Hujan yang Alpa
Datang
Beberapa hari kebelakang tiap pukul
12 tepat aku harus berjalan keluar rumah, mengulur selang hijau yang terasa
panas karena terjemur teriknya matahari, lalu menyirami seluruh tumbuhan di
halaman.
Beberapa hari kebelakang tiap pukul
12 tepat, aku memicingkan mata menatap matahari yang cahayanya membutakan.
Memperhatikan awan yang cuma beberapa, berarak perlahan diatas kepala.
Beberapa hari kebelakang hujan memang
tak datang menyapa mawar atau daisy yang tumbuh sembarangan di halamanku. Mungkin
ia bosan, melulu aku sapa dengan tanya dan berlarian dalam memori lama.
Padahal setahuku hujan memang punya
lagu untuk mereka yang merindu.
Aku membayangkan awan berlarian riang,
menuju bunga-bunga yang tumbuh lebih indah dari punyaku, dan turunkan hujan
dihalaman berbeda yang bukan milikku.
Aku membayangkan kamu yang bosan pada
halamanku, hingga harus kugantikan hadirmu dengan siraman air dari selang hijau
dihalaman.
Rasanya ingin kubiarkan saja mawar
dan daisy ku layu, kering, hingga mati dan tak bisa tumbuh lagi. Hingga akhirnya
jadi sesal bagimu yang lupa jalan menuju halamanku. Tapi rasanya aku belum rela
menggantikannya dengan semak yang tumbuh liar tanpa perlu aku siram, tanpa
perlu kau datangi.
Padahal aku hanya ingin menyapamu
sebentar, merasakan rintikmu ditanganku yang biru.
Padahal aku cuma ingin menyapamu lewat
renyah tawaku yang kekanakan, bukan dengan keluh dan air mata.
Padahal aku cuma mau kamu turun
sebentar, mengingat apa yang pernah sama-sama kita tumbuhkan dihalaman belakang.
Mungkin kamu memang tak rindu
menyentuh dahiku lewat titik-titik airmu, dan menyapa jemariku lewat sapa yang
hanya bisa dimengerti kita?
Atau kamu lelah berderai dan
dengungkan nada yang cuma dirasakan beberapa kepala?
Kamu lupa turun sayangku...
Tak ingatkah kamu pada jalan menuju
halamanku?

No comments:
Post a Comment