya.

Kalau kita tak mampu menjawab, maka cinta tetap akan jadi soal. Selamanya jadi soal. Kita tak pernah naik kelas, guru tak izin kan kita berpindah “jawab dulu soal mu, tuntaskan!”Kalau begini cinta cuma sekedar tanda seru diakhir kalimat, memberikan perintah, mutlak, harus. Cinta cuma berubah bentuk dari tanya jadi seru.

Awalnya kita menyoal cinta kini kita menyeru cinta, kenapa? Untuk apa? Karena kita melulu menyoal cinta yang tak pernah kita temui jawabannya. Maka untuk berlari dari perihal menyoal ini, kita membuat seru diakhir kalimat, seolah memerintah padahal sekedar percobaan pelarian diri.

Mulanya semua berkata, cinta, lalu jadi masalah cinta. Cinta itu netral lalu ditempelkan frasa yang kesannya negatif, jadilah cinta itu negatif. Lalu salahkah cinta?

Kita manusia senang sekali melihat diri yang mampu melampaui batas, semua diterjang. Maka cinta untuk manusia adalah cinta-cinta terjang, yang batasnya dilanggar, yang jelas-jelas dilewat. Mereka bangga, tapi mereka lupa, mereka berlari terlalu jauh dari halaman rumah, masuk ke belukarnya ilalang, hingga hilang di belantara hutan, lantas lupa jalan pulang. Selama ini menyoal cinta buat manusia cuma sekedar berlari lewati batas, tersesat biar, yang penting lari dulu terjang pagar.

Kita manusia selama ini tenggelam dalam lautan soal cinta, soal-soal pelik yang sengaja kita buat sendiri, soal-soal pelik yang lupa kita buat manualnya, lupa kita buat kunci jawabannya. Kenapa? Karena manusia mencintai menyoal cinta. Bangga jika pertanyaannya pelik, bangga ketika soalnya rumit, sulit, berbelit.

Kita manusia, layaknya hidup didunia fantasi, yang jalanannya bernyanyi, mataharinya berlari-lari, dan yang cintanya dianggap elegi. Fantasi yang sama-sama kita ciptakan sendiri. Fantasi yang keseragamannya masing-masing kita sepakati. Intinya fantasi yang sama-sama kita hakimi, fantasi yang kita saksikan ketuk palunya sendiri.

Kita manusia selalu mendewakan kerumitan, Galileo Galilei, Leonardo Da Vinci, Shakespeare, Adam Smith, nama-nama ternama dalam hal penciptaan kerumitan. Karena kita manusia menganggap yang rumit itu luar biasa, yang sebagian saja bisa paham maka itu keajaiban, yang soalnya pelik di jawab itu adalah keniscayaan.

Karena kita manusia mencintai Kēḷvi dan Sorunlar, terlalu, amat-sangat mencintai mereka. Manusia penasaran pada term biasa (baca: mencintai) yang dipadukan dengan term tak biasa (baca: Kēḷvi dan Sorunlar), padahal artinya sederhana. Kenapa? Karena secara naluriah kita tercipta untuk mendewakan kerumitan. Tidak salah memang, tapi ini membuat kita menjadi mahluk-mahluk yang mencintai indahnya kepelikan, hingga lupa bahwa sederhana ada dan menyiratkan keindahan yang serupa.

Aku dan kamu adalah kita, yang lupa bahwa cinta harusnya jadi term utama, bukannya menyoal dulu lalu cinta. Kenapa tak kita biarkan cinta jadi variabel utama, alih-alih menempelkan banyak frasa. Aku dan kamu sama-sama lupa kalau cinta itu tak melulu tanda tanya yang lahirkan tanda seru. cinta bisa jadi jawaban sederhana.

Cinta bisa jadi jawaban atas semua pertanyaan yang sejak tadi berlari-lari indah di kepalamu. Cinta bisa jadi jawaban kenapa ibu-ayah kita jadi malaikat penjaga, kenapa senyum tipis diawajah sesorang bisa mengubah keseluruhan dunia, kenapa aku dan kamu, kita berhadap-hadapan pada simpangan yang sama.

Karena kita mencintai menyoal cinta, bukannya mencinta cinta maka selamanya kita hanya pemuja kerumitan. Berharap bisa selesaikan soal pelik yang menguras kemampuan.  Maka selamanya kita cuma hasil sidang fantasi yang bersepakat pada kerumitan. Karena kita memuja kerumitan, kita jadi jarang sekali bersyukur, padahal pagi ini matahari masih terbit dari sisinya yang benar.

Aku kadang lelah jadi penyoal cinta, ingin hidup dalam sederhananya cinta. Dalam rinai dan rintik cinta. Namun aku sendirian tak berkawan, karena kamu masih kukuh jadi penyoal cinta. Maka selamanya, meski aku sudah tak lagi menyoal cinta aku akan tetap mencintai Kēḷvi dan Sorunlar. Bersama kamu menyoal cinta, bersama kamu terjebak dalam pelik-rumit-sulit dan berbelitnya tumpukan soal cinta. Selamanya kita cuma penyoal yang tak mampu hasilkan jawaban.Selamanya.

Note: Kēḷvi berarti pertanyaan dalam bahasa Tamil dan Sorunlar berarti masalah dalam bahasa Turki


No comments:

Post a Comment