Tentang
Pulang
“Ibaratkan dirimu dalam wujud sebuah
benda!”
“Rumah” tanpa ragu aku menjawab
***
Biasanya tepat pukul lima sore, ada
secangkir teh dengan uap putihnya membumbung kemudian pasrah menyebar ketempat
angin meniupnya. Teras kecil dengan bunga kertas warna pink meliuk indah
dipagar hitam yang konon semakin hitam jika lebaran tinggal menghitung jari
ditangan. Ada riuh tawa dan remah-remah regal yang berjatuhan mengundang
semut-semut hitam di halaman.
Aku selalu merasa dirumah jika
secangkir teh manis yang susah payah kau takar gulanya di dapur, kau suguhkan
padaku (atau mungkin sebalikannya). Katanya rumah adalah tempat pulang,
mustahil bicara rumah tanpa bicara pulang. Tempat kita menunggu gerimis usai atau
menyaksikan bayangan tepat serupa ukuran benda.
Kata seseorang, pulang tak melulu
soal rumah, ia bisa saja keluar dari tempat yang tak-terlampau-kita-suka,
kampus misalnya. Aku menanggapinya dengan tawa seperti biasa, lalu beberapa
anggukan wujud persetujuan dan rekahan senyum yang diam-diam aku kendalikan
lebarnya.
Aku ingin jadi serupa rumah, karena
menurutku rumah adalah jelmaan ikhlas yang paling sempurna rupanya. Ia adalah
tempat melepas lelah, tempat bercangkir-cangkir teh diseduh, tempat jutaan
tetes air mata diseka, tempat banyak kepala disandarkan, atau tawa lepas
dihempas. Meski begitu, ia juga rela ditinggal, rela dianggap biasa karena
terbiasa, rela tersisih demi momen-momen lain yang cuma terjadi sekali dua
kali.
Mungkin pulang memang tak melulu
tentang “rumah” maksudnya tak melulu bicara bangunan yang tersusun dari bata
dan semen solid. Mungkin filosofi rumah yang sebenarnya aku ingin tiru, karna
dari kata seseorang tadi makna rumah rasanya jadi terasa lebih luas. Rumah bisa
saja benda, bangunan tempat biasa kita memulai dan mengakhiri rutinitas, tapi
lebih dari itu, rumah bisa jadi secangkir teh manis pukul lima sore dimanapun,
bisa juga tawa lepas dengan siapapun, atau setara dengan rasa nyaman bersandar
dalam tenang dibahu ia yang tersayang.
Yaa... mungkin aku masih belum bisa
membahasakan keterkaitan dan ketidakterkaitan pulang dan rumah dengan sempurna.
Ini cuma susunan kata berantakan yang kutangkap satu-satu dikepala. Mungkin
kamu, bisa lebih pandai membahasakannya, atau tidak perlu dibahasakan karna ini
tentang pulang, perasaan lega karena lelah bisa segera dilepas.
No comments:
Post a Comment