23:21
23:21 malam
itu, aku menunggu.
Kamu tidak
juga datang. Tidak dalam jatuhmu yang mengetuk-ngetuk jendela tipis kamarku,
atau dalam jatuhmu yang menina bobokan semua pilu dan ragu. Terhadap janji yang sudah kau lingkari pada
kalender di dinding kamarku, seringkali harus berakhir pada tidur tanpa doa dan
kenyataan memilukan, aspal depan rumah masih saja kering dan berdebu.
Ya, mungkin
kamu lupa datang (lagi).
Hujan, pada
sabarku yang ada batasnya, aku tidak tahu sampai kapan kalenderku mampu
menampung beban lingkaran merah pada tanggalnya. Aku tidak tahu sampai kapan
tidur tanpa doa dan kenyataan memilukan aspal depan rumah masih kering dan
berdebu mampu aku serap dalam isak. Aku sungguh tak tau sampai kapan.
Tak sudikah
kamu jatuh lagi di halaman depan rumahku, demi Sera si kupu-kupu kuning yang
kita kejar dalam tawa, atau demi Thea mawar kecil yang selalu kita perhatikan
dalam diam.
Aku biasanya
duduk di atas kasurku memeluk kaki dan terdiam, Claude Debussy mendengung di
kepala, lalu entah darimana semua rindu, satu-satu sudah berserakan dalam
kamar. Ahh.. aku tau si pembawa rindu hadir dalam malamku, datang membasahi
ujung-ujung jemariku, lalu bersamaku mengikat semua kenangan yang berserakan
dan menerbangkannya ke angkasa layaknya balon helium aneka warna yang selalu
jadi favoritku.
Hujan, pada
prosaku yang kutebar sembarangan semoga yang ini sampai pada hatimu. Bukan, aku
bukan hendak menakutimu, atau mengajarkanmu tentang betapa perihnya tiba pada
tujuan namun tak dinanti siapa siapa. Bukan, bukan itu.
Hujan, ini
aku buat untukmu, agar kamu tau, aku masih punya berlembar-lembar kalender
untuk kamu lingkari tanggalnya.
Agar kamu
tau, dalam lelah 23:21 aku masih menunggu.
No comments:
Post a Comment