20 Menit di
Kereta
Biasanya aku menunggu lebih lama
diujung peron stasiun, bukan untuk menunggu seseorang, bukan juga takut cepat
pulang, aku hanya menunggu hatiku siap masuk ke dua puluh menit penuh tanya.
Karena dua puluh menit di kereta
benar-benar dunia berbeda. Aku seperti berputar-putar dalam irama yang tak
pernah sama.
Dua puluh menit di kereta bisa
menjelma laba-laba yang merajut benangnya, menghubungkan terlalu banyak hal.
Dua puluh menit di kereta bisa
menjelma kuliah dadakan yang isinya ingat mengingat teori pada buku-buku yang
sudah lama kudebukan.
Dua puluh menit di kereta juga bisa
menjelma ketakutan tentang masa depan dan segala ketidakpastiannya.
Dua puluh menit di kereta juga bisa
menjelma warung kopi tempat kita terbahak pada gosip-gosip murahan yang lekas hilang.
Dua puluh menit di kereta bisa juga
menjelma kamu, penuh cerita, tawa dan air mata.
Dua puluh menit di kereta juga
pernah menjelma banyak doa, pada Nya yang sepanjang hari terlupa.
Namun seringnya dua puluh menit
dikereta menjelma kilatan-kilatan singkat tentang runtutan kejadian yang sudah
lama hilang atau rekaan kejadian yang masih jauh diujung jalan.

No comments:
Post a Comment