Monday, January 18, 2016



23:21

23:21 malam itu, aku menunggu.

Kamu tidak juga datang. Tidak dalam jatuhmu yang mengetuk-ngetuk jendela tipis kamarku, atau dalam jatuhmu yang menina bobokan semua pilu dan ragu.  Terhadap janji yang sudah kau lingkari pada kalender di dinding kamarku, seringkali harus berakhir pada tidur tanpa doa dan kenyataan memilukan, aspal depan rumah masih saja kering dan berdebu.

Ya, mungkin kamu lupa datang (lagi). 

Hujan, pada sabarku yang ada batasnya, aku tidak tahu sampai kapan kalenderku mampu menampung beban lingkaran merah pada tanggalnya. Aku tidak tahu sampai kapan tidur tanpa doa dan kenyataan memilukan aspal depan rumah masih kering dan berdebu mampu aku serap dalam isak. Aku sungguh tak tau sampai kapan. 

Tak sudikah kamu jatuh lagi di halaman depan rumahku, demi Sera si kupu-kupu kuning yang kita kejar dalam tawa, atau demi Thea mawar kecil yang selalu kita perhatikan dalam diam. 

Aku biasanya duduk di atas kasurku memeluk kaki dan terdiam, Claude Debussy mendengung di kepala, lalu entah darimana semua rindu, satu-satu sudah berserakan dalam kamar. Ahh.. aku tau si pembawa rindu hadir dalam malamku, datang membasahi ujung-ujung jemariku, lalu bersamaku mengikat semua kenangan yang berserakan dan menerbangkannya ke angkasa layaknya balon helium aneka warna yang selalu jadi favoritku. 

Hujan, pada prosaku yang kutebar sembarangan semoga yang ini sampai pada hatimu. Bukan, aku bukan hendak menakutimu, atau mengajarkanmu tentang betapa perihnya tiba pada tujuan namun tak dinanti siapa siapa. Bukan, bukan itu. 

Hujan, ini aku buat untukmu, agar kamu tau, aku masih punya berlembar-lembar kalender untuk kamu lingkari tanggalnya. 

Agar kamu tau, dalam lelah 23:21 aku masih menunggu.

No comments:

Post a Comment