Berhadapan
dengan Kehilangan
Mungkin aku berlebihan dalam
memvisualisasikan rasa takutku, namun sungguh begitu, berhadapan denganmu sama seperti berhadapan
dengan kehilangan.
Aku tau persis, aku akan berhadapan
dengan banyak kehilangan jika berhadapan denganmu. Seringkali aku terjaga di
pagi buta memikirkan kapan kiranya kehilangan akan datang mengetuk pintuku,
meminta kembali kamu yang sedang asyik bersamaku menikmati secangkir teh dingin
tak tersentuh karena kita punya berbuku-buku cerita dari seru hingga pilu.
Sayangnya, kehilangan selalu
menganggapku teman kala aku memanggilnya luka.
Ia ada di atap-atap kamarku
menggantung sepanjang malam membiarkanku terjaga dalam banyak kekhawatiran
Ia sejengkal jaraknya dari daun-daun
pintu rumah kita, bersiap mengetuk pada waktunya
Ia ada di cangkir-cangkir teh dingin milik
kita yang malu-malu kita minum airnya
Ia bahkan berada tepat diantara
jari-jari kita yang saling memeluk erat.
Aku memang payah berhadapan dengan
kehilangan, mungkin karna aku susah rela, begitu kira-kira kata mereka. Aku tak
seharusnya susah rela, karna semua yang datang pada dasarnya cuma titipan
belaka, sementara, lagi-lagi begitulah kata mereka.
Namun begini biar kuperjelas,
kehilangan bagiku setara dengan ruang sempit bagi mereka yang claustorphobic.
Bahkan menyebutkannya saja tabu bagiku, mendengarnya disebut adalah sebuah luka
baru bagi hatiku yang sudah babak belur. Sini biar kuperjelas, lihat baik-baik
luka menganga atau beberapa lebam dihatiku. Yaa sepayah itu separah itu.
Aku memang bukan lawan kehilangan,
berhadapan dengannya sungguh aku tak mampu.
Sedihnya berhadapan dengan kehilangan
sama dengan berhadapan denganmu.
No comments:
Post a Comment