Tepat pukul
lima sore banyak langkah berderap segera pergi, salam sampai jumpa dan selamat
sore. Sudah selesai, setidaknya untuk hari ini.
Peluh yang
tidak pernah jatuh karena suhu ruangan yang selalu begitu nampaknya harus
tumpah di penghujung hari.
Ada yang
jadi sangat berbeda dari semua yang terjadi seharian, biasanya ada diam-diam
menemuimu di pojok ruang cuma untuk bertukar pandang dan sedikit tawa akhirnya
rindu-rindu kecil yang bertebaran dijalan bisa segera dipindah tangankan pada
yang paling berhak.
Biasanya
sepiring mie yang habis kau makan dan segelas teh manis yang aku sesap dengan
riang jadi penutup malam yang membuat mimpi buruk enggan datang.
Biasanya
bersandar dalam diam, hingga akhirnya berpisah pada jalan pulang yang belum
sama.
Biasanya ada
sumpai jumpa, selamat malam, dan peluk malu-malu yang sepertinya enggan,
padahal ia doa yang dipanjatkan seharian. Jadilah cuma saling mengepalkan
tangan, menyatukannya, lalu hati-hati dijalan.
Belakangan aku harus berjibaku dengan
gosip murahan dan tawa yang enggan dilepas, berdiri dalam diam memikirkan
apakah kamu juga memikirkan hal yang sama.
Apakah ada sedikit ruang untuk tetap
mengingatku yang tak seperti biasanya
Apakah ada rindu meluap-luap kau
jinjing ditangan berkat tatap muka yang makin jarang
Pukul lima
sore, tak letih-letihnya kamu menari dalam anganku, meninggalkan aku yang
kepayahan memunguti rindu.
Sudikah kamu
berhenti sejenak, aku hanya ingin bertanya, adakah aku yang kepayahan tak
letih-letihnya menari disana?
No comments:
Post a Comment