Mencintai
atau Dicintai?
Gue sering banget bertanya sama orang-orang disekeliling gue “Mencintai
atau dicintai?” mostly orang akan
jawab mencintai. Gue pun begitu, kalo dilihat dari pemberian imbuhannya emang
sih keliatannya jawaban mencintai akan terlihat sedikit tidak egois. Kenapa?
Simply karena dia adalah kata yang menggunakan imbuhan me-i yang merupakan jenis kata aktif. Dilain sisi, penambahan –i diakhir kata juga memiliki makna pengubahan kata kerja aktif
transitif menjadi kata kerja transitif. Sederhananya begini, kalau kata ‘Mencinta’
kita tidak membutuhkan objek setelahnya, berbeda dengan ‘Mencintai’ kata ini
butuh tambahan objek untuk melengkapinya.
Misal :
- Pujangga adala mereka yang mencinta
- Pujangga adalah mereka yang mencintai (kalimat
ini belum lengkap)
o
(Akan lengkap jika) Pujangga adalah mereka yang
mencintai rangkaian kata
Rangkaian kata dibutuhkan sebagai objek yang melengkapi
kalimat tadi.
Coba bandingkan dengan kata dicintai yang menggunakan imbuhan di-i,
meski sama-sama merupakan kata kerja, kata di-i merupakan kata kerja pasif. Dimana
dalam sebuah kalimat pasif, subjek adalah ia si penderita atau yang dikenai
tindakan.
Jujur sebenarnya dulu gak
pernah kepikiran sejauh ini, sampai ada seseorang yang bilang tentang sebuah
hal yang bikin gue semacam terbangun dari mimpi idealis gue tentang definisi
cinta. Kurang lebih dia ngomong gini,
“Kita tuh egois kali, mencintai tuh egois, dan mencintai tuh enak”.
Cepet-cepet gue sanggah pendapat dia.
“Lah egois kenapa? Mencintai tuh sakit kali, dengan mencintai berarti
lo semacam menerima cinta lo bisa jadi cuma cinta satu sisi. Dengan mencintai
berarti lo harus siap memberi tanpa harapan menerima kembali”
Well, dia dengan tenang
kemudian menjawab kaya gini.
“Yaa emang sakit, tapi lebih sakit dicintai. Dengan dicintai berarti
lo menjadi tidak egois, karena lo menerima cinta yang datang”
Seinget gue pembicaraan kita berhenti disitu, entah karena apa.
Dari apa yang dia bilang, gue kemudian berpikir.
Hmmm... orang ini ga
salah sih dengan berpikir seperti ini, bahkan mungkin orang ini selalu benar,
dan selama ini definisi gue yang malah keliru. Menangkap kata-katanya, gue
mengerti apa yang dia maksud, karena dengan memilih untuk dicintai, kasarnya kita
sedang menerima apa yang dunia sodorkan sama kita. Dengan memilih dicintai,
malah sebenarnya kita sedang belajar mencintai disaat yang bersamaan, mencintai
apa yang telah datang atau yang mendatangi kita.
Bandingin deh coba sama mencintai, ketika kita mencintai, sulit banget
buat kita belajar dicintai juga disaat yang bersamaan, iya gak sih?
Sejauh ini gue merasa begitu, karena gue memilih mencintai, sulit buat
gue belajar jadi orang yang dicintai. Gue egois, lebih memilih cinta satu sisi,
memuaskan hati gue dengan bitter-sweet
nya cinta yang somehow gue pikir sebagai pengorbanan yang pantas atas pilihan
gue terhadap cinta.
Asli, sampe sekarang sebenernya selalu kepikiran sih sama apa yang
orang ini bilang ke gue tentang definisi mencintai dan dicintai menurut dia. Gue
merasa tertipu dan keliru, merasa, wahh.. jangan -jangan emang selama ini gue hidup
dalam kekeliruan.
Dulu gue sering banget bertanya sama orang-orang disekeliling gue “Mencintai
atau dicintai?”
Alasanya sederhana, karena gue mau tau seberapa banyak orang-orang
diluar sana yang siap mencinta tanpa takut cintanya tak berbalas.
Gue menganggap orang-orang dengan pilihan ini adalah orang-orang yang
tidak egois dan siap tersakiti, demi cintanya sama orang lain.
Tapi setelah mendengar pendapat orang ini, dia berhasil membawa gue
kembali ke titik netral, Hmmm... apa karena gue orangnya mudah dipengaruhi?
Sepertinya tidak, gue melihat pendapat dia cukup beralasan.
Sepertinya sekarang gue akan lebih banyak bertanya sama diri gue
sendiri, “Mencintai atau dicintai?”
Well, in the end, sebenarnya
gue bukan mau mencari mana yang benar dan yang salah, toh seyogyanya ini bukan
pencarian tentang mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang lebih egois
dan mana yang lebih tidak egois. Cuma memahami arti mencintai dan dicintai
menurut gue cukup penting, karena cinta naturenya
saling melengkapi.
Ibarat belajar matematika, kalau dalam penjumlahan 1+1 saja kita sudah
keliru, bagaimana bisa kita menyelesaikan soal 1x1 tanpa keliru.
Hmmm... itu sih menurut gue, kalo menurut kalian?
No comments:
Post a Comment