TERIMAKASIHKU PADA HUJAN
Takdir... sebuah kata teramat tepat manggambarkan keseluruhan cerita yang saya post kali ini. Kenapa takdir? ada apa sih sama takdir? 6 susunan huruf yang dirangkai jadi satu ini terkadang (sering sih sebenernya bukan kadang) dijadikan jawaban untuk menjawab pertanyaan tak bernalar dan tak berlogika.
Takdir menurut saya sah-sah saja memang dijadikan jawaban, tapi... lagi-lagi menurut saya, takdir bukan sebuah jawaban yang berdiri sendiri, dia butuh pelengkap, pelengkap yang bisa jadi penjelas dan penegas. Pelengkap yang di satu sisi bikin si takdir jadi terkesan indah, manusiawi, dan dinanti-nanti. Namun adakalanya si takdir ditemani pelengkap yang bikin ngeri, bergidik, dan dihindari, misalnya mati...
Seberapa deket sih kalian sama kematian?
Banyak yang bilang mati bahkan jauh lebih dekat dari urat leher kita, well... urat eher itu adalah kita, it "literally" located in our body. Mereka adalah bagian tak terpisahkan, bisa bayangkan manusia hidup gak pake urat leher?? Yepp bukan cuma ngeri, tapi impossible. So it means that, mati adalah kita, mati adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Bagian yang juga tanpa kita sadari menghidupkan kita dan membuat segalanya jadi possible.
Usia saya baru 18 tahun 6 bulan waktu itu, teman saya jauh lebih muda lagi, dia baru saja resmi jadi seorang gadis dengan usia tepat 18 tahun di bulan April 2013 lalu. Sedihnya saya lupa mengucapkan selamat ulang tahun di tanggal yang sama persis sama tanggal lahir teman saya ini. Parah sih emang... parah banget malah. Lebih lagi sebenarnya saya bukan hanya teman, lebih dari itu, teman dekat, lebih dari iru sahabat. Tapi sejak saat itu kok ya saya merasa don't really deserve it at all. Lupa sama ulang tahun sahabat sendiri, bahkan acquaintance saja bisa dengan mudah ingat. What's really hard sih about remember just one day in a year?
Kuliah emang kadang bikin saya kebih banyak lupa, lupa makan, lupa tidur, lupa teman lama, bahkan lupa sahabat sendiri. Ketika itu saya terlalu naif, berpikir mereka juga sama sibuknya seperti saya, berpikir kalau mereka tidak menghubungi saya, that means mereka baik-baik saja dan saya pun tidak punya kewajiban buat menghubungi mereka, untuk sekedar berbasa-basi menanyakan kabar mereka disana.
Namaya Kiki, gadis tomboy yang addict bola, tau semua nama pemain bola beserta nomor punggung mereka, suka banget makan mie instant dengan cabe rawit yang super banyak, dengan suara kencang serupa toa masjid yang kalau ngomong sendiri bisa dibandingkan dengan kumpul-kumpul ibu arisan se-RT. Dia sehat, sangat sehat ketika terakhir kali saya bertemu, yang juga udah gak saya ingat lagi kapan. Well, emang diantara kami semua Kiki adalah yang paling akrab dengan ruang dan lorong-lorong rumah sakit.
Pernah merasakan bertemu dengan orang yang notabenenya adalah sahabt kalian terbaring tanpa daya hanya dnegan tulang berbalut kulit, bahkan saking tak miripnya dengan sahabat kalian, kalian berkali-kali mengecek ruangan rumah sakit? Tangannya dipenuhi luka lebam bekas jarum-jarum infus yang kini menurut saya, memiliki tingkat menginfeksi yang sama dengan sakit yang dideritanya. Nafasnya tinggal sepenggal-sepenggal, berbicara dalam suara teamat rendah, namun ia berusaha, berusaha menutupi segalanya dengan nada ceria yang kini malah terlihat ironis dan mengiris hati siapa saja yang melihatnya. Saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia yang tiba-tiba saja ditimpa semesta, namun anehnya saya tidak mati, hanya ada sesak yang memenuhi seluruh rongga dada.
Sesekali saya keluar ruangan, mengelap ari mata yang jatuh begitu saja, air mata yang tanpa usaha pun sudah meluncur turun membasahi pipi saya. Ia tak pernah mengubungi kami, selama berbulan-bulan terbaring di ranjang kaku dalam ruangan kotak yang terisolasi. 2 minggu, 2 minggu sebelum ia berpindah ke tempat lain. Ke tempat yang belum bisa kami capai, belum... sebelum mati urat leher, habis udara dalam paru-paru, dan berhenti jantung jadi pengedar darah.
Sore itu hari Jum'at hujan deras mengguyur Depok, berdoa saat hujan menurut mereka bisa mempermudah hubungan kasat mata antara kita dan Tuhan semakin terhubung. Sehingga doa menjadi semakin mudah diijabah. Dalam tenang, namun ditemani alunan syahdu turunnya hujan, ada doa yang kutitipkan pada tetes-tetes air langit itu, berharap alirannya tidak turun ke sungai-sungai dan kemudian mengalir ke laut. Berharap air-air itu mengalir ke atas, kembali pada Tuhannya, menyampaikan doa ku yang sederhana. Semoga Kiki diberikan yang terbaik, sederhana...
Dering handphone mengejutkan jantungku, suara di ujung sana terisak menggumamkan kata-kata yang tak bisa kucerna. Tapi aku tau, aku tau betul apa yang hendak dikatakannya. Sarafku beku, aku... aku meraba dalam remang mataku yang tertutup air asin yang mengalir dari pelupuk-pelupk mataku. Siapa yang akan memelukku lagi? memelukku dari jauh... memelukku dengan doa-doanya? siapa lagi?
Aku bahagia melihatnya, wajahnya sudah lebih mirip dia. Cantik, kamu cantik sekali.
Pagi itu kubiarkan mereka menutupi seluruh tubuhmu, membawamu ke tempat baru yang mungkin akan menjadi tempat paling bahagia bagimu, kubiarkan mereka mengantarmu, kubiarkan diriku menatapmu lekat. Ketika tanha ini menjadi temanmu dan aku menabur bunga diatasnya, aku tau penderitaan itu sudah lama sekali berkhir, aku mengerti sakit itu sudah lama sekali berhenti, aku paham, kamu kini merangkulku dan mereka yang selama ini jadi teman pelipurmu, meski dalam cara yang teramat berbeda.
Kiki... aku berterimakasih pada hujan, yang telah menyampaikan doa sederhana ku untukmu.
Kini keabadian adalah teman sejatimu, bukan lagi aku, dia atau mereka.
Beristirahatlah dalam tenang, dalam rintik atau dalam derasnya hujan, mereka adalah doa paling mujarab.
Sekali lagi, terimakasih hujan... terimakasih Tuhan...

No comments:
Post a Comment