Semangkuk Rindu
“Nona, ini dia semangkuk rindu dari
tuan di seberang sana. Katanya, Tuan sedih melihat nona duduk menunggu dengan
segelas anggur kesepian, siapakah gerangan yang harusnya duduk di hadapan Nona?“
“Mungkinkah dia Tuan kepastian? atau
Nona sebenarnya hanya sedang menanti Tuan Kenangan?”
“Nona
cantik, tak sudikah memesan yang lain? Mengapa tidak mencoba sepotong kue manis
atau mungkin buskuit riang andalan restoran kami?”
Nona cantik
membisu.
“Baiklah
Nona, begini saja, ini semangkuk rindu yang dipesan oleh Tuan dari meja
seberang, cukup hangat untuk perut Nona yang sejak tadi hanya berisi anggur
kesepian”
“Semoga Nona
menikmatinya” pelayan tersenyum, hendak berlalu.
“Sebentar,
bagaimana caraku menikmati semangkuk rindu tanpa sendok yang kau berikan
padaku?” Nona cantik akhirnya bertanya.
“Ahh, Nona
pasti baru pertama kali datang ke restauran kami!”
“Begitulah
Nona, tak pernah ada yang datang menikmati rindu dengan sendok disini. Lagi
pula bukankah memang begitu cara terbaik menikmati rindu, diteguk hingga ceguk”
Nona cantik
bingung, hampir menangis.
No comments:
Post a Comment