Wednesday, July 1, 2015

Kepada sebuah nama

Sudikah kiranya kamu menjawab tanyaku yang sederhana?
Adakah gerangan yang lebih jauh daripada waktu yang sudah berlalu, meski cuma sedetik yang lalu?
Karna jam di mejaku terus melaju, ditengah tanyaku yang berakhir sunyi kala itu.
Rasanya baru sedetik yang lalu, tapi sungguh aku tak bisa kembali pada masa itu.

Di setiap titik yang aku bubuhkan pada kalimatku untukmu, aku merasa kelu.
Seluruh tubuhku beku.
Tapi sungguh, tidak pernah sekali-kali jam dimejaku berhenti, hanya aku yang membiarkan mati sel-sel tubuhku, pada tiap titik, pada tiap jeda kalimatku.

Aku tahu, kamu terkulai pada satu lenganmu, menunggu setiap kata yang aku rangkai selesai seluruhnya. Kamu menatap aku pilu, dari jarak yang tak akan pernah bisa aku sentuh, karena kamu ada pada detik-detik yang baru saja berlalu.

Ahhh... kamu
Padahal namamu suaranya cukup lama menggema dikamar 4x4 milikku, tapi entah bagaimana kamu juga cukup cepat hilang dalam tik tok nya jam kecil dimejaku.
Sungguh lucu.

Apa yang lebih jauh daripada detik yang telah berlalu?
Katanya kita butuh jarak untuk bisa bergerak, butuh spasi agar mudah dibaca, butuh jeda biar bisa bernapas.
Tapi lihat saja jarak yang kita punya, membentang dalam dimensi berbeda.
Masihkah jarak kita butuhkan?

Paradoks, dunia ini seluruhnya dipenuhi paradoks katamu, parau suaramu menggema dalam sempitnya kamarku. Mengingatkan aku pada gambaran dirimu yang pudar karena entah sudah detik keberapa semenjak semuanya usai.

Apa yang lebih jauh daripada detik yang telah berlalu?
Kamu, bisakah jawab aku?

Kepada sebuah nama yang lalu dibawa detik yang berlalu, sudikah kamu menjawab tanyaku.


No comments:

Post a Comment