Sajak Ketiga Belas
Ada senyum malu-malu mendayu dibaju
kotak-kotakmu, yang dengan sengaja kau tunggu di penghujung senja sore itu. Aku
pun begitu, ada rekah senyum bercampur cemas yang juga malu-malu bergelantungan
bebas di kerudung merahku.
Kita adalah sajak ketiga belas pada
bulan-bulan tanpa nama, yang temaramnya sama-sama kita jaga pada jalan setapak
menuju rumah. Aku adalah ia yang mendongak mencari kemana bintang biasanya
pergi dalam malam-malam gelap kita. Sedang kamu adalah ia yang menanti
kata-kata tersulam indah pada ujung-ujung jemari, sehingga lebih mudah
dilantunkan atau untuk sekedar mengikat kelingking-kelingking kita yang mungil.
Malam selalu menjelma rindu tanpa
sebab musabab buat kita, karena rimanya hantarkan kita pada banyak bahagia dan
nadanya hantarkan kita pada banyak harap yang masih tertinggal dikerongkongan.
Kita adalah bait pertama dalam sajak
ketiga belas, yang dengan jenaka berkisah tentang banyak dilema dan tanya,
tentang bingung, tawa, dan airmata. Kita juga bait paling akhir dalam sajak
ketiga belas yang padanya banyak doa diselipkan dalam sederhananya empat larik
yang menjelma pinta.
Sajak ketiga belas adalah kita yang
bergantian menari dalam kata, merajutnya sederhana, dan mencari diksi-diksi
biasa. Agar kelak ada yang diam-diam memahami mengapa kita rela menjelma sajak
ketiga belas.
No comments:
Post a Comment