Sunday, July 12, 2015

Hujan yang Alpa Datang


Beberapa hari kebelakang tiap pukul 12 tepat aku harus berjalan keluar rumah, mengulur selang hijau yang terasa panas karena terjemur teriknya matahari, lalu menyirami seluruh tumbuhan di halaman.

Beberapa hari kebelakang tiap pukul 12 tepat, aku memicingkan mata menatap matahari yang cahayanya membutakan. Memperhatikan awan yang cuma beberapa, berarak perlahan diatas kepala.

Beberapa hari kebelakang hujan memang tak datang menyapa mawar atau daisy yang tumbuh sembarangan di halamanku. Mungkin ia bosan, melulu aku sapa dengan tanya dan berlarian dalam memori lama.
Padahal setahuku hujan memang punya lagu untuk mereka yang merindu.

Aku membayangkan awan berlarian riang, menuju bunga-bunga yang tumbuh lebih indah dari punyaku, dan turunkan hujan dihalaman berbeda yang bukan milikku.
Aku membayangkan kamu yang bosan pada halamanku, hingga harus kugantikan hadirmu dengan siraman air dari selang hijau dihalaman.

Rasanya ingin kubiarkan saja mawar dan daisy ku layu, kering, hingga mati dan tak bisa tumbuh lagi. Hingga akhirnya jadi sesal bagimu yang lupa jalan menuju halamanku. Tapi rasanya aku belum rela menggantikannya dengan semak yang tumbuh liar tanpa perlu aku siram, tanpa perlu kau datangi.

Padahal aku hanya ingin menyapamu sebentar, merasakan rintikmu ditanganku yang biru.
Padahal aku cuma ingin menyapamu lewat renyah tawaku yang kekanakan, bukan dengan keluh dan air mata.
Padahal aku cuma mau kamu turun sebentar, mengingat apa yang pernah sama-sama kita tumbuhkan dihalaman belakang.

Mungkin kamu memang tak rindu menyentuh dahiku lewat titik-titik airmu, dan menyapa jemariku lewat sapa yang hanya bisa dimengerti kita?
Atau kamu lelah berderai dan dengungkan nada yang cuma dirasakan beberapa kepala?

Kamu lupa turun sayangku...
Tak ingatkah kamu pada jalan menuju halamanku?


No comments:

Post a Comment