Saturday, May 9, 2015

Surat untuk Kamu yang Tersayang

Biasanya surat diawali dengan sapa, dengan ‘Hai’ atau ‘Halo’ lantas menanyakan tentang kabar. Surat ini agak spesial karna memang aku buat untuk kamu yang spesial. Jadi tak perlulah sapa dan pertanyaan tentang kabar aku tuliskan.

Belakangan ini kalau tak sengaja TV di kamar memutar berita olahraga aku akan langsung tersenyum tipis, mencari remote TV lantas menggantinya dengan channel lain. Belakangan ini kalau menyaksikan berita olahraga, aku merasa lega karena kau tak disana untuk menyaksikannya. MU kalah, MU kalah lagi, lagi-lagi MU dikalahkan.

Aaahh.. kalau sudah begini, kamu pasti jadi tak keruan, minta aku segera menjawab telepon di tengah malam, atau subuh setelah tunai sholat kita. Kalau sudah begini, pasti aku jadi pelampiasan kesalmu, habis pipiku kau cubit, biru lebam lenganku kau cubit.

Kalau sudah begini, aku cuma bisa merindu. Karna ini semua cuma khayalku yang melambung jauh ke masa-masa itu.

Diteriknya matahari siang itu, aku mengimbangi langkahmu yang lebar dan cepat, terengah. Mencoba menghafal jalan kerumahmu yang berliku, berbelok di gang ini dan gang itu, yang lucunya meski sudah ribuan kali aku kunjungi, namun tak pernah ku hafal jalannya.

Semangkuk Indomie Soto dan beberapa gelas air dingin ditambah semua ceritamu tentang ia yang kau cinta atau tentang MU yang baru saja menang aku simak antusias. Kadang air mata, dalam drama Dear John yang mengharukan atau kisah bahagia Amanda Seyfried di Letters to Juliet yang selalu kita impikan. Tawa dan tangis kita dalam cerita yang biasa, ahhh sungguh aku merindukannya.

Mengapa dulu aku tak peka membaca tanda alam?

Kamu yang menghilang, disisa dua minggumu yang berharga, aku tak mampu berbuat apa-apa.
Kamu yang selalu hadir memberiku tawa, disisa dua minggumu yang berharga aku hanya hadir dengan banyak air mata, terlalu banyak air mata.
Menyaksikanmu terkulai tak berdaya,aku tak tahu harus apa.

Diam-diam di luar bangsal ruangan tempat kamu tertidur lemah, aku tenggalam dalam air mata, memeluk Rizka atau Ajeng yang juga tenggelam dalam air mata.

Dua tahun, terasa cepat, namun terasa lambat disaat yang bersamaan. Aku kadang alpa, lupa menyebut namamu dalam doa. Kadang alpa lupa bersyukur kamu pernah ada membingkai hidupku yang sederhana. Kadang alpa datang ke pusaramu yang mulai mengering bunganya.

Maaf, maafkan aku untuk semua kealpaanku padamu. Dua tahun ini tanpamu, dunia nampaknya sudah tak lagi sama, kita sudah tak lagi sama. Rizka dengan basketnya, Ajeng dengan pacar barunya, atau aku dengan semua kisah cintaku yang tak akan pernah kamu percaya, butuh seminggu penuh mungkin untuk bercerita, dan seminggu lagi untuk semua tanya yang membanjiri kepalamu, seperti biasa.

Ki, kalau saja ada waktu sedikit lebih lama, boleh aku memelukmu sebentar?
Sebentar saja...

Aku ingin kembali menghafal aromamu yang sudah mulai hilang dari ingatanku, ingin menghafal alur wajahmu yang hanya bisa kukenang lewat layar ponselku.

Ahh.. tapi yasudah toh kita sudah saling merelakan. Kini aku akan bersyukur lewat semua ingatan sederhanaku tentang kamu. Lewat biru lebam lenganku, lewat merah pipiku, lewat Dear John atau Letters to Juliet, lewat aroma Indomie Soto, lewat ngilu gigiku karna es batu dan air dingin, lewat fotomu di ponselku, lewat cerita mereka tentang kamu, lewat pusaramu.

Dua tahun Ki...

Aku tau kamu baik-baik saja, jadi aku tak akan menanyakan kabarmu. 

No comments:

Post a Comment