Orkestra 12 Malam
Ada bait
pilu dan rindu menyatu mengubah dinding abu-abu kamarku, bertambah pekat setiap
menit berlalu karna masih saja ada kamu duduk terdiam disudut kepalaku, lesu.
Rintik yang
kau sapu dengan telunjuk kananmu bertambah deras saja malam itu, seolah ia
tahu, ia sudah tiba pada musim itu. Pada jarak di ruang pengap tempat kamu
mengupkan kata, sepertinya ada jutaan jarum tipis berjatuhan di sekujur
tubuhku. Kata yang kau ucap berubah bentuk, dipantulkan langit-langit ruang
yang tingginya persis dengan tinggimu.
Merah matamu
dan isak yang kau sembunyikan bersama dengan ribuan maaf yang kamu dengungkan
di kepala serupa orkesta tanpa pemirsa. Setiap lagu selesai dilantunkan ada jeda yang
rasanya mengerikan, sunyi yang mencekam tanpa tepuk tangan.
Lebam pada
bayang yang ku tatap di cermin keesokannya adalah bukti hujan pernah turun amat
deras diantara jarak yang kita cipta. Luka yang bekasnya masih sama-sama bisa
kita lihat dengan jelas, adalah penanda bahwa sakit yang sama-sama kita rasa
memang ada dan nyata.
Tidak ada
sesal sedikitpun terlintas dari banjir yang tercipta berkat hujan deras di
ruang pengap. Satu-satunya yang hanyut bersama hujan ke samudera adalah
prasangka yang membuat kita sama-sama terpenjara.
Terimakasih
sudah berbicara, membisikanku rahasia penyebab luka.
Jika masih
ada hujan jatuh dari sepasang mata disana, tak apa, luka dan air mata adalah
keindahan yang Tuhan cipta diantara kita.
No comments:
Post a Comment