Festival Kota Kecilku
Kala itu kau tunjuk matahari yg tinggal sendiri
Tinggal pergi
Rona keemasannya jadi kanvas bincang kita senja itu
Tinggal pergi
Rona keemasannya jadi kanvas bincang kita senja itu
Kita duduk dipinggir dermaga
Membayangkan, mengapa dunia harus bulat
Hingga tiap tiap tiang kapal yg kita pandang akhirnya menghilang
Kamu takut aku jadi tiang kapal yang awalnya nampak besar, lantas memudar dan hilang
Kamu takut aku matahari di penghujung sore yang singkat, sisakan memori Indah tentang warna, lantas hilang, tenggelam
Membayangkan, mengapa dunia harus bulat
Hingga tiap tiap tiang kapal yg kita pandang akhirnya menghilang
Kamu takut aku jadi tiang kapal yang awalnya nampak besar, lantas memudar dan hilang
Kamu takut aku matahari di penghujung sore yang singkat, sisakan memori Indah tentang warna, lantas hilang, tenggelam
***
Senja
bersamamu adalah pementasan favoritku
Ajakku menari pada riang iramamu
Izinkan aku berputar perlahan dengan biangalalamu
Atau kadang bernyayi dalam syahdunya suaramu
Sungguh senja bersamamu adalah pementasan favoritku
Festival kecil di tiap-tiap malamku
Kerlip lampumu bak mantra Merlin, menyihirku
Ahh.. Gula-gula dan es loly juga buatku tak rela cepat pergi
Festival kecil di tiap-tiap malamku
Kerlip lampumu bak mantra Merlin, menyihirku
Ahh.. Gula-gula dan es loly juga buatku tak rela cepat pergi
Kamu adalah festival di kota kecil ku
Yang ku harap datang tiap musim
Yang bianglalanya ku harap berputar tiap malam
Yang Kerlip lampunya menyala kala matahari tinggal sepenggal
Yang sapanya mendengung dalam irama riang
Kamu pelengkap yang dulu alpa datang
Yang ku harap datang tiap musim
Yang bianglalanya ku harap berputar tiap malam
Yang Kerlip lampunya menyala kala matahari tinggal sepenggal
Yang sapanya mendengung dalam irama riang
Kamu pelengkap yang dulu alpa datang
***
Kamu
takut aku adalah kapal-kapal yang cuma singgah sebentar
Takut aku matahari sepenggalan di senja yang singkat
Nyantanya
Justru aku yang bertanya2 mungkinkah kamu cuma festival musiman, di kota
kecilku yang tak seberapa memesona?
Kini,
Ketika matahari telah hilang
Kamu tunjuk bintang paling terang
Yang muncul paling awal
Venus katamu antusias
Kita masih duduk di dermaga yang sama, Memerhatikan
cahaya-cahaya kecil dari lampu-lampu kapal yang berlayar
Aku tau mengapa dunia harus bulat
Karena bulat selalu pertemukan kita dititik awal
Suatu hari nanti, di senja yang berbeda akan ada kapal
yang sama kembali menyapa kita dengan aroma khas samudera
Suatu hari nanti, di senja yang berbeda akan nampak Venus yang sama meski
hilang di teriknya matahari yang
membakar
Suatu hari nanti, meski festival ini berhenti menari, aku tau kamu pasti datang
kembali ke kota kecilku yang tak pernah pergi

No comments:
Post a Comment