Purnama
yang Terlewat
“Bayangkan saja, jika aku terlalu
takut pulang malam itu”
Pasti aku lelap dibalik selimut
berbau khas yang baru Ina keluarkan dari lemarinya, tiap tamu datang menginap. Lalu
kamu terduduk sendiri di peron stasiun menunggu kereta malam yang lebih lama
datangnya, lalu berbincang dengan satpam yang mulai bosan dan banyak menguap
karena sudah sejak 5 jam lalu berdiri dan mengawasi.
“Bayangkan saja, jika ponselku masih
menyala dengan cukup pulsa”.
Barangkali aku sudah lama hanyut
dalam deretan lagu favorit yang aku shuffle
lewat ponselku. Atau mungkin tertawa keras pada lucunya curhatan temanku
diujung telepon sana. Tak terganggu sama sekali dengan sepinya peron stasiun
pada malam yang sudah mulai larut sedang kereta yang sama-sama kita tunggu
masih 7 stasiun lagi jauhnya.
Barangkali kamu sudah lama sibuk men-scroll habis berita-berita terkini dalam
bahasa asing favoritmu, dan mengangguk pelan mengamini tiap bahasan yang kau
baca. Tak terganggu sama sekali dengan jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh
lewat dua puluh satu menit sedang tumpukan file disampingmu adalah pertanda dua
cangkir kopi tanpa tidur malam ini.
“Bayangkan saja, jika kita tak
diam-diam menyimpan kagum lewat lirik mata tak sengaja”
Barangkali aku dan kamu masih saja berandai-andai
tentang saling bertukar nama atau sedikit cerita. Pura-pura tak peduli, padahal
kita duduk dalam sehasta jarak yang harusnya bisa sama-sama kita bunuh dengan
hanya saling berbalas senyum.
“Bayangkan saja jika bulan tak
bersinar memesona malam itu”
Maka mungkin kita sama-sama akan
tenggelam dalam lelahnya dasi yang terikat terlampau kencang, dan hak sepatu
yang cukup tinggi untuk membuat nyeri. Larut dalam keluh kesah sendiri, padahal
ada purnama yang bisa kita sama-sama kagumi.
Coba bayangkan semuanya.
***
Aku terduduk di peron stasiun,
setelah berhasil mengalahkan takutku untuk pulang di malam larut, ahh lagian
purnama cukup terang, harusnya cukup untuk menemaniku pulang.
Aku memilih duduk diujung peron,
sehasta jaraknya dengan seorang laki-laki yang asyik dengan ponsel pintarnya. Lalu
ku tengok ponsel ku, 21% battery
remaining cukup untuk men-shuffle lagu hingga sampai dirumah nanti pikirku.
Tapi urung ku lakukan, ketika ku pandang langit dengan purnamanya yang
memesona, malam ini akan kupandang saja langit, hingga kereta datang membawaku
pulang.
Ahh...pegal, aku terlalu lama mendongak.
Ku miringkan sedikit leherku, tak
sengaja aku jadi memandang ia yang sedari tadi ternyata memandang purnama
bersamaku.
Tiba-tiba saja kita sudah saling
melempar senyuman, lalu sebuah “Hai” dari mu yang terdengar terlampau memikat.
***
Coba saja bayangkan, jika andai-andai
kita tentang malam yang singkat itu terjadi, misalnya aku yang terlalu takut
pulang, atau kamu yang terlalu asik dengan bahasan berita.
Lantas mungkin kita akan sama-sama
melewatkan purnama, atau mungkin malah menjadi purnama yang terlewat.
No comments:
Post a Comment