Saturday, July 4, 2015

Mirip FTV


Aku memulai dengan sapa, atau kamu memulai dengan sapa, aku lupa siapa yang pertama, atau mungkin memang tak perlu membahas siapa yang pertama.

Aku pertama mengenalmu lewat kata mereka, yaa memang ketika itu aku lebih suka tak terlihat – sekarang pun kalau bisa, ingin tetap tak terlihat – diam-diam aku curi dengar, bincang mereka tentang kamu yang begini atau kamu yang begitu. Aku merasa aku bukan bagian dari lingkaran hidupmu, yang sejak awal aku sudah paham betul, sulit, sulit buat aku jangkau, bahkan untuk jadi sekedar teman bicara, pemanis minum Teh Tarik Cemong yang kadang rasanya hambar.

Kamu tipe bicara sambil berpikir khas sekali laki-laki. Sedang aku banyak berpikir sebelum bicara. Dari situ saja kita sudah berbeda. 

Awalnya lewat tegur sapa biasa, aku mengenalmu sekedarnya, apalagi kamu. Ketika itu aku cuma sebaris nama biasa, tak kau kenal.
Ahh lalu, semua tiba-tiba sudah “terlanjur” saja.
Sudah terlambat dihentikan, sudah terlambat berhenti tanpa tinggalkan luka.

Cerita kita mirip FTV siang hari, hahaha...
Metafora bodoh mungkin bagimu. Tapi beginilah caraku membubuhkan tawa pada kisah kita yang, yaaa.. katakan saja penuh air mata.
Satu setengah jam di TV dengan iklan yang itu-itu lagi, kisahnya berakhir, disudahi. Jelas mirip kita, meski minus akhir bahagia.

Aku sungguh tak menyangka, betapa rumitnya hal yang dimulai dari sapa sederhana.  

Lalu kemana kisah ini akan bermuara?
Mungkin pada akhirnya hubungan kita akan berakhir lagi pada sapa-sapa sederhana. Mungkin kamu bisa jadi teman bicara, diteriknya matahari Depok yang membakar, ditemani segelas besar Teh Tarik Cemong yang hambar. Mungkin juga, kisah kita bisa jadi script FTV yang mengundang air mata pemirsa, lalu diulang ribuan kali hingga bosan.
Atau mungkin... mungkin, Cuma aku yang sedang berandai-andai, kamu sudah lama lupa pada namaku yang baru saja kau kenal.

Ahh... yasudah, rasa-rasanya sudah lelah aku menebak-nebak, karena terlalu banyak variabel bebas yang makin banyak menghasilkan hipotesis berbeda. Biar saja semuanya jadi rahasia, hingga tiba waktunya, bukankah itu yang membuatnya indah?



No comments:

Post a Comment