Dua Delapan
Apa yang istimewa dari dua delapan?
Ahh iya ini setangkai mawar sepuluh
ribuan, yang kami beli bersama, berempat atau lebih.
Dan ini,
lagi, kami sodorkan hal-hal dalam bingkisan, kecil atau besar, mencoba
memvisualisasikan perasaan kami yang abstrak dalam bentuk benda-benda biasa.
Kakak-kakak
yang bahagia, senyumannya hari itu tumpah di jalan-jalan. Aku sampai mesti
menggulung celana tinggi-tinggi agar tak basah. Rotunda tenggelam dalam senyum,
riuh, dan air mata bahagia.
Lantas kemanakah perginya semua cemas
dalam pesta dua delapan?
Katanya mereka bersembunyi di
jubah-jubah hitam kalian, sesekali mengintip lewat jeda diantara momen foto
bersama yang terhenti karena sang fotografer yang sibuk mengatur ISO. Mereka
ada disela-sela pelukan yang tak rapat yang menyisakan tempat buat cemas
menari-nari tepat diantara dada kalian. Mereka ada ditiap-tiap ucapan selamat
yang sekedarnya yang cuma kata-kata bukan doa.
Biar saja Kak, cemas memang selalu
punya tempatnya sendiri untuk menggelitik kita dan mengatakan bahwa ia ada dan
nyata meski dalam momen-momen penuh bunga.
Dua delapan, meski banyak yang bilang
ini tentang bahagia karena telah tiba pada persimpangan menuju fase baru yang
luar biasa berbeda, aku lebih setuju jika ia dipanggil saja momen merelakan.
Kakak harus rela, kalau pelan-pelan
idealisme luntur demi cepat ini atau cepat itu, demi begini atau begitu.
Kakak harus rela, kalau bukan lagi
berbab-bab teori, slide presentasi,
atau visualisasi tugas akhir yang jadi kawan dekat semalam suntuk.
Kakak harus rela, kalau kini, kolam
makara, lapangan dekanat, riuhnya KaFE, lorong-lorong gedung A dan B bergantian
pudar pelan-pelan.
Kakak harus rela, kalau bukan lagi
dia, bukan lagi kami, atau bukan lagi mereka yang tiap hari kakak jelang wajah
dan tangannya.
Baik-baik ya Kak, karna masih banyak
dua delapan, dua delapan lainnya yang akan datang dalam hidup kakak.
Menggelitik kakak dengan banyak
kerelaan.
No comments:
Post a Comment