Saturday, January 23, 2016



Orkestra 12 Malam

Ada bait pilu dan rindu menyatu mengubah dinding abu-abu kamarku, bertambah pekat setiap menit berlalu karna masih saja ada kamu duduk terdiam disudut kepalaku, lesu.

Rintik yang kau sapu dengan telunjuk  kananmu  bertambah deras saja malam itu, seolah ia tahu, ia sudah tiba pada musim itu. Pada jarak di ruang pengap tempat kamu mengupkan kata, sepertinya ada jutaan jarum tipis berjatuhan di sekujur tubuhku. Kata yang kau ucap berubah bentuk, dipantulkan langit-langit ruang yang tingginya persis dengan tinggimu. 

Merah matamu dan isak yang kau sembunyikan bersama dengan ribuan maaf yang kamu dengungkan di kepala  serupa orkesta tanpa pemirsa.  Setiap lagu selesai dilantunkan ada jeda yang rasanya mengerikan, sunyi yang mencekam tanpa tepuk tangan. 

Lebam pada bayang yang ku tatap di cermin keesokannya adalah bukti hujan pernah turun amat deras diantara jarak yang kita cipta. Luka yang bekasnya masih sama-sama bisa kita lihat dengan jelas, adalah penanda bahwa sakit yang sama-sama kita rasa memang ada dan nyata.

Tidak ada sesal sedikitpun terlintas dari banjir yang tercipta berkat hujan deras di ruang pengap. Satu-satunya yang hanyut bersama hujan ke samudera adalah prasangka yang membuat kita sama-sama terpenjara. 

Terimakasih sudah berbicara, membisikanku rahasia penyebab luka. 

Jika masih ada hujan jatuh dari sepasang mata disana, tak apa, luka dan air mata adalah keindahan yang Tuhan cipta diantara kita.

No comments:

Post a Comment