Wednesday, July 1, 2015


Puasa ke-14

Hari ini serupa hari-hari biasanya, adzan dzuhur sudah berkumandang keras beberapa menit yang lalu, dan baru saja ku tarik badanku dari dalam selimut biru tebal favoritku. Belakangan liburan membuat aku jadi “putri tidur” lebih banyak menghabiskan hidupku dalam mimpi-mimpi kabur.

Dua hari yang lalu, aku saksikan sendiri euforia yang membahana, menampilkan wajah-wajah bahagia dan lega. Balon warna-warni, riuh tepuk tangan dan ucapan selamat, sampai peluk dan cium di kening dari ia yang tersayang. Betapa tak ada alasan bagiku untuk tidak ikut jadi bahagia. Pun Kolam Makara jadi saksi bisu, tempat mereka membasuh peluh berkat kurang lebih empat tahun berjibaku dengan teori ekonomi, integral, memahami keinginan konsumen, jurnal pembalik, dosen yang tak pernah muda, atau teman yang sukanya makan teman. Toh pada akhirnya semua berakhir bahagia pada momen “selesai sudah” barusan.

Tepat di hari yang sama, aku menanggalkan gelarku sebagai mahasiswa tahun ketiga. Nilai terakhir yang sejak lama ditunggu kedatangannya, menggenapi rerata IPK, lega...
Melihat betapa beratnya semester ini, IPK yang tertera di layar SIAK-NG dapat mengundang senyum dan syukur tiada tara.

Lalu sekarang apa?

Tiga tahun rasanya seperti sekejapan mata, muncul sebentar di pelupuk lalu sudah hilang entah kemana, tinggalkan memori yang kabur, dan hanya muncul ketika ada pemantik yang hidupkan api-api kecil diujungnya.

Rasanya baru kemarin aku hanyut dalam euforia pengumuman mahasiswa baru di layar ponsel kecil milikku. Lantas kini pertanyaan, ‘duhh mau judul apa buat karya akhir?’ menghantui malamku. Waktu memang punya cara yang luar biasa dalam menipu kita yang hanyut ikut didalamnya. Mengubah 365 hari di kali tiga lebih mirip tiga minggu dibulan yang sama.

Ada rasa gembira karna sudah sejauh ini aku mampu bertahan, namun lebih banyak rasa takut, takut meninggalkan kenyataan yang sudah mulai membuatku terbiasa. Hidup dalam lingkupan tugas, berbab-bab teori dan studi kasus perusahaan Amerika. Hidup dalam kejaran deadline tulisan, dan tekanan jadi pers mahasiswa yang meng-Indonesia.

Hidup memang penuh dengan relativitas, persis seperti yang Einstein kemukakan.
Mungkin tiga tahun ini aku merasa sebegitu bahagianya hingga waktu terasa berlalu sebegitu cepatnya. Dan ketika aku dihentikan pada momen-momen euforia diatas, aku baru tersadar setelah menengok kebelakang, menyelami lagi hal-hal yang sempat aku lewatkan. Betapa sudah jauh sekali aku berjalan meninggalkan garis start. Betapa sudah tebal buku catatanku penuh tinta, hingga tinggal ¼ ruang untuk aku tuliskan sisa kisahnya.

Lantas sekarang apa?

Lantas, sebuket bunga, sebatang coklat, dan serangkaian ucapan selamat untuk mereka yang sudah lebih dulu berada pada momen “sudah selesai”. Sekaligus ucapan sampai jumpa, karna waktu dan hidup punya cara yang cukup aneh untuk mempertemukan sesiapa yang mereka ingin kembali pertemukan.

Lantas, sebuah pulpen baru untuk mereka yang masih akan membantu mengisi buku catatanku yang sudah ¾ penuh.  Mari kita nikmati satu tahun kedapan, yang mungkin akan membekas hebat.

Ada fase baru didepan yang mungkin harus ku relakan jika akhirnya aku bukan lagi bagian dari euforia Kolam Makara.
Yang harus aku relakan jika tidak ada lagi deadline tulisan dan kajian tentang isu kampus yang membosankan.
Yang harus aku relakan jika kelak aku harus melepaskan genggaman tanganku pada beberapa orang.

Karena begitulah cara waktu menipuku, berlalu, tanpa pernah memperingatkanku.


No comments:

Post a Comment