Aku masih ingat dengan
jelas di ulang tahunku yang ke tiga belas, kamu menyodorkan sebuah bingkisan kecil
dengan bungkus yang berantakan. Isinya sebuah buku tulis yang kau ambil dari
lemariku dan secarik kertas dengan tulisan cakar ayam mirip resep dokter yang tidak
bisa ku baca. Awalnya aku senang, tapi kemudian kecewa, buat apa kamu memberiku
hadiah yang kamu ambil sendiri dari barang yang aku punya?
Usiamu sembilan tahun ketika
itu, aku tak harusnya berharap banyak pada gadis kecil yang bahkan selalu minta
dibelikan makanan ketika aku pulang. Harusnya tidak aku marahi kamu karena
mengambil sesuatu dan menghadiahkannya kembali padaku. Harusnya kuhadiahkan
pelukan padamu, dan berterima kasih atas pelajaran “bersyukur” yang telah kamu
berikan.
Dulu di hari ulang
tahun ke tujuh belas ku, tak ada sepotong kue diatas meja apalagi pesta, papa juga
sepertinya lupa, dan tak ada kado dengan bungkus berantakan yang aku terima.
Meski dilalui tanpa perayaan khas keluarga kita, semua masih berjalan baik
hingga sekarang, meski dengan sedikit air mata.
Sore ini aku sungguh
tersentak mendengar permintaan untuk ulang tahun ke tujuh belas mu.
Kamu mau menghadiahkan
teman sekelasmu Al Masurat, katanya biar pahalanya terus mengalir untukmu. Mama
juga mempertanyakan keinginanmu, “Kamu
emang gak mau traktir mereka?”
Namun kamu bersikeras
dengan bingkisan Al Masurat sesuai keinginanmu, ditambah sebatang coklat berkat
perdebatan panjang denganku dan mama.
Aku sungguh malu
mendengar sederhananya permintaanmu.
Lagi, sepertinya di
ulang tahunmu yang ke tujuh belas tak akan ada ritual tiup lilin seperti yang
dilakukan orang kebanyakan. Malah sepertinya kamu akan berlama-lama dalam
sujudmu yang memang sudah lama dan memuasakan diri dari banyak hal yang tak
baik menurut Nya. Aku berharap jika harus ada air mata, maka haruslah air mata
bahagia atau air mata sesal terkenang dosamu yang lalu-lalu dan kenyataan bahwa
usiamu berkurang hari ini.
Adik kecil yang dulu
selalu menjadi peniruku yang handal, Semoga kamu dihadiahkan banyak kebaikan
dan keistimewaan oleh Nya. Semoga keserdahananmu tetap menjadi bingkai manis
buat semua orang yang pernah mengenalmu. Semoga terus bertambah rasa cintamu
pada mama dan terutama papa yang sering alpa, karena dengan cara itulah beliau
mencintai kita. Dan terlalu banyak semoga lainnya yang tidak bisa aku tuliskan
semua.
Terimakasih telah
memberi warna dan nuansa berbeda, semoga hijrahmu menjadi orang yang lebih baik
diridhoi oleh Nya.
Selamat Ulang Tahun ke
17 Eggy Dwi Utami,
yang selamanya akan
jadi adik kecilku.

No comments:
Post a Comment