Monday, August 1, 2016

Semangkuk Rindu

“Nona, ini dia semangkuk rindu dari tuan di seberang sana. Katanya, Tuan sedih melihat nona duduk menunggu dengan segelas anggur kesepian, siapakah gerangan yang harusnya duduk di hadapan Nona?“

“Mungkinkah dia Tuan kepastian? atau Nona sebenarnya hanya sedang menanti Tuan Kenangan?”

“Nona cantik, tak sudikah memesan yang lain? Mengapa tidak mencoba sepotong kue manis atau mungkin buskuit riang andalan restoran kami?”

Nona cantik membisu.

“Baiklah Nona, begini saja, ini semangkuk rindu yang dipesan oleh Tuan dari meja seberang, cukup hangat untuk perut Nona yang sejak tadi hanya berisi anggur kesepian”

“Semoga Nona menikmatinya” pelayan tersenyum, hendak berlalu.

“Sebentar, bagaimana caraku menikmati semangkuk rindu tanpa sendok yang kau berikan padaku?” Nona cantik akhirnya bertanya.

“Ahh, Nona pasti baru pertama kali datang ke restauran kami!”

“Begitulah Nona, tak pernah ada yang datang menikmati rindu dengan sendok disini. Lagi pula bukankah memang begitu cara terbaik menikmati rindu, diteguk hingga ceguk”



Nona cantik bingung, hampir menangis. 

No comments:

Post a Comment