Bianglala pukul 17:55
Angin dengan congkak menerpa rambut
hitammu yang mengkilat ditimpa matahari yang tinggal sepenggalan. Ada aroma
khas yang sangat aku suka setelahnya memenuhi seluruh rongga dada. Rasanya
seperti tulip merah jambu bermekaran bebas didalamnya. Aku mengembangkan
senyuman yang biasanya malu-malu aku sunggingkan, spesial karena ini bianglala
pukul 17.55.
Senja itu, semua tanya entah menguap
habis ditelan mentari atau berenang berpencar pada batas-batas samudera jauh
dari tempat kita terduduk tanpa suara. Ada rasa nyaman yang tidak bisa aku
bahasakan, karena seberapapun aku mencobanya semua terasa menenangkan hanya
dengan begitu adanya.
Pada semburat jingga yang jarang kita
saksikan dan dalam ketinggian bianglala yang menakutkan juga indah disaat yang
bersamaan, ada lukisan oranye pekat berbatas horizon tipis yang kita bagi
berdua. Meski dalam diam, aku mampu menyerap semua kata yang satu-satu kamu
terbangkan, lalu jatuh satu-satu di lautan. Kamu pun begitu, meski dalam diam
kamu mampu menangkap kupu-kupu yang melayang pelan dari ujung jari-jariku yang
mungil, lalu kamu terbangkan mereka setelah membisikan sebaris dua baris kata.
Kita beputar dalam rodanya yang bulat
sempurna, satu menit munuju puncak lingkaran.
Ada pandangan yang hati-hati kita
bagi. Pandangan yang seperti punya tangan-tangan panjang untuk memeluk erat
kita hingga nuansa oranye pekat ini tenggelam dan beristirahat di dasar
samudera. Pandangan tentang dua pasang mata memikat dengan milayaran bintang di
dalamnya, menari seirama dengan detak jantung kita yang entah mengapa berdegup
makin kuat.
Angin yang sama yang menerpa rambutmu
dengan congkaknya, dengan sengaja meniup tulip merah jambu di dalam rongga
dadaku. Terlalu banyak rasa tanpa nama yang baru-baru ini muncul dan menyapaku.
Pada sepasang mata dalam bianglala
pukul 17:55, adakah yang lebih indah dari menanti mentari berhenti menari pada
senja yang sebentar lagi berakhir?
Bianglala pukul 17:55, rasanya belum
pernah aku jatuh sedalam ini.
No comments:
Post a Comment