Surat untuk Kamu yang Tersayang
Biasanya surat diawali dengan sapa, dengan ‘Hai’ atau ‘Halo’ lantas
menanyakan tentang kabar. Surat ini agak spesial karna memang aku buat untuk
kamu yang spesial. Jadi tak perlulah sapa dan pertanyaan tentang kabar aku
tuliskan.
Belakangan ini kalau tak sengaja TV di kamar memutar berita olahraga
aku akan langsung tersenyum tipis, mencari remote TV lantas menggantinya dengan
channel lain. Belakangan ini kalau menyaksikan berita olahraga, aku merasa lega
karena kau tak disana untuk menyaksikannya. MU kalah, MU kalah lagi, lagi-lagi
MU dikalahkan.
Aaahh.. kalau sudah begini, kamu pasti jadi tak keruan, minta aku
segera menjawab telepon di tengah malam, atau subuh setelah tunai sholat kita. Kalau
sudah begini, pasti aku jadi pelampiasan kesalmu, habis pipiku kau cubit, biru
lebam lenganku kau cubit.
Kalau sudah begini, aku cuma bisa merindu. Karna ini semua cuma
khayalku yang melambung jauh ke masa-masa itu.
Diteriknya matahari siang itu, aku mengimbangi langkahmu yang lebar
dan cepat, terengah. Mencoba menghafal jalan kerumahmu yang berliku, berbelok
di gang ini dan gang itu, yang lucunya meski sudah ribuan kali aku kunjungi,
namun tak pernah ku hafal jalannya.
Semangkuk Indomie Soto dan beberapa gelas air dingin ditambah semua
ceritamu tentang ia yang kau cinta atau tentang MU yang baru saja menang aku
simak antusias. Kadang air mata, dalam drama Dear John yang mengharukan atau
kisah bahagia Amanda Seyfried di Letters to Juliet yang selalu kita impikan. Tawa
dan tangis kita dalam cerita yang biasa, ahhh sungguh aku merindukannya.
Mengapa dulu aku tak peka membaca tanda alam?
Kamu yang menghilang, disisa dua minggumu yang berharga, aku tak mampu
berbuat apa-apa.
Kamu yang selalu hadir memberiku tawa, disisa dua minggumu yang
berharga aku hanya hadir dengan banyak air mata, terlalu banyak air mata.
Menyaksikanmu terkulai tak berdaya,aku tak tahu harus apa.
Diam-diam di luar bangsal ruangan tempat kamu tertidur lemah, aku
tenggalam dalam air mata, memeluk Rizka atau Ajeng yang juga tenggelam dalam
air mata.
Dua tahun, terasa cepat, namun terasa lambat disaat yang bersamaan. Aku
kadang alpa, lupa menyebut namamu dalam doa. Kadang alpa lupa bersyukur kamu
pernah ada membingkai hidupku yang sederhana. Kadang alpa datang ke pusaramu
yang mulai mengering bunganya.
Maaf, maafkan aku untuk semua kealpaanku padamu. Dua tahun ini tanpamu,
dunia nampaknya sudah tak lagi sama, kita sudah tak lagi sama. Rizka dengan
basketnya, Ajeng dengan pacar barunya, atau aku dengan semua kisah cintaku yang
tak akan pernah kamu percaya, butuh seminggu penuh mungkin untuk bercerita, dan
seminggu lagi untuk semua tanya yang membanjiri kepalamu, seperti biasa.
Ki, kalau saja ada waktu sedikit lebih lama, boleh aku memelukmu
sebentar?
Sebentar saja...
Aku ingin kembali menghafal aromamu yang sudah mulai hilang dari
ingatanku, ingin menghafal alur wajahmu yang hanya bisa kukenang lewat layar
ponselku.
Ahh.. tapi yasudah toh kita sudah saling merelakan. Kini aku akan
bersyukur lewat semua ingatan sederhanaku tentang kamu. Lewat biru lebam
lenganku, lewat merah pipiku, lewat Dear John atau Letters to Juliet, lewat
aroma Indomie Soto, lewat ngilu gigiku karna es batu dan air dingin, lewat
fotomu di ponselku, lewat cerita mereka tentang kamu, lewat pusaramu.
Dua tahun Ki...
Aku tau kamu baik-baik saja, jadi aku tak akan menanyakan kabarmu.
No comments:
Post a Comment