Sunday, August 9, 2015

20 Menit di Kereta


Biasanya aku menunggu lebih lama diujung peron stasiun, bukan untuk menunggu seseorang, bukan juga takut cepat pulang, aku hanya menunggu hatiku siap masuk ke dua puluh menit penuh tanya.

Karena dua puluh menit di kereta benar-benar dunia berbeda. Aku seperti berputar-putar dalam irama yang tak pernah sama.

Dua puluh menit di kereta bisa menjelma laba-laba yang merajut benangnya, menghubungkan terlalu banyak hal.
Dua puluh menit di kereta bisa menjelma kuliah dadakan yang isinya ingat mengingat teori pada buku-buku yang sudah lama kudebukan.
Dua puluh menit di kereta juga bisa menjelma ketakutan tentang masa depan dan segala ketidakpastiannya.
Dua puluh menit di kereta juga bisa menjelma warung kopi tempat kita terbahak pada gosip-gosip murahan yang lekas hilang.
Dua puluh menit di kereta bisa juga menjelma kamu, penuh cerita, tawa dan air mata.
Dua puluh menit di kereta juga pernah menjelma banyak doa, pada Nya yang sepanjang hari terlupa.
Namun seringnya dua puluh menit dikereta menjelma kilatan-kilatan singkat tentang runtutan kejadian yang sudah lama hilang atau rekaan kejadian yang masih jauh diujung jalan.

No comments:

Post a Comment