Sebelum
Ulang Tahun Mama
Segelas teh panas dengan uap putihnya
mengudara, teh yang diseduh dengan air panas seluruhnya adalah keharusan buat mama. Tiga sendok teh gula paling banyak,
kadang dua jika sebelumnya mama sudah dengan nikmatnya menyeruput kopi
ditangan. Katanya teh buatanku adalah favoritnya “Enak nih mba, teh kamu pas”
sambil lalu ia berkata.
Hujan masih sering turun, padahal
kalendar sudah jauh dari bulan-bulan dengan ‘ber’ diakhir namanya.
Mama suka hujan.
“Banyak berdoa Mba kalo ujan, doanya
manjur!”
Tapi mama juga tak suka hujan.
“Aduh... cucian mama kapan keringnya,
ujan dari pagi ketemu pagi”
Baginya hujan adalah benci dan cinta,
keduanya bersama-sama.
Sebelum ulang tahun mama,
Setiap tahunnya, aku selalu ingin
bertanya hadiah apa yang mama inginkan. Tapi setiap ulang tahun mama, aku
selalu gagal bertanya.
Sebatang coklat, secarik surat,
berulang.
Ulang tahun adalah perayaan dalam
hati dan harap buat keluarga kami. Kue diatas meja dan beberapa kotak hadiah
adalah anomali yang mungkin diam-diam kami doakan. Pada ulang tahunku beberapa
tahun yang lalu, aku pura-pura jadi batu dalam tidurku, mama mencium pipi
kananku, mengucapkan maaf dan selamat ulang tahun setelahnya.
Aku menangis dalam tidurku yang
pura-pura.
Pada anomali
yang mungkin juga mama doakan dalam sujudnya yang panjang. Anak gadismu ini
masih saja tak mampu bertanya hadiah apa yang benar-benar mama inginkan.
Anak gadismu
takut, pada satu hal yang mama pinta, ia tak mampu memitakan hadiahnya dan
menyodorkannya dengan riang.
Sebelum ulang tahun
mama selalu ada doa,
Semoga tahun ini aku
mampu bertanya
“Ma, mau hadiah apa
dari Rara?”
No comments:
Post a Comment