Kepada
sebuah nama
Sudikah
kiranya kamu menjawab tanyaku yang sederhana?
Adakah
gerangan yang lebih jauh daripada waktu yang sudah berlalu, meski cuma sedetik
yang lalu?
Karna jam di
mejaku terus melaju, ditengah tanyaku yang berakhir sunyi kala itu.
Rasanya baru
sedetik yang lalu, tapi sungguh aku tak bisa kembali pada masa itu.
Di setiap
titik yang aku bubuhkan pada kalimatku untukmu, aku merasa kelu.
Seluruh
tubuhku beku.
Tapi
sungguh, tidak pernah sekali-kali jam dimejaku berhenti, hanya aku yang
membiarkan mati sel-sel tubuhku, pada tiap titik, pada tiap jeda kalimatku.
Aku tahu,
kamu terkulai pada satu lenganmu, menunggu setiap kata yang aku rangkai selesai
seluruhnya. Kamu menatap aku pilu, dari jarak yang tak akan pernah bisa aku
sentuh, karena kamu ada pada detik-detik yang baru saja berlalu.
Ahhh... kamu
Padahal
namamu suaranya cukup lama menggema dikamar 4x4 milikku, tapi entah bagaimana
kamu juga cukup cepat hilang dalam tik tok nya jam kecil dimejaku.
Sungguh
lucu.
Apa yang
lebih jauh daripada detik yang telah berlalu?
Katanya kita
butuh jarak untuk bisa bergerak, butuh spasi agar mudah dibaca, butuh jeda biar
bisa bernapas.
Tapi lihat
saja jarak yang kita punya, membentang dalam dimensi berbeda.
Masihkah
jarak kita butuhkan?
Paradoks,
dunia ini seluruhnya dipenuhi paradoks katamu, parau suaramu menggema dalam
sempitnya kamarku. Mengingatkan aku pada gambaran dirimu yang pudar karena
entah sudah detik keberapa semenjak semuanya usai.
Apa yang
lebih jauh daripada detik yang telah berlalu?
Kamu,
bisakah jawab aku?
Kepada
sebuah nama yang lalu dibawa detik yang berlalu, sudikah kamu menjawab tanyaku.
No comments:
Post a Comment