Saturday, April 11, 2015

Di dan Ombak

Taken by author

“Bu, kemana perginya ombak-ombaki itu?” Di berlari kecil menarik tangan ibunya, sembari menunjuk ombak yang pecah di tepian pantai, riang.
“Bu, apakah ombak kembali lagi ke laut?” Lagi, Di kecil bertanya. Ibunya tersenyum tipis, sambil berusaha mengimbangi kaki-kaki kecil Di yang berlari.
“Bu, kenapa ombak-ombak menghilang dengan cepat?”
Kini ibunya berlari agak cepat, menyamakan posisinya dengan Di, lantas mengangkat tubuhnya yang mungil dan memeluknya, mendekapnya erat. “Ombak-ombak tidak menghilang, tidak pernah hilang sayang” lembut, tutur ibunya.

“Lalu kemana perginya ombak?” Di kecil mengernyitkan dahinya, penasaran.
“Jika pantai ini adalah hidupmu, ombak-ombak yang datang adalah orang-orang yang hadir dalam hidupmu. Mereka datang dengan cepat, dan berlalu”
“Bu, jadi semua orang pasti pergi dari hidupku, seperti Ayah?” Di kecil bertanya, kecewa.
Ibunya menarik napas panjang dan menjawab, “Iya Di sayang, mungkin akan ada lusinan orang lagi yang akan pergi dari hidupmu, bahkan mungkin lebih. Seperti ombak yang pecah dan berubah riak di pantai ini”
“Lalu kemana perginya mereka Bu?”
“Mereka kembali ke laut, kembali dalam dekapan takdir yang jauh dari jangkauan kita, yang tak bisa kita intip dalamnya” Ibunya menjawab.
“Bu, kalau begitu bisakah ombak yang sama kembali ke pantaiku?”
.
.
.

Mungkin Di, mungkin saja”





No comments:

Post a Comment