Gagal jadi Backpacker
Niat hati ingin menjajal ganasnya dunia (baru mulai udah lebay) ala backpacker dengan stelan celana pendek, kaos oblong, topi kumel, kaca mata hitam, duit pas-pasan, dan tentu saja sebuah backpack alias ransel besar yang gedenya bisa nyaingin kulkas dirumah, kami 4 mahasiswi galau ini malah berakhir dengan liburan ala anak kota metropolitan yang terjebak di tengah peradaban antah berantah yang pokoknya apapun yang kami lakukan terdapat satu syarat mutlak yang gak bisa banget dilanggar-langgar, yang ga lain ga bukan adalah ga boleh susah dan ga boleh nyusahin diri, dengan dalih "Ini kan liburan, masa liburan udah jauh-jauh gini jatohnya susah-susah juga". Jadilah kami 4 mahasiswi galau ini menghabiskan 4 hari 3 malam yang awalnya diniatkan ala backpacker menjadi setingkat diatas backpacker dan satu tingkat dibawah traveler.
Jogja, kota pelajar ini menjadi pilihan kami bereempat dalam rangka melepaskan beban teramat berat selama menjadi mahasiswa tahun pertama di universitas kami masing-masing. Kenapa Jogja? pertanyaan ini mungkin melintas cepat bagai kilat pas kalian baca tulisan ini, dari sekian banyak tempat yang bisa di datangi apa lagi ketika itu sedang marak-maraknya pemberitaan mengenai film yang mengangkat tentang salah satu tempat yang bagusnya emang udah ga diragukan lagi. Kenapa ga naik gunung biar keliatan kece, atau sekedar leha-leha di private beach di Bali, atau jadi tourist di kota sendiri yeppp, nyebrang aja tuh ke pulau bidadari dan sekitarnya yang masih di Jakarta juga. Alasan pertama, kenapa Jogja dan bukan puncak Mahameru kan lagi rame tuh filmnya (No offense tapi saya sih lebih suka bukunya, filmya cuma jual pemandangan sama pemain filmnya yang emang kece). Gini yaa.. ke Jogja yang notabenenya masih di kota aja kita berasa susah gimana naek gunung, hhaaa.. apalagi saya pergi bersama mahluk-mahluk yang memuja teknologi dan kembar siam sama catokan, yang initinya no keluar kalo ga ada catokan, wkwkwkwk.
Alasan kedua kenapa bukan Bali, karena uang jajan kami yang terbatas dan pas-pasan, tapi maunya enak, hhaaa.
Alasan yang ketiga kenapa bukan di Jakarta aja, Jakarta tuh mainstream abis boss, yaa kali deh lo lahir di Jakarta, besar di Jakarta, tinggal di Jakarta, masih mau-maunya juga liburan di Jakarta (be-la-gu) wkwkwk... penulisnya layak dilemparin sepatu.
And most of all kenapa Jogja, karena Jogja itu kotanya bule dan kita dapet list tempat jalan-jalan seru dari mas bro kita yang satu ini, si jalannnn-jalannnn mennn!!!! http://www.youtube.com/watch?v=s2MhzkAS9j8
Soooo... perjalanan kami dimulai disini
DAY 1
Singkat cerita tiba lah hari yang tanggalnya sama persis dengan tiket yang kita pesan. Awalnya dengan niat ala backpacker sempat terlintas di otak kami berempat buat melakukan perjalan Jakarta-Jogja dan Jogja-Jakarta dengan kereta ekonomi tanpa ac. Namun setelah melakukan survei, pertimbangan, dipikirkan berulang-ulang, tirakat, cari ilham dan sebagiannya kami kemudian memilih kereta ekonomi ac yang belum lama ini diluncurkan PT KAI buat membuat penumpangnya menjadi lebih nyaman. Sebelum berangkat kami berempat ngumpul dulu nih ceritanya di rumah salah satu teman kami yaitu Medina. Dan emang dari awal temanya juga udah gagal jadi backpacker dari kami berempat cuma Medina yang pake ransel, dan sisanya melanggang cantik dengan koper bak pramugari turun dari pesawat *kibasrambut, wkwkwk...
Emang dasar kebiasaan orang Indonesia yang tukang ngaret, kami hampir gagal berangkat ke Jogja, karena kelakuan kami yang kaya putri Solo yang menjunjung tinggi asas 'Alon-alon waton kelaton' dan seolah tidak paham dengan keadaan jalan Jakarta yang identik dengan rayap-merayap kaya cicak. Jadilah kami diantar Ibunya Dian yang keliatannya (bukan keliatan sih, tapi emang) naik darah ngeliat kelakuan kita yang semau-maunya ini, wkwkwk peace tanteee... sempat terjadi ketegangan di mobil, hingga akhirnya kita pun sampai di stasiun yang waktunya sama persis denga waktu yang tertera di tiket. So, kami berakhir dengan lari-larian menuju peron yang dituju, berasanya sih kaya Harry Potter sama Ron Weasley yang lari-larian buat nyampe di peron 9 3/4 di tahun yang kedua pas mereka mau ke Hogwarts. Tapi beruntungnya, kami ga perlu naik mobil terbang, apalagi menyelendup kaya Harry dan Ron waktu itu, karena tepat pas kami sampe di peron yang dituju kereta kami baru aja tiba di stasiun, *fiuhhh.. ambil napas panjang dulu karena baru selesai lari-larian.
Kereta ekonomi ac ini not bad lah yaaa, ac nya dingin, penumpangnya ga banyak (mungkin karena bukan musim liburan), dan tanpa pedagang, cuma satu hal yang bikin kita rada keki, bangkunya itulah setegak tembok China, 180 derajat gada miringnya, lumayan bikin pinggang tereak-tereak setelah 10 jam perjalanan.
Perjalanan di kereta kami habiskan dengan main abc 5 dasar, mainannya anak SD sihh, tapi lumayan lah buat menghilangkan bosan. Ketika itu juga kami bertemu dengan seorang bapak yang banyak tanya dan banyak tau, hhhaa... keliatannya dia punya istri orang Belanda karena kerjaan nih bapak cuma telponan sama orang pake bahasa Belanda, lagi-lagi kebetulan salah satu teman kami Dian mempelajari bahasa Belanda, jadilah kami ngepoin nih bapak ngomongin apa aja.
Kami tiba di Jogja kira-kira jam 4 pagi dan dalam keadaan yang ga tau mau kemana. Coba aja lo bayangin nyampe Jogja jam 4 pagi dan ga punya hotel atau tempat buat tinggal. Akhirnya mengandalkan koneksi internet dan telpon sana-sini dapatlah kami sebuah home stay dengan fasilitas lumayan dan harga yang bikin mesam-mesam di daerah Pugeran, deket banget sama alun-alun Selatan keraton yang ada pohon beringin kembarnya itu loh.
Karene check in di home stay ini baru bisa dilakukan jam 8 pagi, jadilah kami pergi keliling Jogja di pagi hari. Pagi itu kami berakhir di sebuah kedai gudeg dan menghabiskan sepiring gudeg beserta lauknya tanpa sisa, karena kami baru bisa masuk home stay jam 8 dan selesai makan baru sekitar jam 6 pagi, Dian sampe ketiduran di kedai gudeg dengan nyenyaknya, hhaaa..
Sesampainya di home stay tanpa a-i-u dan ba-bi-bu, kasur menjadi pelampiasan dan yapp setengah hari pertama di jogja, kami gunakan untuk tidur, sesuatu yaaa :')
Barulah setelah 4 putri tidur ini melampiaskann hasrat tenggelam dalam mimpinya, di malam hari kami pergi ke alun-alun selatan buat mengisi perut yang sejak tadi memang ingin sekali diisi. Jogja, kota ini memang menyimpan ribuan kesan yang tidak bisa diungkapkan, di malam yang dingin, ditemani segelas wedang panas, dengan lagu-lagu galau (tetep) ala musisi jalanan, rasanya walaupun jomblo(promosi) hidup kami tetap indah adanya....
DAY 2
Hari kedua kami di Jogja, Alhamdulillahnya tidak terjadi kegabutan seperti hari pertama karena cuma tidur di home stay. Hari kedua menjadi salah satu hari yang paling berkesan sebenernya selama kami di Jogja. Tujuan kami di hari kedua ini kami pergi ke beberapa pantai yang letaknya memang agak diluar dari kota Jogja. Seperti alasan kami diatas yang emang ga mau susah, berakhirlah kami dengan nyewa mobil dan melakukan perjalan dengan mobil seharian. Enak sih emang hhaa... karena dengan mobil perjalanan akan lebih bertujuan dan menjauhkan kita dari kata nyasar, karena yang nyetirnya juga orang Jogja asli. Di hari kedua ini driver kita namanya Pak Jujuk, awalnya saya pikir Pak Jujuk ini adalah laki-laki tua, ngebosenin, dan gak asik gitu deh. Behh ternyata.. first impression yang dia kasih lumayan ngagetin juga sih, dengan gaya perlente dan kacamata hitam, keliatannya beliau emang udah siap banget buat nganterin kita berpantai-pantai ria.
Sebelum pergi berpantai-pantai ria kami menyempatkan diri dulu but berkunjung ke keraton Jogja yang emang jadi salah satu destinasi wajib kalo berkunjung ke Joga ini, tiket masuknya murah banget kok cuma dengan Rp 5000 kamu semua bisa menjadi putra dan putra raja-raja Jawa sehari, dan melihat kemegahan dan keanggunann versi raja-raja Jogja. Atau untuk sekedar berfoto dan meilhat-lihat ornamen cantik, bangunan unik, dan lukisan-lukisan tua yang terkesan mistis, hiiii..
Perjalanan pun kami lanjutkan ke beberapa gugusan pantai di selatan Jogja ini, menghabiskan kurang lebih 2 jam lamanya. Perjalanan menuju pantai ini kurang lebih sama seperti kalau kita mau ke daerah puncak disekitarnya. Daerah Gunung Kidul ini memang agak aneh, pantai-pantai yang terdapat didalamnya tersembunyi diantara bukit dan gunung-gunung batu. Di hari kedua ini kami mendatangi 4 pantai, yakni pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Indrayanti, dan Pantai Pok Tunggal, yang sebenarnya masih bayak lagi pantai-pantai lainnya. Tiket masuk ke pantai-pantai ini juga murah banget lohhh... bisa mengunjungi belasan pantai hanya dengan empat ribu rupiah per orang.
Sebelum pergi berpantai-pantai ria kami menyempatkan diri dulu but berkunjung ke keraton Jogja yang emang jadi salah satu destinasi wajib kalo berkunjung ke Joga ini, tiket masuknya murah banget kok cuma dengan Rp 5000 kamu semua bisa menjadi putra dan putra raja-raja Jawa sehari, dan melihat kemegahan dan keanggunann versi raja-raja Jogja. Atau untuk sekedar berfoto dan meilhat-lihat ornamen cantik, bangunan unik, dan lukisan-lukisan tua yang terkesan mistis, hiiii..
Perjalanan pun kami lanjutkan ke beberapa gugusan pantai di selatan Jogja ini, menghabiskan kurang lebih 2 jam lamanya. Perjalanan menuju pantai ini kurang lebih sama seperti kalau kita mau ke daerah puncak disekitarnya. Daerah Gunung Kidul ini memang agak aneh, pantai-pantai yang terdapat didalamnya tersembunyi diantara bukit dan gunung-gunung batu. Di hari kedua ini kami mendatangi 4 pantai, yakni pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Indrayanti, dan Pantai Pok Tunggal, yang sebenarnya masih bayak lagi pantai-pantai lainnya. Tiket masuk ke pantai-pantai ini juga murah banget lohhh... bisa mengunjungi belasan pantai hanya dengan empat ribu rupiah per orang.
Pantai Sundak adalah pantai pertama yang kami kunjungi, pantai ini bagusssss bangetttt..... selain karena sepi dan berasa berkunjung ke private beach, pantai ini juga punya pasir putih yang super lembut, dan karang-karang besar, yang mirip kaya tanah lot di Bali.
Pantai Sundak, pantai ini sebenarnya adalah pantai yang paling landai diantara pantai-pantai lainnya, dengan pasir putih yang kurang lebih sama dengan Pantai Kukup, bedanya di Pantai Sundak ombak tidak setinggi di Pantai Kukup dan pantai-pantai lainnya. Sayang, kami hanya sebentar berada di pantai ini, karena tiba-tiba hujan turun, dan teman-teman saya yang memuja kesempurnaan rambut ga mau rambutnya kebasahan.
Pantai Indrayanti, awalnya merupakan tujuan utama kita pergi ke gugusan pantai-pantai ini, tapi ternyata pantai ini tidak seperti yang kami bayangkan. Emang sih pantai ini ga kalah bagus dan sesuai dengan apa yang kami liat di internet, tapi mungkin karena pantai ini yang paling terkenal, jadilah pantai ini tempat yang paling rame, dan kami adalah mahluk-mahluk yang anti rame. Anehnya di pantai ini dengan ombak pantai selatan yang sangat-sangat tidak bersahabat bahkan berbahaya, orang-orang di pantai itu diperbolehkan berenang (duhh pada pengen jadi tememnnya ratu pantai selatan yaa).
Pantai Pok Tunggal, pantai ini sebenarnya adalah pantai hasil rekomendasi dari driver kami Pak Jujuk, benar aja pantai ini emang kami bangetttsss.. selain sepi, pantai ini juga lebih luas, dan emang pas buat merenung dan ngegalau (lagi-lagi, tetep), yang nyebelinnya disini kami ketemu beberapa cowo aneh yang maksaaaaa bangetttt buat diajak kenalan, huffttt... bahkan mereka ngajakin kita naik keatas sebuah tebing yang tinggi banget, gile aje baru kenal gitu loh. Bukan ngajak ke tebing doang tapi ngajak juga main ke rumahnya, lu kira gue sodara lo, wkwkwk (jahat).
Perjalanan kami ke pantai-pantai ini memang kami lakukan di siang hari, dengan tujuan bisa menghabiskan sore menanti sunset di pinggiran pantai. Tapi apa daya matahari tertutup awan, jadilah kami cuma melihat guratan cahaya orange kekuningan yang menyembul diantara awan-awwan disekelilingnya, tapi itu aja udah bikin kami tersenyum puas kok di dalam hati.
Sepulang dari pantai-pantai ini ternyata ada satu tempat yang bikin mata kami berempat terbelalak kagum, tempat ini dinamakan bukit bintang, kenapa bukit bintang?? karena kita bisa liat keseluruhan kota Jogja dari atas bukit yang, sumpahhh kerennnnn abisssss....
Jadilah kami menikmati susu jahe, makan indomie panas, dan jagung bakar di atas bukit itu, sambil memanjakan mata dan menikmati sejuknya udara malam hari. How lovely...
DAY 3
Hari ketiga ini adalah buah dari pemikiran yang teramat panjang dan melelahkan, butuh pemikiran yang luar biasa mendalam dengan memikirkan untung rugi yang bisa kami dapatkan (serius amat, kaya mau beli saham). Hhaaa.. agenda di hari ke tiga ini sebenernya belom kita rencanain sebelumnya, tapi akhirnya karna udah kepalang tanggung dan yaa ke Jogja juga belom tentu setahun sekali, jadilah kita pergi ke tempat wisata yang lumayan baru gitu di daerah Jogja ini. Namanya tempat wisata Gua Pindul. Disini banyak banget wisata berbau adventure yang bisa kita dapetin, mulai dari caving atau susur gua yang terdapat sungai bawah tanah di dalamnya. Rafting di sungai Oyo yang arusnya lumayan buat tereak-tereak, dan masih banyak lagi. Karena perjalanan yang jauh dan kami adalah 4 mahasiswi yang ga tau jalan, jadilah kami berakhir dengan nyewa mobil lagi, hhaaa.. emang dasar ga mau susah!
Kami tau tempat wisata ini dari mas Jebraw nih, di videonya dia yang super keren itu gua pindul keliatannya keren banget, dengan air yang super jernih, dan keadaan alamnya yang keliatannya sih masih perawan gitu. Tapi sebelum kami pergi ke tempat super gaul (menurut abang Jebraw) ini, lebih dulu kami mengunjungi dua candi super keren, yang ga ada di belahan dunia manapun kecuali Indonesia (senyum-senyum bangga).
Awalnya sih kami berkunjung ke tempat dimana legenda tentang seorang putri yang dipaksa menikah dengan seorang laki-laki yang tidak ia cintai dan memberikan syarat yang agaknya mustahil, yakni membuat 1000 candi dalam 1 malam. Yepp.. betul banget, Candi Prambanan, ada yang unik nih dari marketingnya candi Prambanan ini, kenapa?
Jadi ceritanya ada sebuah candi yang keberadaannya belum setenar candi prambanan atau borobudur, tapi kecantikannya sih ga usah diragukan lagi, namanya Candi Ratu Boko. Buat ngunjungin candi ini ada beberapa waktu yang high recommended banget, yang pertama waktu matahari terbit, dan yang kedua waktu matahari terbenam fyi candi ini ada diatas gunun yang udaranya cukup sejuk dan menawarkan pemandangan super kece kalo diliat di waktu-waktu tertentu itu.
Keliatannya tim marketing aka pengelola candi ini menawarkan kami tour paket yang memprovide 2 destinasi super ini, yakni prambanan dan ratu boko. Pelayanannya juga bisa dibilang lumayan, kami diantar langsung ke kompleks candi Ratu Boko dengan mini bus full ac dan musik jedag jedug ditambah dengan bukti tiket yang bisa ditukar dengan sebotol air mineral. Lumayan lah yaa.. kita pun dibebaskan nih mau pergi ke Prambanan atau Ratu Boko lebih dulu.
Bagi kami berempat ini merupakan kali pertama kami mengunjungi candi Hindu megah ini, pikiran kami pun melayang melintasi waktu sampai di hari ketika Bandung Bondowoso mati-matian bersama pasukan gaibnya membangun sau demi satu candi yang jadi syarat pernikahannya dengan Roro Jonggrang, tapi sayang Bandung Bondowoso harus megurungkan niatnya menikah dengan putri cantik ini karna tak mampu memenuhi syarat membangun 1000 candi sekaligus dalam 1 malam. Hikmahnya kami manusia modern yang suka galau ini bisa menikmati tumpukan batu nan artistik yang tersusun rapi dan menjulang tinggi ini.
Setelah puas meinkmati wisata sejarah candi Prambanan yang keliatannya sih udah mulai agak rapuh ini karena dimana-mana pasti bisa dengan mudah ditemui rangkaian detektor retak candi yang dipasang sama orang-orang Jepang yang menjadi mitra dari perawaran candi Prambanan ini, kami pun beralih ke sektor wisata lain, hhaa...
Adventureee timeeee!!!! sekarang mulai saatnya kami basah-basahan di sungai dalam gua bawah tanah, yang menurut pemandu kami sih dalamnya bisa mencapai 18 meter ini, hhiiii serem juga yaa..
Tapi no need to be worry deh, kita masuk kedalam gua itu dalam kelompok kecil mulai dari 5-8 orang dan dengan 2 orang pemandu masing-masing didepan dan dibelakang rombongan. Ditambah lagi kita juga dilengkapin sama safety equipment yang bisa bikin kita tenang selama caving, ada life jacket, ban besar, sampai sepatu karet. Perjalanan selama caving lamanya mulai dari 30-60 menit tergantung berapa lama kita berenti di dalam gua mengaggumi stalaktit dan stalgamit atau sekedar main air, dan loncat dari tebing dalam gua.
Gua ini indah banget deh apalagi kalo kalian berkunjung di musim kemarau karena katanya saking jernih airnya, kita bisa liat aneka biota air dengan mata telanjang lohh. Ada juga nih sesi serius dari caving di gua ini, dipertengahan gua pemandu bakal nunjukin kita sama yang namanya zona gelap abadi, si pemandu sih biasanya bakal nyuruh kita merenung dan bersyukur karena betapa beruntungnya kita dikasih penglihatan dan bisa ngeliat indahnya dunia, hhaa.. kaya wisata religi yaa
Setelah puas mengaggumi keadaan gua, sekarang giliran kami berempat rafting di sungai Oyo, sungai ini emang ga besar sih, tapi jeram-jeramnya sih lumayan buat memacu adrenalin, dan banyak tebing yang bisa dipake buat loncat dan jadi ukuran seberapa berani kita menaklukan tantangan (eaaaa) diantara kami berempat Medina dan Dian merupakan risk seeker yang sibuk nyari2 tebing buat loncat, sedangkan saya dan Atik adalah risk averse yang lebih suka ngindar aja deh, daripada kenapa-kenapa, yaa ga sih!!
Tapi berkat mulut manis Medina dan bujuk rayu Dian ini saya dan atik akhirnya nyoba juga loncat dari atas tebing, tapi bedanya saya terjun tandem, alias pegangan sama mas-mas pemandu yang baik hati nawarin loncat bareng. Hhhaa.. ini kesannya jadi 'You jump, I jump' yaa, emang begitu sih adanya, karena kita pegangan kalo salah satu diantara kita loncat dan lainnya diam, itu bakal bahaya. Sayang si mas ini tampangnya ga kaya Leonardo dicaprio, wkwkwk.. kan biar kaya film Titanic gitu.
Seteleh puas bermain air seharian, kami pun akhirnya menyelesaikan perjalan hari itu dengann makan nasi padang yang lauknya suka-suka, nasinya, suka-suka, dan harganya bikin pengen hura-hura, murah bangetttt mennn!!! makan nasi pake ayam atau daging, pake lalapan, pake sambel, kuah boleh milih, nasi boleh sebakul dan es teh manis, cuma Rp 8000 aja, gila ga tuhh.
Pokoknya di day 3 ini kami bener-bener hura-hura dan berasa jadi adventurer gitu deh, meskipun masih jauh dari adventurer sebenarnya, at least loncat dari tebing udah lumayan kece lah yaa!!
DAY 4
Di hari keempat yang merupakan hari terakhir ini, awalnya kami berempat sempet galau bakal nyewa mobil lagi apa engga. Berhubung uang di dompet yang sudah menunjukkan tanda-tanda tercekik. Tapi pada ahirnya kami nyewa mobil juga dan dengan harga yang agak lebih mahal karna weekend, sebagai pembenaran akan alasan kan kita ga tau tuh stasiun lempuyangan ada dimana jadi biar gampang yaa mending nyewa mobil lagi.
Agenda kami sebelum pulang di hari terakhir ini adalah wisata sejarah lagi ke Candi Borobudur, sebenernya si udah berkali-kali ke candi ini (be-la-gu) wkwkkw.. tapi tetepa aja ga ke Jogja namanya kalo ga ke Borobudur, padahal si Borobudur juga tepatnya bukan berada di Jogja tapi di Magelang, kira-kira satu setengah sampai dua jam perjalanan dari pusat kota Jogja.
Alasan utama ke Borobudur, buat saya pribadi sih sebenernya buat cuci mata, cari cowo bule kece hhee.. tapi setibanya disana, si Medina dan mostly kita berempet mager alias males geraknya parah banget karena Borobudur layaknya candi pemujaan untuk dewa matahari yang menganggungkan keberadaan matahari yang bersinar dengan senang membakar kulit saya yang udah item ini. Tapi akhirnya karna ga mau dong uang sejumlah Rp 35.000 yang sudah dikeluarkan jadi sia-sia, jadilah kami berempat naik ke atas dan berlindung dibawah bayangan candi, menghindari si matahari.
Beruntungnya alasan utama saya datang ke Borobudur ini dapat terpenuhi, hhaa.. saya ketemu dua orang bule belanda yang tiba-tiba nyapa saya dan minta di fotoin, yeeaayyyy!! girang banget ga sih, malah disamperin sama bule belanda itu, alhasil sempet-sempet ngobrol sedikit sih sama si bule ini, tapi entah kenapa, mungkin karena terpesona akan ketampanan 2 bule ini, suara saya super gemeter dan keliatannya mereka sadar kalo saya ngomongnya gemeter, duhhh maluuuu T.T
Tapi gapapa lumayan bisa bikin Medina iri, karna dia ga dapet foto sama bule ini :P peaceeee menggg...
Sebelum pulang kami juga sempet makan di sebuah restoran yang menawarkan semua makanan dalam bentuk jamur, yang recommended abis. Kami juga nyempetin buat minum kopi joss, yang jadi khasnya jogja banget, itu loh kopi yang didalemnya di pakein areng supaya tetep panas.
Setelah sibuk berplesir selama 4 hari, menjelajah ke eksotisan kota Jogja dan menjanjal jadi backpacker gagal aka traveler, ada segudang memori yang luar biasa dan ga akan bisa ditukar pake apapun. Keramahan orang Jogja, kesahajaan kota ini, sedikit banyak meninggalkan kesan di hati kami masing-masing. Sebagai wisatawan dalam negeri, kesan ini sudah menjadi kesan luar biasa dan nilai plus yang bikin kita rindu berat sama kota ini bahkan sebelum kami meninggalkan kota ini. Masih banyak sudut kota yang luput dari penjelajahan kami yang sederhana ini. Kembali ke hiruk pikuk kota Jakarta, dan kembali merindukan senyum hangat dan sapaan manis ibu guest house di pagi hari, canda ringan mas-mas driver pengantar kami, telah membawa kami kedalam imaji indah tentang kota sederhana tapi begitu gemerlapan ini.
Kereta Bogowonto bergerak perlahan, 500an km akan menjadi perjalanan 10 jam kedepan, pandangan kami menerawang keluar kereta, memenjamkan mata sesaat, berharap suatu saat Tuhan mengizinkan kami kembali, bersama-sama lagi, ke kota ini, Jogjakarta, tempat dimana kami menitipkan memori tentang tawa dan cinta. We'll always LOVE you JOGJA....
Awalnya sih kami berkunjung ke tempat dimana legenda tentang seorang putri yang dipaksa menikah dengan seorang laki-laki yang tidak ia cintai dan memberikan syarat yang agaknya mustahil, yakni membuat 1000 candi dalam 1 malam. Yepp.. betul banget, Candi Prambanan, ada yang unik nih dari marketingnya candi Prambanan ini, kenapa?
Jadi ceritanya ada sebuah candi yang keberadaannya belum setenar candi prambanan atau borobudur, tapi kecantikannya sih ga usah diragukan lagi, namanya Candi Ratu Boko. Buat ngunjungin candi ini ada beberapa waktu yang high recommended banget, yang pertama waktu matahari terbit, dan yang kedua waktu matahari terbenam fyi candi ini ada diatas gunun yang udaranya cukup sejuk dan menawarkan pemandangan super kece kalo diliat di waktu-waktu tertentu itu.
Keliatannya tim marketing aka pengelola candi ini menawarkan kami tour paket yang memprovide 2 destinasi super ini, yakni prambanan dan ratu boko. Pelayanannya juga bisa dibilang lumayan, kami diantar langsung ke kompleks candi Ratu Boko dengan mini bus full ac dan musik jedag jedug ditambah dengan bukti tiket yang bisa ditukar dengan sebotol air mineral. Lumayan lah yaa.. kita pun dibebaskan nih mau pergi ke Prambanan atau Ratu Boko lebih dulu.
Bagi kami berempat ini merupakan kali pertama kami mengunjungi candi Hindu megah ini, pikiran kami pun melayang melintasi waktu sampai di hari ketika Bandung Bondowoso mati-matian bersama pasukan gaibnya membangun sau demi satu candi yang jadi syarat pernikahannya dengan Roro Jonggrang, tapi sayang Bandung Bondowoso harus megurungkan niatnya menikah dengan putri cantik ini karna tak mampu memenuhi syarat membangun 1000 candi sekaligus dalam 1 malam. Hikmahnya kami manusia modern yang suka galau ini bisa menikmati tumpukan batu nan artistik yang tersusun rapi dan menjulang tinggi ini.
Setelah puas meinkmati wisata sejarah candi Prambanan yang keliatannya sih udah mulai agak rapuh ini karena dimana-mana pasti bisa dengan mudah ditemui rangkaian detektor retak candi yang dipasang sama orang-orang Jepang yang menjadi mitra dari perawaran candi Prambanan ini, kami pun beralih ke sektor wisata lain, hhaa...
Adventureee timeeee!!!! sekarang mulai saatnya kami basah-basahan di sungai dalam gua bawah tanah, yang menurut pemandu kami sih dalamnya bisa mencapai 18 meter ini, hhiiii serem juga yaa..
Tapi no need to be worry deh, kita masuk kedalam gua itu dalam kelompok kecil mulai dari 5-8 orang dan dengan 2 orang pemandu masing-masing didepan dan dibelakang rombongan. Ditambah lagi kita juga dilengkapin sama safety equipment yang bisa bikin kita tenang selama caving, ada life jacket, ban besar, sampai sepatu karet. Perjalanan selama caving lamanya mulai dari 30-60 menit tergantung berapa lama kita berenti di dalam gua mengaggumi stalaktit dan stalgamit atau sekedar main air, dan loncat dari tebing dalam gua.
Gua ini indah banget deh apalagi kalo kalian berkunjung di musim kemarau karena katanya saking jernih airnya, kita bisa liat aneka biota air dengan mata telanjang lohh. Ada juga nih sesi serius dari caving di gua ini, dipertengahan gua pemandu bakal nunjukin kita sama yang namanya zona gelap abadi, si pemandu sih biasanya bakal nyuruh kita merenung dan bersyukur karena betapa beruntungnya kita dikasih penglihatan dan bisa ngeliat indahnya dunia, hhaa.. kaya wisata religi yaa
Setelah puas mengaggumi keadaan gua, sekarang giliran kami berempat rafting di sungai Oyo, sungai ini emang ga besar sih, tapi jeram-jeramnya sih lumayan buat memacu adrenalin, dan banyak tebing yang bisa dipake buat loncat dan jadi ukuran seberapa berani kita menaklukan tantangan (eaaaa) diantara kami berempat Medina dan Dian merupakan risk seeker yang sibuk nyari2 tebing buat loncat, sedangkan saya dan Atik adalah risk averse yang lebih suka ngindar aja deh, daripada kenapa-kenapa, yaa ga sih!!
Tapi berkat mulut manis Medina dan bujuk rayu Dian ini saya dan atik akhirnya nyoba juga loncat dari atas tebing, tapi bedanya saya terjun tandem, alias pegangan sama mas-mas pemandu yang baik hati nawarin loncat bareng. Hhhaa.. ini kesannya jadi 'You jump, I jump' yaa, emang begitu sih adanya, karena kita pegangan kalo salah satu diantara kita loncat dan lainnya diam, itu bakal bahaya. Sayang si mas ini tampangnya ga kaya Leonardo dicaprio, wkwkwk.. kan biar kaya film Titanic gitu.
Seteleh puas bermain air seharian, kami pun akhirnya menyelesaikan perjalan hari itu dengann makan nasi padang yang lauknya suka-suka, nasinya, suka-suka, dan harganya bikin pengen hura-hura, murah bangetttt mennn!!! makan nasi pake ayam atau daging, pake lalapan, pake sambel, kuah boleh milih, nasi boleh sebakul dan es teh manis, cuma Rp 8000 aja, gila ga tuhh.
Pokoknya di day 3 ini kami bener-bener hura-hura dan berasa jadi adventurer gitu deh, meskipun masih jauh dari adventurer sebenarnya, at least loncat dari tebing udah lumayan kece lah yaa!!
DAY 4
Di hari keempat yang merupakan hari terakhir ini, awalnya kami berempat sempet galau bakal nyewa mobil lagi apa engga. Berhubung uang di dompet yang sudah menunjukkan tanda-tanda tercekik. Tapi pada ahirnya kami nyewa mobil juga dan dengan harga yang agak lebih mahal karna weekend, sebagai pembenaran akan alasan kan kita ga tau tuh stasiun lempuyangan ada dimana jadi biar gampang yaa mending nyewa mobil lagi.
Agenda kami sebelum pulang di hari terakhir ini adalah wisata sejarah lagi ke Candi Borobudur, sebenernya si udah berkali-kali ke candi ini (be-la-gu) wkwkkw.. tapi tetepa aja ga ke Jogja namanya kalo ga ke Borobudur, padahal si Borobudur juga tepatnya bukan berada di Jogja tapi di Magelang, kira-kira satu setengah sampai dua jam perjalanan dari pusat kota Jogja.
Alasan utama ke Borobudur, buat saya pribadi sih sebenernya buat cuci mata, cari cowo bule kece hhee.. tapi setibanya disana, si Medina dan mostly kita berempet mager alias males geraknya parah banget karena Borobudur layaknya candi pemujaan untuk dewa matahari yang menganggungkan keberadaan matahari yang bersinar dengan senang membakar kulit saya yang udah item ini. Tapi akhirnya karna ga mau dong uang sejumlah Rp 35.000 yang sudah dikeluarkan jadi sia-sia, jadilah kami berempat naik ke atas dan berlindung dibawah bayangan candi, menghindari si matahari.
Beruntungnya alasan utama saya datang ke Borobudur ini dapat terpenuhi, hhaa.. saya ketemu dua orang bule belanda yang tiba-tiba nyapa saya dan minta di fotoin, yeeaayyyy!! girang banget ga sih, malah disamperin sama bule belanda itu, alhasil sempet-sempet ngobrol sedikit sih sama si bule ini, tapi entah kenapa, mungkin karena terpesona akan ketampanan 2 bule ini, suara saya super gemeter dan keliatannya mereka sadar kalo saya ngomongnya gemeter, duhhh maluuuu T.T
Tapi gapapa lumayan bisa bikin Medina iri, karna dia ga dapet foto sama bule ini :P peaceeee menggg...
Sebelum pulang kami juga sempet makan di sebuah restoran yang menawarkan semua makanan dalam bentuk jamur, yang recommended abis. Kami juga nyempetin buat minum kopi joss, yang jadi khasnya jogja banget, itu loh kopi yang didalemnya di pakein areng supaya tetep panas.











No comments:
Post a Comment