"Re, ini gereja?" Re mengangguk pelan, diikuti senyum tipis dibibirnya.
"Kamu mau ibadah?" Re menggeleng, lalu menarik tangan Di, menyelipkannya diantara lengannya yang besar.
"Terus, kita mau apa?" Di merangkai ucapannya hati-hati.
"Mau perkenalkan kamu dengan Tuhan ku" Re dengan suara beratnya menjawab.
"Hah, Tuhan mu?" Di tersentak, sambil mencoba terlihat tenang.
"Ya, biar Tuhan ku melihatmu, biar dia mengenalmu" Re mengakhiri kalimatnya lagi-lagi dengan senyum tipis, yang membuat ini semakin terlihat membingungkan.
"Dengan cara seperti ini?" Di yang kebingungan kembali bertanya
"Kamu mau ibadah?" Re menggeleng, lalu menarik tangan Di, menyelipkannya diantara lengannya yang besar.
"Terus, kita mau apa?" Di merangkai ucapannya hati-hati.
"Mau perkenalkan kamu dengan Tuhan ku" Re dengan suara beratnya menjawab.
"Hah, Tuhan mu?" Di tersentak, sambil mencoba terlihat tenang.
"Ya, biar Tuhan ku melihatmu, biar dia mengenalmu" Re mengakhiri kalimatnya lagi-lagi dengan senyum tipis, yang membuat ini semakin terlihat membingungkan.
"Dengan cara seperti ini?" Di yang kebingungan kembali bertanya
Re menghentikan
langkahnya, melepas rangkulan tangan Di dari lengannya, lalu meraih kedua
tangan Di yang mungil, mengenggamnya.
"Di sayang, tak terhitung berapa kali aku memerhatikanmu bersujud
dihadapan Tuhan mu. Ya setidaknya 5 kali dalam sehari, ditambah 1 kali di
tengah malam jika kamu mulai tak tenang. Ditambah setiap doa sebelum makan,
sebelum tidur, sebelum aku nyalakan mesin mobil." Re menghela napas,
membuat jeda dalam kalimatnya yang panjang.
"Tak terhitung
berapa kali aku menyapa Tuhan mu, aku sudah berkenalan dengan Nya lewat setiap
sujud dan doa yang kau lakukan dihadapanku." Re mengakhiri kalimatnya.
"Lalu, sekarang biar
Tuhan ku melihatmu, biar ia mengenalmu"

No comments:
Post a Comment