Sunday, August 30, 2015

Dua Delapan

Apa yang istimewa dari dua delapan?

Ahh iya ini setangkai mawar sepuluh ribuan, yang kami beli bersama, berempat atau lebih.
Dan ini, lagi, kami sodorkan hal-hal dalam bingkisan, kecil atau besar, mencoba memvisualisasikan perasaan kami yang abstrak dalam bentuk benda-benda biasa.

Kakak-kakak yang bahagia, senyumannya hari itu tumpah di jalan-jalan. Aku sampai mesti menggulung celana tinggi-tinggi agar tak basah. Rotunda tenggelam dalam senyum, riuh, dan air mata bahagia.

Lantas kemanakah perginya semua cemas dalam pesta dua delapan?
Katanya mereka bersembunyi di jubah-jubah hitam kalian, sesekali mengintip lewat jeda diantara momen foto bersama yang terhenti karena sang fotografer yang sibuk mengatur ISO. Mereka ada disela-sela pelukan yang tak rapat yang menyisakan tempat buat cemas menari-nari tepat diantara dada kalian. Mereka ada ditiap-tiap ucapan selamat yang sekedarnya yang cuma kata-kata bukan doa.

Biar saja Kak, cemas memang selalu punya tempatnya sendiri untuk menggelitik kita dan mengatakan bahwa ia ada dan nyata meski dalam momen-momen penuh bunga.

Dua delapan, meski banyak yang bilang ini tentang bahagia karena telah tiba pada persimpangan menuju fase baru yang luar biasa berbeda, aku lebih setuju jika ia dipanggil saja momen merelakan.

Kakak harus rela, kalau pelan-pelan idealisme luntur demi cepat ini atau cepat itu, demi begini atau begitu.
Kakak harus rela, kalau bukan lagi berbab-bab teori, slide presentasi, atau visualisasi tugas akhir yang jadi kawan dekat semalam suntuk.
Kakak harus rela, kalau kini, kolam makara, lapangan dekanat, riuhnya KaFE, lorong-lorong gedung A dan B bergantian pudar pelan-pelan.
Kakak harus rela, kalau bukan lagi dia, bukan lagi kami, atau bukan lagi mereka yang tiap hari kakak jelang wajah dan tangannya.

Baik-baik ya Kak, karna masih banyak dua delapan, dua delapan lainnya yang akan datang dalam hidup kakak.

Menggelitik kakak dengan banyak kerelaan. 

No comments:

Post a Comment