Sunday, August 9, 2015

Berhadapan dengan Kehilangan

Mungkin aku berlebihan dalam memvisualisasikan rasa takutku, namun sungguh begitu,  berhadapan denganmu sama seperti berhadapan dengan kehilangan.

Aku tau persis, aku akan berhadapan dengan banyak kehilangan jika berhadapan denganmu. Seringkali aku terjaga di pagi buta memikirkan kapan kiranya kehilangan akan datang mengetuk pintuku, meminta kembali kamu yang sedang asyik bersamaku menikmati secangkir teh dingin tak tersentuh karena kita punya berbuku-buku cerita dari  seru hingga pilu.

Sayangnya, kehilangan selalu menganggapku teman kala aku memanggilnya luka.

Ia ada di atap-atap kamarku menggantung sepanjang malam membiarkanku terjaga dalam banyak kekhawatiran
Ia sejengkal jaraknya dari daun-daun pintu rumah kita, bersiap mengetuk pada waktunya
Ia ada di cangkir-cangkir teh dingin milik kita yang malu-malu kita minum airnya
Ia bahkan berada tepat diantara jari-jari kita yang saling memeluk erat.

Aku memang payah berhadapan dengan kehilangan, mungkin karna aku susah rela, begitu kira-kira kata mereka. Aku tak seharusnya susah rela, karna semua yang datang pada dasarnya cuma titipan belaka, sementara, lagi-lagi begitulah kata mereka.

Namun begini biar kuperjelas, kehilangan bagiku setara dengan ruang sempit bagi mereka yang claustorphobic. Bahkan menyebutkannya saja tabu bagiku, mendengarnya disebut adalah sebuah luka baru bagi hatiku yang sudah babak belur. Sini biar kuperjelas, lihat baik-baik luka menganga atau beberapa lebam dihatiku. Yaa sepayah itu separah itu.

Aku memang bukan lawan kehilangan, berhadapan dengannya sungguh aku tak mampu.

Sedihnya berhadapan dengan kehilangan sama dengan berhadapan denganmu. 

No comments:

Post a Comment