Monday, June 8, 2015

Hujan Pelangi Monokrom


Kaki-kaki kecilnya menari dalam nada hujan yang tak sembarangan bisa dengar. Apa yang ia cari? Mau jadi apa kalau besar nanti? Mau makan apa kalau lapar nanti? Di berondong pertanyaan gadis kecil itu, tapi aneh ia tetap menari, sekarang bahkan ditambah bernyanyi.

Pernah dengar dongeng ini?
Dongeng tentang negeri di ujung pelangi. Bukan, bukan tentang kuali dengan koin emas, atau kurcaci penghasil intan, apalagi unicorn bertanduk berlian. Dongeng tentang sebuah negeri yang rajanya hanya makan nasi, permaisurinya senang merajut sweater bergambar hati, dan yang putrinya senang sekali menari.

Di negeri ini matahari terbit tepat waktu, bintang tak pernah pergi, bulan bergilir sabit dan penuh tak pernah berkelahi. Cosmos dan Daisy menghiasi pinggir jalan hingga naik ke bukit dan tiba di istana raja. Sumur-sumur tak pernah kering, padi  gandum semuanya kuning dan tumbuh sepanjang tahun, membuat bebek-bebek gendut dengan mudahnya ditemui disetiap persimpangan jalan.

Pernah dengar dongeng ini?
Dongeng tentang cinta raja pada putri cantiknya yang hanya satu. Rambut hitam panjangnya mirip langit negeri ini di malam hari, kulitnya yang kuning layaknya gandum durum terbaik yang siap dipanen esok hari, dan yang sinar matanya bak kejora setelah tengah malam.

Pernah dengar dongeng ini?
Dongeng tentang negeri yang kalau mau hujan tinggal minta. Aroma gerimis kecil di sore hari, dengan sisa sinar matahari, selalu menjadi parfum khas asli negeri ini. Gerimis yang selalu datang tiap hari, membawa lelah dan peluh petani ke sungai-sungai yang jernihnya bak cermin permaisuri. Apalagi yang kurang? Rajanya memimpin dengan baik dan rakyatnya bahagia.

Pernah dengar dongeng ini?
Setiap malam sejak pertama kali dilahirkan putri cantik ini selalu mengucapkan harapannya pada bintang, anehnya selalu harapan yang sama. Selalu harapan yang tidak akan pernah terwujud baginya, sebanyak apapun ia berharap pada bintang, selama apapun ia menatap kejora, berkejaran dengan rasi Sirius, atau mengeja satu-satu namanya, harapan putri ini hanya akan menjadi gerimis sore yang berakhir di sungai-sungai kristal.

Sang raja yang bersedih melihat impian putrinya yang tak pernah terwujud, akhirnya mendatangi penyihir jelek yang kehebatannya mahsyur di seluruh negeri. Raja hendak menanyakan, kapan kiranya bintang-bintang itu mewujudkan harapan putrinya. Bintang tidak akan bisa mengabulkan permintaan putrimu yang mulia! si penyihir tersebut berkata kemudian terkekeh senang. Jika Anda ingin harapan itu terwujud, berikanlah gadis kecil yang suka menari pada bintang penyihir tersebut menyudahi kalimat dan kekehannya yang dalam.

Raja yang bingung dan sedih, akhirnya pulang sambil menimbang-nimbang perkataan penyihir jelek.  Mengorbankan gadis kecil yang suka menari pada bintang? Tak pernah ia dengar perkataan dan perbuatan semengerikan itu.

Namun karena rasa cintanya yang amat sangat pada putrinya akhirnya ia mengorbankan gadis kecil pada bintang, persis seperti apa yang diperintahkan penyihir jelek.

Pernah dengar dongeng ini? Dongeng tentang gerimis sore yang selalu membawa pelangi 7 warna, meski tanpa bidadari. Dongeng tentang raja yang selalu menanyakan hal yang sama pada putrinya setiap hari, kala gerimis sore usai.

"Aduhai putriku yang cantik, yang kejora pun tak bisa mengalahkan sinarnya, dan yang tak satu pelangi pun menanadingi kecantikannya, warna apa yang kau lihat pada pelangi di negeri kita sore ini?" .
Putri cantik itu menatap mata ayahnya yang berharap, lantas ia tersenyum  dan berkata "Aku suka sore hari Ayah, gerimis sore selalu mengingatkan aku padamu, dan pelanginya selalu mengingatkan aku pada negeri ini".
"Kalau begitu apa warna pelangi kita sore ini putriku?"  Sang Ayah kembali bertanya.
"Hitam... " lama sekali hingga kemudian Sang Putri mengatakan beberapa kata lagi,
"Putih, seperti biasanya Ayah".

Sang Raja tercekat, rasanya berhenti semua darah beredar, berhenti sudah jantungnya yang berdetak, tak ada lagi tongkat yang bisa menopang tubuhnya, menopang bebannya, menopang kesalahannya memercayai penyihir jelek yang tinggalnya di tengah hutan.

Pernah dengar dongeng ini? Dongeng tentang seorang raja yang tercekat, terjebak, terperangkap dalam harapan, ilusi, dan kenyataan yang remang yang tidak lagi bisa ia bedakan warnanya.
Pernah dengar dongeng ini? Dongeng tentang putri cantik yang suka menari, tapi tak dapat melihat warna.

Pernah dengar dongeng ini? Dongeng tentang gadis kecil yang gemar menari dalam hujan tapi dikorbankan untuk bintang.

***
Kaki-kaki kecilnya menari dalam nada hujan yang tak sembarangan bisa dengar. Apa yang ia cari? Mau jadi apa kalau besar nanti? Mau makan apa kalau lapar nanti? Di berondong pertanyaan gadis kecil itu, tapi aneh ia tetap menari, sekarang bahkan ditambah bernyayi.

Di negeri ini pelangi muncul tiap hari. Putri raja tak bisa melihatnya, jadilah gadis lain dikorbankan dalam cerahnya mejikuhibiniu setelah gerimis sore.

Di negeri ini gadis-gadis yang menari dalam gerimis sore segera jadi pahlawan bagi putri raja yang bahkan tak pernah mereka ketahui namanya. Dikorbankan bagi bintang yang mereka pikir sebagai kubah naungan ketika matahari pergi untuk tidur, yang mereka pikir adalah teman bersenandung ketika lapar dan mereka belum makan, yang mereka pikir adalah mimpi-mimpi mereka, ketika kenyataan terlihat tak nyata, atau ketika harapan terlihat jauh dari pandangan.

Dulu negeri ini warnanya mejikuhibiniu, tapi Sang Raja terjebak, terjebak dalam indahnya warna yang tak hilang, hingga lupa sekali bersyukur. Kini bukan hanya sang putri yang melihat pelangi sebagai dua perpaduan warna dasar, gadis-gadis yang menari dalam hujan atau gerimis juga, seluruh rakyatpun sama.

Sang Raja mengubah negeri di ujung pelangi ini menjadi berkabut tertutup awan pekat dan hanya melihat pelangi abu-abu.

Pernah dengar dongeng ini sebelumnya?
Belum? Maka buka koran, nyalakan televisi atau radio pagi ini, atau jika kamu takut tertipu, dengarkan saja mereka bernyanyi. Mereka yang bernyanyi nada-nada lirih, lagu yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya, atau sudah kamu dengar namun kamu abaikan, dengarkan mereka. Dengarkan gadis-gadis penari itu, menari dibawah gerimis sore, atau merintih sebelum dikorbankan pada bintang.

Dengarkan mereka, atau dengarkan dirimu sendiri. Bisa jadi kamu ini gadis penari itu, putri cantik yang tanpa daya, atau sang raja yang jadi tokoh antagonis.

Negeri ini tiap hari dihampiri pelangi, tapi mampukah kamu melihat warnanya?

Maka dengarkan dongeng ini sekali lagi, dongeng tentang hujan pelangi monokrom pada sebuah negeri nyata di Khatulistiwa.

Maka dengarkan dongeng ini sekal lagi dongeng tentang gadis penari, putri, dan rajanya,
siapakah kamu? Mampukah kamu melihat warnanya?

No comments:

Post a Comment