Hari
Terakhir di Dunia
Seandainya
hari ini adalah hari terakhirku di dunia...
Aku ingin
bersamamu pergi ke Islandia, menggengam segelas coklat panas dan menyaksikan
badai aurora di angkasa.
Aku ingin
merangkai 1000 bangau kertas, untuk sebuah permintaan rahasia untukmu yang
paling aku sayang.
Aku ingin
belajar terbang, sehingga jika kelak malaikat mengajakku terbang, aku tidak
perlu panik menyeimbangkan badanku yang selalu kau bilang gempal.
Aku ingin
berdansa bersamamu di sepanjang jalan Champs-Elysees, diiringi gumamanmu yang
merdu
meski dengan gemelatuk gigi, karna angin dingin yang tak pernah kita
alami disini.
Aku ingin
jadi serupa Ibu, mengasihi anaknya tanpa keluh lalu terjatuh sendiri dalam
sakitnya dan masih bisa bilang “baik-baik saja” dengan senyum tipis pada
pipinya yang mulai mengendur.
Aku ingin
bisa berbaring bersamamu di atas salju Alpen yang putih bersih tanpa noda, lalu
terkena gejala hipotermia, hingga kita berakhir dalam peluk saling
menghangatkan.
Aku ingin
terbang di atas Capadocia menyaksikan cahaya senja yang temaram bersamamu, lalu
habis dan sadar pada saat itulah habis
sudah masaku.
Aku ingin
melakukan semuanya dalam satu hari terakhirku.
Tapi
sebentar,
Ada kupu-kupu
kuning di halamanmu yang ingin sekali aku kejar dan tangkap, lalu ku hadiahkan
padamu dalam toples bening yang aku bawa susah payah dari rumah.
Ada
seseruput teh manis dingin yang ingin ku habiskan, dengan endapan gula
dibawahnya yang biasanya aku sisakan, hingga akhirnya ia berpindah ke bak cuci
piring di belakang.
Ada pesan
singkat di malam hari yang selalu aku lupa kirimkan, mungkin karena tugas menyalak
minta diperhatikan, atau lupa karna aku sedang berkhayal, menyusun nama-nama
yang hendak aku jajarkan di masa depanku yang abu-abu, hingga akhirnya aku
jatuh terlelap dalam tidur tanpa doa.
Ada cium
yang selalu malu aku daratkan pada pipi mama papa dirumah, demi sebuah
alasan aku tidak terbiasa.
Ada kata
yang masih menggantung di kerongkongan tentang betapa aku mengagumi milyaran
bintang pada kedua bola matamu yang mengerjap.
Ada peluk
yang belum aku hadiahkan untuk nama-nama yang muncul sebelum aku hilang dalam
mimpi yang dalam.
Ada jalan
pulang yang selalu kita susur dalam gelap yang lupa aku syukuri karna selalu
membawa kita pada lelap ditempat paling nyaman.
Ada semua
rutinitas biasa yang ingin aku lakukan seperti biasa, hanya saja dengan syukur
yang jutaan kali lebih besar.
Jika ini
hari terakhir ku di dunia, aku tidak akan pergi ke Islandia, tidak juga ke Champs-Elysees, atau Capadocia. Aku hanya ingin kamu menggenggam tanganku dalam jalan biasa
yang kita susur menuju rumah.
Aku hanya ingin mencium mama papa dirumah,
lalu jatuh terlelap dalam tidur yang ternyata untuk selamanya.
Aku hanya
ingin pulang, dengan syukur yang banyak.
No comments:
Post a Comment