Monday, March 14, 2016

Sebelum Ulang Tahun Mama

Segelas teh panas dengan uap putihnya mengudara, teh yang diseduh dengan air panas seluruhnya adalah keharusan  buat mama. Tiga sendok teh gula paling banyak, kadang dua jika sebelumnya mama sudah dengan nikmatnya menyeruput kopi ditangan. Katanya teh buatanku adalah favoritnya “Enak nih mba, teh kamu pas” sambil lalu ia berkata.

Hujan masih sering turun, padahal kalendar sudah jauh dari bulan-bulan dengan ‘ber’ diakhir namanya.

Mama suka hujan.
“Banyak berdoa Mba kalo ujan, doanya manjur!”

Tapi mama juga tak suka hujan.
“Aduh... cucian mama kapan keringnya, ujan dari pagi ketemu pagi”
Baginya hujan adalah benci dan cinta, keduanya bersama-sama.

Sebelum ulang tahun mama,
Setiap tahunnya, aku selalu ingin bertanya hadiah apa yang mama inginkan. Tapi setiap ulang tahun mama, aku selalu gagal bertanya.
Sebatang coklat, secarik surat, berulang.

Ulang tahun adalah perayaan dalam hati dan harap buat keluarga kami. Kue diatas meja dan beberapa kotak hadiah adalah anomali yang mungkin diam-diam kami doakan. Pada ulang tahunku beberapa tahun yang lalu, aku pura-pura jadi batu dalam tidurku, mama mencium pipi kananku, mengucapkan maaf dan selamat ulang tahun setelahnya.
Aku menangis dalam tidurku yang pura-pura.

Pada anomali yang mungkin juga mama doakan dalam sujudnya yang panjang. Anak gadismu ini masih saja tak mampu bertanya hadiah apa yang benar-benar mama inginkan.
Anak gadismu takut, pada satu hal yang mama pinta, ia tak mampu memitakan hadiahnya dan menyodorkannya dengan riang.

Sebelum ulang tahun mama selalu ada doa,
Semoga tahun ini aku mampu bertanya
“Ma, mau hadiah apa dari Rara?”


No comments:

Post a Comment