Tuesday, August 9, 2016

Tepat pukul lima sore banyak langkah berderap segera pergi, salam sampai jumpa dan selamat sore. Sudah selesai, setidaknya untuk hari ini.

Peluh yang tidak pernah jatuh karena suhu ruangan yang selalu begitu nampaknya harus tumpah di penghujung hari.

Ada yang jadi sangat berbeda dari semua yang terjadi seharian, biasanya ada diam-diam menemuimu di pojok ruang cuma untuk bertukar pandang dan sedikit tawa akhirnya rindu-rindu kecil yang bertebaran dijalan bisa segera dipindah tangankan pada yang paling berhak.

Biasanya sepiring mie yang habis kau makan dan segelas teh manis yang aku sesap dengan riang jadi penutup malam yang membuat mimpi buruk enggan datang.

Biasanya bersandar dalam diam, hingga akhirnya berpisah pada jalan pulang yang belum sama.

Biasanya ada sumpai jumpa, selamat malam, dan peluk malu-malu yang sepertinya enggan, padahal ia doa yang dipanjatkan seharian. Jadilah cuma saling mengepalkan tangan, menyatukannya, lalu hati-hati dijalan.

Belakangan aku harus berjibaku dengan gosip murahan dan tawa yang enggan dilepas, berdiri dalam diam memikirkan apakah kamu juga memikirkan hal yang sama.
Apakah ada sedikit ruang untuk tetap mengingatku yang tak seperti biasanya
Apakah ada rindu meluap-luap kau jinjing ditangan berkat tatap muka yang makin jarang 

Pukul lima sore, tak letih-letihnya kamu menari dalam anganku, meninggalkan aku yang kepayahan memunguti rindu.

Sudikah kamu berhenti sejenak, aku hanya ingin bertanya, adakah aku yang kepayahan tak letih-letihnya menari disana?

No comments:

Post a Comment