Sunday, January 17, 2016



Mati Pura-pura



Apa yang membuatmu tabah saat tahu matahari diujung horizon segera tenggelam, tak lagi bersinar?

Lantas saat malam tiba dan dalam langitmu hanya hampa hitam pekat tanpa bulan yang menggantung bebas, atau bintang yang berkerumun mesra. Hal apa yang paling membuatmu tabah, mengingat tak ada janji yang mengikat antara kamu dan langit malam?

Ketika aksara layu dan mati dalam genggaman, karena terlalu erat kamu pegang, sedang kamu adalah pujangga yang bernapas lewat kata. Apa yang membuatmu tabah, mengingat paru-parumu hampir kering kehabisan udara?

Karena kamu terbiasa menyaksikan kepergian mentari setiap hari, kamu terbiasa menyaksikannya mati kemudian esok hidup kembali. Seolah mati perkara rutin. Kamu terbiasa padanya. 

Karena langit malam mati pada hari yang bisa kau hitung hanya dengan satu jari, kamu hanya perlu menanti, hingga akhirnya bulan muncul kembali. Kamu terbiasa padanya. 

Karena aksara yang mati dalam genggaman dan habis udara dalam rongga dada adalah satu dua kali pengalaman berulang yang kau hayati, maka bagimu itu cuma perkara bertahan menahan sakit. Pada akhirnya ketika habis udara, kamu akan perlehan melepas aksara dari genggaman, dan udara kembali memenuhi jiwamu yang hampir mati. Kamu terbiasa padanya. 

Lalu bagaimana dengan aku? 

Adakah aku serupa mentari, langit malam, atau aksara dalam genggaman?
Adakah keberadaanku yang hidup kemudian mati adalah hal yang berulang dalam bukumu, sehingga kamu terbiasa padanya?
Adakah aku kau anggap pola yang sudah kau hapal bentukunya?

Apa jika jiwaku sudah mati dalam dekapmu, maka kamu bisa menghitung dengan jarimu sehingga ketika itu aku bisa bangkit dari sakit yang dibuat-buat, dari mati yang pura-pura?
Tapi sayang, jika ini bukan sakit yang dibuat-buat bukan mati yang pura-pura, akankah kamu terbiasa padanya?

Padaku yang tak berulang, padaku yang bukan mati pura-pura.

No comments:

Post a Comment