Puasa ke-14
Hari ini
serupa hari-hari biasanya, adzan dzuhur sudah berkumandang keras beberapa menit
yang lalu, dan baru saja ku tarik badanku dari dalam selimut biru tebal
favoritku. Belakangan liburan membuat aku jadi “putri tidur” lebih banyak
menghabiskan hidupku dalam mimpi-mimpi kabur.
Dua hari
yang lalu, aku saksikan sendiri euforia yang membahana, menampilkan wajah-wajah
bahagia dan lega. Balon warna-warni, riuh tepuk tangan dan ucapan selamat,
sampai peluk dan cium di kening dari ia yang tersayang. Betapa tak ada alasan
bagiku untuk tidak ikut jadi bahagia. Pun Kolam Makara jadi saksi bisu, tempat
mereka membasuh peluh berkat kurang lebih empat tahun berjibaku dengan teori
ekonomi, integral, memahami keinginan konsumen, jurnal pembalik, dosen yang tak
pernah muda, atau teman yang sukanya makan teman. Toh pada akhirnya semua
berakhir bahagia pada momen “selesai sudah” barusan.
Tepat di
hari yang sama, aku menanggalkan gelarku sebagai mahasiswa tahun ketiga. Nilai terakhir
yang sejak lama ditunggu kedatangannya, menggenapi rerata IPK, lega...
Melihat
betapa beratnya semester ini, IPK yang tertera di layar SIAK-NG dapat mengundang
senyum dan syukur tiada tara.
Lalu
sekarang apa?
Tiga tahun
rasanya seperti sekejapan mata, muncul sebentar di pelupuk lalu sudah hilang
entah kemana, tinggalkan memori yang kabur, dan hanya muncul ketika ada
pemantik yang hidupkan api-api kecil diujungnya.
Rasanya baru
kemarin aku hanyut dalam euforia pengumuman mahasiswa baru di layar ponsel
kecil milikku. Lantas kini pertanyaan, ‘duhh mau judul apa buat karya akhir?’
menghantui malamku. Waktu memang punya cara yang luar biasa dalam menipu kita
yang hanyut ikut didalamnya. Mengubah 365 hari di kali tiga lebih mirip tiga minggu
dibulan yang sama.
Ada rasa
gembira karna sudah sejauh ini aku mampu bertahan, namun lebih banyak rasa
takut, takut meninggalkan kenyataan yang sudah mulai membuatku terbiasa. Hidup
dalam lingkupan tugas, berbab-bab teori dan studi kasus perusahaan Amerika. Hidup
dalam kejaran deadline tulisan, dan tekanan jadi pers mahasiswa yang meng-Indonesia.
Hidup memang
penuh dengan relativitas, persis seperti yang Einstein kemukakan.
Mungkin tiga
tahun ini aku merasa sebegitu bahagianya hingga waktu terasa berlalu sebegitu
cepatnya. Dan ketika aku dihentikan pada momen-momen euforia diatas, aku baru
tersadar setelah menengok kebelakang, menyelami lagi hal-hal yang sempat aku
lewatkan. Betapa sudah jauh sekali aku berjalan meninggalkan garis start. Betapa sudah tebal buku catatanku
penuh tinta, hingga tinggal ¼ ruang untuk aku tuliskan sisa kisahnya.
Lantas
sekarang apa?
Lantas,
sebuket bunga, sebatang coklat, dan serangkaian ucapan selamat untuk mereka
yang sudah lebih dulu berada pada momen “sudah selesai”. Sekaligus ucapan
sampai jumpa, karna waktu dan hidup punya cara yang cukup aneh untuk
mempertemukan sesiapa yang mereka ingin kembali pertemukan.
Lantas,
sebuah pulpen baru untuk mereka yang masih akan membantu mengisi buku catatanku
yang sudah ¾ penuh. Mari kita nikmati
satu tahun kedapan, yang mungkin akan membekas hebat.
Ada fase
baru didepan yang mungkin harus ku relakan jika akhirnya aku bukan lagi bagian
dari euforia Kolam Makara.
Yang harus
aku relakan jika tidak ada lagi deadline tulisan dan kajian tentang isu kampus
yang membosankan.
Yang harus
aku relakan jika kelak aku harus melepaskan genggaman tanganku pada beberapa
orang.
Karena begitulah
cara waktu menipuku, berlalu, tanpa pernah memperingatkanku.

No comments:
Post a Comment