HAI...
Menyapamu selalu jadi tugas
terberatku, rasanya kelu. Melihatmu, selalu jadi derita dan bahagiaku, rasanya
kupu-kupu terbang bebas diperutku. Hai.. rasanya sulit, aku selalu berusaha
terlihat biasa, atau setidaknya berpikir untuk terlihat biasa. Aku selalu
menebak-nebak sampaikah nada bicaraku yang berbeda pada neuron mu, sehingga kau
bisa tanya “Hai Syap, mengapa kamu berbeda?” tanpa perlu aku hilangkan senyumku,
mengirim chat dengan nada sendu, atau terduduk sendiri di Taman Makara sore itu.
Mereka bilang waktu sembuhkan
semua, semua luka dan derita. Aku percaya, hanya saja sampai kapan. Sampai kapan
aku harus menunggu, menunggu doaku berubah dari ingin bersamamu jadi sekedar
merelekanmu. Rasanya egois dan tak pantas, seolah aku dustakan semua nikmat
Tuhan yang pernah titipkan senyum dan air matamu padaku. Tapi apa dayaku, kalau
aku hanya ingin kamu.
Ya, aku selalu berurai tentang
keadaan yang tak sesuai. Tentang situasi yang tak mengizinkan. Mungkin aku
hanya sedang menepis keraguan, atau itu cuma alasan. Alasan bahwa aku
sebenarnya cuma ingin bersamamu, tapi terlalu takut untuk bersamamu.
Sayang, kita cuma sebentar
bersama, cuma sebentar berkenalan. Kamu sudah terlanjur merelakan, tanpa pernah
bertanya maukah aku ikut bersama. Tanpa pernah bertanya apakah aku bersedia
berjalan bersama. Kamu terlanjur merelekan.
Mungkin doa, mungkin lewat
curhatku yang sederhana, mungkin juga lewat sapaku yang berbeda. Aku bisa
menyentuh neuronmu dengan signal yang berbeda. Mungkin doa yang belum juga rela
bisa jadi diijabah, mungkin curhat sederhana lewat kata teman tak terduga bisa
tersampaikan, sesuai,mungkin lewat sapaku yang sendu padamu yang selalu nampak
bahagia.
Aku hanya manusia, dan cuma mau
jadi manusia. Izinkan aku jadi tak berdaya dan pinjam bahumu untuk bersandar. Izinkan
aku jadi rapuh dan pinjam tanganmu untuk ku genggam. Izinkan aku jadi egois, dan
pinjam kamu seutuhnya.
Hai...
Aku mencoba membuat wajahku
terlihat biasa, berbasa-basi tentang kuliah yang tak masuk akal, atau organisasi
yang melelahkan.
Basa-basi sederhana.
Hai...
ReplyDeleteJika cinta memiliki pintu,
mengapa kita mendustai rindu?
Apakah yang telah pergi,
tidak akan pernah kembali?
Hai...
ReplyDeleteKita sedang berperang,
atau sedang saling mengenang?
Hai...
ReplyDeleteCinta selalu tak disangka-sangka,
Rindu tak pernah tidak tiba-tiba
Seolah kita menjadi korban,
padahal kita yang menginkan.
Puisinya bagus, kenapa di post nya cuma sepenggal gitu?
DeleteLeh uga tulisannya mb..
ReplyDeleteHaha maacihh Dim :'))
Delete