Monday, July 6, 2015

Purnama yang Terlewat 

“Bayangkan saja, jika aku terlalu takut pulang malam itu”

Pasti aku lelap dibalik selimut berbau khas yang baru Ina keluarkan dari lemarinya, tiap tamu datang menginap. Lalu kamu terduduk sendiri di peron stasiun menunggu kereta malam yang lebih lama datangnya, lalu berbincang dengan satpam yang mulai bosan dan banyak menguap karena sudah sejak 5 jam lalu berdiri dan mengawasi.

“Bayangkan saja, jika ponselku masih menyala dengan cukup pulsa”.

Barangkali aku sudah lama hanyut dalam deretan lagu favorit yang aku shuffle lewat ponselku. Atau mungkin tertawa keras pada lucunya curhatan temanku diujung telepon sana. Tak terganggu sama sekali dengan sepinya peron stasiun pada malam yang sudah mulai larut sedang kereta yang sama-sama kita tunggu masih 7 stasiun lagi jauhnya.

Barangkali kamu sudah lama sibuk men-scroll habis berita-berita terkini dalam bahasa asing favoritmu, dan mengangguk pelan mengamini tiap bahasan yang kau baca. Tak terganggu sama sekali dengan jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh satu menit sedang tumpukan file disampingmu adalah pertanda dua cangkir kopi tanpa tidur malam ini.

“Bayangkan saja, jika kita tak diam-diam menyimpan kagum lewat lirik mata tak sengaja”

Barangkali aku dan kamu masih saja berandai-andai tentang saling bertukar nama atau sedikit cerita. Pura-pura tak peduli, padahal kita duduk dalam sehasta jarak yang harusnya bisa sama-sama kita bunuh dengan hanya saling berbalas senyum.

“Bayangkan saja jika bulan tak bersinar memesona malam itu”

Maka mungkin kita sama-sama akan tenggelam dalam lelahnya dasi yang terikat terlampau kencang, dan hak sepatu yang cukup tinggi untuk membuat nyeri. Larut dalam keluh kesah sendiri, padahal ada purnama yang bisa kita sama-sama kagumi.

Coba bayangkan semuanya.
***

Aku terduduk di peron stasiun, setelah berhasil mengalahkan takutku untuk pulang di malam larut, ahh lagian purnama cukup terang, harusnya cukup untuk menemaniku pulang.

Aku memilih duduk diujung peron, sehasta jaraknya dengan seorang laki-laki yang asyik dengan ponsel pintarnya. Lalu ku tengok ponsel ku, 21% battery remaining cukup untuk men-shuffle lagu hingga sampai dirumah nanti pikirku. Tapi urung ku lakukan, ketika ku pandang langit dengan purnamanya yang memesona, malam ini akan kupandang saja langit, hingga kereta datang membawaku pulang.

Ahh...pegal, aku terlalu lama mendongak.
Ku miringkan sedikit leherku, tak sengaja aku jadi memandang ia yang sedari tadi ternyata memandang purnama bersamaku.

Tiba-tiba saja kita sudah saling melempar senyuman, lalu sebuah “Hai” dari mu yang terdengar terlampau memikat.
***

Coba saja bayangkan, jika andai-andai kita tentang malam yang singkat itu terjadi, misalnya aku yang terlalu takut pulang, atau kamu yang terlalu asik dengan bahasan berita.

Lantas mungkin kita akan sama-sama melewatkan purnama, atau mungkin malah menjadi purnama yang terlewat.

No comments:

Post a Comment