DUDU
Tak jarang lamunanku berakhir pada
tanya.
Awalnya cuma panggil memanggil
kenangan lama, mencoba-coba mengingat wajah, yang pasti berakhir pada
mengingat-ingat sebaris nama.
Seperti sore ini, lamunanku terwujud
berkat sebuah kotak berdebu diatas meja, rasanya baru 6 bulan lamanya.
Tapi...
Debu tebal menandakan ia yang telah
cukup lama aku lupakan, cukup untuk menarik-narik benang dalam kepala, dan
menitinya guna mencari asal mula kenangan.
Ahhh..
Ternyata isinya lebih membuatku
terpana, banyak carikan kertas dengan tinta sejuta warna dan gaya tulisan yang
sungguh berbeda.
Isinya kebanyakan tentang doa dan
harapan, sisanya tentang mengingat-ingat kenangan.
Betapa aku merasa lebih dekat lewat
guratan asli tangan mereka, entah mengapa semua terasa lebih manusiawi dalam
kertas-kertas ini.
Karena kertas dan tinta tak pernah
salah menyampaikan makna, mereka tak pernah janggal meninggalkan pesan.
Semua terasa pas, tak berlebihan,
bahkan beberapa mampu menghadirkan air mata, betapa sederhananya kalimat mampu
memanggil semua yang berlalu.
Dan menghadirkannya dalam bentuk
paling sempurna, dalam kagum, rangkaian doa, hingga sendu dan pilu.
Jika tidak tulus, biar.
Toh kita memang mengenang apa yang
mau kita kenang
Kita menghafal apa yang ingin kita
hafal
Bahkan carik-carik kertas tadi mampu
menyadarkan aku dari lihainya tipu daya waktu, yang aku pikir tak pernah
berubah selalu begitu.
Nyatanya, banyak bait yang lupa ku
susur hingga akhirnya menyadarkan aku betapa rapuhnya manusia jika berhadapan
satu lawan satu.
Syukurlah masih ada DUDU, aku jadi
bisa memahamimu lewat kertas dan tinta yang sudah berdebu.
No comments:
Post a Comment