Tuesday, November 17, 2015

Hari Terakhir di Dunia

Seandainya hari ini adalah hari terakhirku di dunia...

Aku ingin bersamamu pergi ke Islandia, menggengam segelas coklat panas dan menyaksikan badai aurora di angkasa.

Aku ingin merangkai 1000 bangau kertas, untuk sebuah permintaan rahasia untukmu yang paling aku sayang.

Aku ingin belajar terbang, sehingga jika kelak malaikat mengajakku terbang, aku tidak perlu panik menyeimbangkan badanku yang selalu kau bilang gempal.

Aku ingin berdansa bersamamu di sepanjang jalan Champs-Elysees, diiringi gumamanmu yang merdu 
meski dengan gemelatuk gigi, karna angin dingin yang tak pernah kita alami disini.

Aku ingin jadi serupa Ibu, mengasihi anaknya tanpa keluh lalu terjatuh sendiri dalam sakitnya dan masih bisa bilang “baik-baik saja” dengan senyum tipis pada pipinya yang mulai mengendur.

Aku ingin bisa berbaring bersamamu di atas salju Alpen yang putih bersih tanpa noda, lalu terkena gejala hipotermia, hingga kita berakhir dalam peluk saling menghangatkan.

Aku ingin terbang di atas Capadocia menyaksikan cahaya senja yang temaram bersamamu, lalu habis  dan sadar pada saat itulah habis sudah masaku.

Aku ingin melakukan semuanya dalam satu hari terakhirku.

Tapi sebentar,

Ada kupu-kupu kuning di halamanmu yang ingin sekali aku kejar dan tangkap, lalu ku hadiahkan padamu dalam toples bening yang aku bawa susah payah dari rumah.

Ada seseruput teh manis dingin yang ingin ku habiskan, dengan endapan gula dibawahnya yang biasanya aku sisakan, hingga akhirnya ia berpindah ke bak cuci piring di belakang.

Ada pesan singkat di malam hari yang selalu aku lupa kirimkan, mungkin karena tugas menyalak minta diperhatikan, atau lupa karna aku sedang berkhayal, menyusun nama-nama yang hendak aku jajarkan di masa depanku yang abu-abu, hingga akhirnya aku jatuh terlelap dalam tidur tanpa doa.

Ada cium yang selalu malu aku daratkan pada pipi mama papa dirumah, demi sebuah alasan aku tidak terbiasa.

Ada kata yang masih menggantung di kerongkongan tentang betapa aku mengagumi milyaran bintang pada kedua bola matamu yang mengerjap.

Ada peluk yang belum aku hadiahkan untuk nama-nama yang muncul sebelum aku hilang dalam mimpi yang dalam.

Ada jalan pulang yang selalu kita susur dalam gelap yang lupa aku syukuri karna selalu membawa kita pada lelap ditempat paling nyaman.

Ada semua rutinitas biasa yang ingin aku lakukan seperti biasa, hanya saja dengan syukur yang jutaan kali lebih besar.

Jika ini hari terakhir ku di dunia, aku tidak akan pergi ke Islandia, tidak juga ke Champs-Elysees, atau Capadocia. Aku hanya ingin kamu menggenggam tanganku dalam jalan biasa yang kita susur menuju rumah. 
Aku hanya ingin mencium mama papa dirumah, lalu jatuh terlelap dalam tidur yang ternyata untuk selamanya.


Aku hanya ingin pulang, dengan syukur yang banyak. 

No comments:

Post a Comment