Selamat malam,
Sajakmu baru saja
sampai didepan rumah.
Ia datang pagi-pagi
sekali kemarin lusa, menceritakan kamu dalam bentuk yang teramat berbeda, sungguh
tak pernah ku sangka-sangka. Ia terengah dan gemetar ketika tiba, seperti
diburu waktu. Katanya, kamu yang menyuruhnya begitu.
Ia memohon untuk
diizinkan masuk, ada air mata dipipinya, aku tau dia sungguh-sungguh, jadi
kubiarkan ia duduk di sofa merahku. Lalu ia mulai bercerita tentang kamu dan
hidupmu. Tak bisa aku pungkiri, kamu masih laki-laki pintar itu. Daripada datang menemuiku, kamu malah
mengirimnya padaku.
Ia lebih pandai
berbicara daripada kamu, ia mampu membuatku tenggelam dalam ingatan yang lama
sudah kudebukan di loteng rumah.
Beginikah caramu kembali
menerobos jiwaku?
Kini ia tinggal
dibawah bantal dengan sprei putih milikku, sesekali masih bergumam tentang kamu,
namun lebih sering terlelap bersamaku.
No comments:
Post a Comment