Sunday, September 20, 2015

Tentang Pulang

“Ibaratkan dirimu dalam wujud sebuah benda!”
“Rumah” tanpa ragu aku menjawab

***
Biasanya tepat pukul lima sore, ada secangkir teh dengan uap putihnya membumbung kemudian pasrah menyebar ketempat angin meniupnya. Teras kecil dengan bunga kertas warna pink meliuk indah dipagar hitam yang konon semakin hitam jika lebaran tinggal menghitung jari ditangan. Ada riuh tawa dan remah-remah regal yang berjatuhan mengundang semut-semut hitam di halaman.

Aku selalu merasa dirumah jika secangkir teh manis yang susah payah kau takar gulanya di dapur, kau suguhkan padaku (atau mungkin sebalikannya). Katanya rumah adalah tempat pulang, mustahil bicara rumah tanpa bicara pulang. Tempat kita menunggu gerimis usai atau menyaksikan bayangan tepat serupa ukuran benda.

Kata seseorang, pulang tak melulu soal rumah, ia bisa saja keluar dari tempat yang tak-terlampau-kita-suka, kampus misalnya. Aku menanggapinya dengan tawa seperti biasa, lalu beberapa anggukan wujud persetujuan dan rekahan senyum yang diam-diam aku kendalikan lebarnya.

Aku ingin jadi serupa rumah, karena menurutku rumah adalah jelmaan ikhlas yang paling sempurna rupanya. Ia adalah tempat melepas lelah, tempat bercangkir-cangkir teh diseduh, tempat jutaan tetes air mata diseka, tempat banyak kepala disandarkan, atau tawa lepas dihempas. Meski begitu, ia juga rela ditinggal, rela dianggap biasa karena terbiasa, rela tersisih demi momen-momen lain yang cuma terjadi sekali dua kali.

Mungkin pulang memang tak melulu tentang “rumah” maksudnya tak melulu bicara bangunan yang tersusun dari bata dan semen solid. Mungkin filosofi rumah yang sebenarnya aku ingin tiru, karna dari kata seseorang tadi makna rumah rasanya jadi terasa lebih luas. Rumah bisa saja benda, bangunan tempat biasa kita memulai dan mengakhiri rutinitas, tapi lebih dari itu, rumah bisa jadi secangkir teh manis pukul lima sore dimanapun, bisa juga tawa lepas dengan siapapun, atau setara dengan rasa nyaman bersandar dalam tenang dibahu ia yang tersayang.


Yaa... mungkin aku masih belum bisa membahasakan keterkaitan dan ketidakterkaitan pulang dan rumah dengan sempurna. Ini cuma susunan kata berantakan yang kutangkap satu-satu dikepala. Mungkin kamu, bisa lebih pandai membahasakannya, atau tidak perlu dibahasakan karna ini tentang pulang, perasaan lega karena lelah bisa segera dilepas. 

No comments:

Post a Comment