Thursday, July 2, 2015

DUDU

Tak jarang lamunanku berakhir pada tanya.
Awalnya cuma panggil memanggil kenangan lama, mencoba-coba mengingat wajah, yang pasti berakhir pada mengingat-ingat sebaris nama.
Seperti sore ini, lamunanku terwujud berkat sebuah kotak berdebu diatas meja, rasanya baru 6 bulan lamanya.
Tapi...
Debu tebal menandakan ia yang telah cukup lama aku lupakan, cukup untuk menarik-narik benang dalam kepala, dan menitinya guna mencari asal mula kenangan.

Ahhh..
Ternyata isinya lebih membuatku terpana, banyak carikan kertas dengan tinta sejuta warna dan gaya tulisan yang sungguh berbeda.
Isinya kebanyakan tentang doa dan harapan, sisanya tentang mengingat-ingat kenangan.
Betapa aku merasa lebih dekat lewat guratan asli tangan mereka, entah mengapa semua terasa lebih manusiawi dalam kertas-kertas ini.

Karena kertas dan tinta tak pernah salah menyampaikan makna, mereka tak pernah janggal meninggalkan pesan.

Semua terasa pas, tak berlebihan, bahkan beberapa mampu menghadirkan air mata, betapa sederhananya kalimat mampu memanggil semua yang berlalu.
Dan menghadirkannya dalam bentuk paling sempurna, dalam kagum, rangkaian doa, hingga sendu dan pilu.

Jika tidak tulus, biar.
Toh kita memang mengenang apa yang mau kita kenang
Kita menghafal apa yang ingin kita hafal

Bahkan carik-carik kertas tadi mampu menyadarkan aku dari lihainya tipu daya waktu, yang aku pikir tak pernah berubah selalu begitu.
Nyatanya, banyak bait yang lupa ku susur hingga akhirnya menyadarkan aku betapa rapuhnya manusia jika berhadapan satu lawan satu.

Syukurlah masih ada DUDU, aku jadi bisa memahamimu lewat kertas dan tinta yang sudah berdebu.


No comments:

Post a Comment