Sunday, July 12, 2015

Perjalanan Panjang Menuju Vietnam 



Melanjutkan kisah yang terhenti pada indahnya matahari Kamboja, sekarang ada perjalan panjang yang harus saya tempuh menuju hiruk pikuknya Ho Chi Minh City yang gemerlapan. Dan kisah ini dimulai dari 18 jam terjebak dalam ketidaktahuan,
So here it is.. 


18 Jam Perjalanan 


18 jam kedepan adalah sebuah perjalanan panjang yang amat membekas bagi saya. Melintasi perbatasan negara dengan menggunakan jalur darat, berdesakan bersama turis lain dan warga lokal dalam sebuah sleeper bus reot, dengan supir yang ugal-ugalan, jalanan yang luar biasa berlubang, dan ketidaktahuan sudah sampai dimana saya sekarang, menjadi perpaduan lengkap dalam perjalanan saya kali ini. 

Banyak hal unik yang saya temukan dalam perjalanan saya kali ini. Let's take the sleeper bus as an example, sleeper bus yang saya gunakan ini bisa menampung hingga 5 buah sepeda motor dan puluhan koper penumpang dibagian bawah bus, pemandangan yang rasanya jarang kita temui di Indonesia. 


Pun setelah menghabiskan semalam suntuk dalam perjalanan, saya dan penumpang lainnya tujuan Ho Chi Minh City harus menelan kenyataan pahit diturunkan disebuah terminal antah berantah di Pnomh Penh City.

Saya yang berpergian sendiri dan sudah cukup kebingungan pada akhirnya hanya bisa pasrah menerima ketidakbecusan penglola jasa bus dan menunggu dalam ketidakpastian. Bahkan ada seorang turis asal Amerika yang menangis sendirian ditengah ramainya terminal, setelah saya tanya mengapa, ternyata ia harus mengejar pesawat ke Amerika sore itu, and looks like she couldn't make it.


Beruntungnya, saya bertemu Yuya turis asal Jepang yang luar biasa baik dan jadi teman bicara saya dalam kurang lebih 9 jam sisa perjalanan saya menuju Ho Chi Minh City. 

Yuya bersama beberapa temannya dan saya sama-sama menjadi korban ketidakbecusan pengelola bus, dan karena sekelompok orang Jepang ini tidak pandai dalam mencari kejelasan, akhirnya saya yang memperjuangkan nasib kami dengan meneror pengelola bus untuk segera diberangkatkan ke Ho Chi Minh City. 

Lucky us, setelah menunggu 2 jam tanpa kejelasan akhirnya kami diberangkatkan dengan bus lain yang lebih baik dari bus sebelumnya. 




Hati-hati di Vietnam 



Kesialan saya ternyata tak berhenti disitu saja, lelah sehabis menempuh 18 jam perjalanan, ditambah dengan segala ketidakpastian dan penelantaran yang terjadi. Setibanya di Ho Chi Minh City saya menjadi korban tipu taksi plat hitam. Saya harus membayar sekitar 200 Dong (kurang lebih seratus ribu rupiah) untuk menuju hostel yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat bis saya berhenti. 

Kriminalitas memang tinggi di kota ini, dari semua turis yang sempat saya ajak bicara, hampir semuanya adalah korban kriminalitas. Mulai dari pencurian dompet, penipuan, hingga hipnotis dan kehilangan seluruh barang. 



Pusat perniagaan Vitenam ini memang merupakan kota yang sibuk, mirip Jakarta, kemacetan adalah hal yang lumrah, kendaraan roda dua tumpa ruah. Parahnya, pengendara di Vietnam hanya menggunakan helm sederhana, mirip helm pengendara scooter, dan seringkali melanggar lampu lalu lintas jalan sehingga menyeberang jalan di Ho Chi Minh City butuh perhatian ekstra. Bahkan saya juga sempat tertabrak scooter di Vietnam, dan cukup menyakitkan anyway. 

City Tour, Yaayy!!


War Remnants Museum 



Tujuan pertama saya setelah tiba di Ho Chi Minh City, adalah War Remnants Museum. Museum ini mampu membawa kita kembali pada kepiluan perang yang terjadi cukup lama di Vietnam kala itu, betapa perang hanya menghasilkan kengerian dan derita yang luar biasa. Terdiri dari jajaran foto yang memilukan, alat-alat perang seperti tank baja, hingga jenazah bayi kembar siam yang diawetkan sebagai bukti penggunaan senjata kimia selama perang. 

Museum ini terjebak ditengah kota dan sangat mudah untuk ditemukan. Bahkan mungkin hanya perlu berjalan 5 menit dari hostel atau hotel tempat kalian menginap. 




Reunification Palace




Reunification Palace, adalah salah satu tempat bersejarah wajib kunjung, sebuah bangunan megah dengan arsitektur 'kaku' khas sosialis. Terdiri dari banyak ruangan yang difungsikan sebagai tempat pertemuan bagi para pemimpin negara. 

Sebelum memiliki bentuk seperti sekarang ini Reunification Palace sangat kental dengan arsitektur khas Barat yang juga tak kalah megah. 


Hai meet these beyond kind guys, yang rela jadi temen foto dan dimintain foto selama berada di Reunification Palace. Mereka masing-masing berasal dari Vitenam dan Korea, dan luar biasa ramah juga helpful. Meet Han, the one who wear black T-Shirt. And hmm... actually, I forgot the chubby guy name, so let's just call him Andrew, hehehe

and again meet this cute little girl, name Jasmine...


Jasmine dan keluarganya asal Australi sempat jadi teman berbincang dan bermain saya selama berada di Reunification Palace ini. Turns out, saya mengetahui bahwa Jasmine dan keluarga tergila-gila dengan keindahan Bali, yaayy proud to be Indonesian.

Notre Dam Chatedral, General Post Office, and Random Temple 




Ho Chi Minh City punya sebuah gereja katolik indah dengan arsitektur Eropa yang kental, yang biasanya jadi tempat kunjungan banyak turis ketika berkunjung ke Ho Chi Minh City. 



General Post Office sejak lama menjadi landmark kota ini, di dalam kantor pos ini terdapat foto Uncle Ho, yang merupakan salah satu tokoh yang amat berpengaruh di Vietnam. Bahkan nama Ho Chi Minh City sendiri diambil dari nama Uncle Ho, sebagai penghargaan atas jasanya terhadap Vietnam. 


Random Temple ini jadi pilihan saya ketika itu karna asitekturya yang cantik, dan merupakan salah satu temple tertua di Ho Chi Minh City. 

Disini saya juga bertemu dengan seorang wanita, yang jadi teman perjalanan saya seharian itu. Ia seorang Philipina yang bekerja di Singapore, juga sedang melakukan solo trip ketika itu. Rasanya seperti bertemu kakak, yang tidak pernah saya temui sebelumnya. 



Chu Chi Tunnels 


Chu Chi Tunnels, sebenarnya adalah salah satu taktik perang yang digunakan Vietnam untuk bertahan dari gempuran Amerika selama perang Vietnam. 

Berada di ruang yang gelap, pengap, dan sempit adalah keseharian yang harus dijalani oleh tentara perang Vietnam ketika itu. Panjang terowongan ini bahkan bisa tembus hingga ke Sungai Mekong yang jauh sekali jaraknya. Yaa.. salah satu tempat wajib kunjung jika berkunjung ke Ho Chi Minh City, meski membutuhkan waktu 2 jam lamanya dari pusat kota. 

Auf Wiedersehen Vietnam!


So this is the end of my very short trip to Cambodia and Vietnam. 
Again let's take a selfie with a random family, which actually is being a kind of photobombers. 

A great journey is actually next door, just take your backpack, collect your courage, get a ticket, and everything else will follow, cause they said travel now think later. 


Berada pada ketinggian ribuan kaki, lebih tinggi dari awan, aku mengucap doaku yang sederhana, syukur atas perjalanan yang luar biasa. Kutitip semua memori pilu dan indah bergantian satu-satu pada tiap putihnya awan yang berlalu dihadapanku. 

Semoga akan ada kesempatan lain untuk bisa kembali menjamah besarnya dunia yang mengaggumkan... 


No comments:

Post a Comment