Mati Pura-pura
Apa yang membuatmu tabah saat tahu matahari diujung horizon segera tenggelam, tak lagi bersinar?
Lantas saat
malam tiba dan dalam langitmu hanya hampa hitam pekat tanpa bulan yang
menggantung bebas, atau bintang yang berkerumun mesra. Hal apa yang paling
membuatmu tabah, mengingat tak ada janji yang mengikat antara kamu dan langit
malam?
Ketika
aksara layu dan mati dalam genggaman, karena terlalu erat kamu pegang, sedang
kamu adalah pujangga yang bernapas lewat kata. Apa yang membuatmu tabah,
mengingat paru-parumu hampir kering kehabisan udara?
Karena kamu
terbiasa menyaksikan kepergian mentari setiap hari, kamu terbiasa
menyaksikannya mati kemudian esok hidup kembali. Seolah mati perkara rutin.
Kamu terbiasa padanya.
Karena
langit malam mati pada hari yang bisa kau hitung hanya dengan satu jari, kamu
hanya perlu menanti, hingga akhirnya bulan muncul kembali. Kamu terbiasa
padanya.
Karena
aksara yang mati dalam genggaman dan habis udara dalam rongga dada adalah satu
dua kali pengalaman berulang yang kau hayati, maka bagimu itu cuma perkara
bertahan menahan sakit. Pada akhirnya ketika habis udara, kamu akan perlehan
melepas aksara dari genggaman, dan udara kembali memenuhi jiwamu yang hampir
mati. Kamu terbiasa padanya.
Lalu
bagaimana dengan aku?
Adakah aku
serupa mentari, langit malam, atau aksara dalam genggaman?
Adakah
keberadaanku yang hidup kemudian mati adalah hal yang berulang dalam bukumu,
sehingga kamu terbiasa padanya?
Adakah aku
kau anggap pola yang sudah kau hapal bentukunya?
Apa jika
jiwaku sudah mati dalam dekapmu, maka kamu bisa menghitung dengan jarimu
sehingga ketika itu aku bisa bangkit dari sakit yang dibuat-buat, dari mati
yang pura-pura?
Tapi sayang,
jika ini bukan sakit yang dibuat-buat bukan mati yang pura-pura, akankah kamu
terbiasa padanya?
Padaku yang
tak berulang, padaku yang bukan mati pura-pura.

No comments:
Post a Comment