Mirip FTV
Aku memulai dengan sapa, atau kamu memulai dengan sapa, aku lupa siapa yang pertama, atau mungkin memang tak perlu membahas siapa yang pertama.
Aku pertama mengenalmu lewat kata
mereka, yaa memang ketika itu aku lebih suka tak terlihat – sekarang pun kalau
bisa, ingin tetap tak terlihat – diam-diam aku curi dengar, bincang mereka
tentang kamu yang begini atau kamu yang begitu. Aku merasa aku bukan bagian
dari lingkaran hidupmu, yang sejak awal aku sudah paham betul, sulit, sulit
buat aku jangkau, bahkan untuk jadi sekedar teman bicara, pemanis minum Teh Tarik
Cemong yang kadang rasanya hambar.
Kamu tipe bicara sambil berpikir khas
sekali laki-laki. Sedang aku banyak berpikir sebelum bicara. Dari situ saja
kita sudah berbeda.
Awalnya lewat tegur sapa biasa, aku
mengenalmu sekedarnya, apalagi kamu. Ketika itu aku cuma sebaris nama biasa,
tak kau kenal.
Ahh lalu, semua tiba-tiba sudah
“terlanjur” saja.
Sudah terlambat dihentikan, sudah
terlambat berhenti tanpa tinggalkan luka.
Cerita kita mirip FTV siang hari,
hahaha...
Metafora bodoh mungkin bagimu. Tapi
beginilah caraku membubuhkan tawa pada kisah kita yang, yaaa.. katakan saja
penuh air mata.
Satu setengah jam di TV dengan iklan
yang itu-itu lagi, kisahnya berakhir, disudahi. Jelas mirip kita, meski minus
akhir bahagia.
Aku sungguh tak menyangka, betapa
rumitnya hal yang dimulai dari sapa sederhana.
Lalu kemana kisah ini akan bermuara?
Mungkin pada akhirnya hubungan kita
akan berakhir lagi pada sapa-sapa sederhana. Mungkin kamu bisa jadi teman
bicara, diteriknya matahari Depok yang membakar, ditemani segelas besar Teh
Tarik Cemong yang hambar. Mungkin juga, kisah kita bisa jadi script FTV yang mengundang air mata
pemirsa, lalu diulang ribuan kali hingga bosan.
Atau mungkin... mungkin, Cuma aku
yang sedang berandai-andai, kamu sudah lama lupa pada namaku yang baru saja kau
kenal.
Ahh... yasudah, rasa-rasanya sudah
lelah aku menebak-nebak, karena terlalu banyak variabel bebas yang makin banyak
menghasilkan hipotesis berbeda. Biar saja semuanya jadi rahasia, hingga tiba
waktunya, bukankah itu yang membuatnya indah?
No comments:
Post a Comment