Iman dan Cahaya Bintang
Blind Faith
“How can you have blind faith in
something which there is not a scrap of evidence?”
“Well the answer is you can’t. If you
could prove it, it wouldn’t be faith. You can only have faith in what you don’t
know. That’s what faith is”
-God Explained in a Taxi Ride:
Paul Arden-
Aku selalu suka dengan bintang,
menatapnya seperti jauh menatap pada sejuta rahasia yang tidak akan pernah aku
ketahui betul isinya. Ada rasa tenang, ada bahagia, ada sedikit ketakutan, dan
banyak kekaguman pada taburannya yang jelas dilangit malam.
Sebenarnya ketika kita menatap
bintang dilangit malam, kebanyakan bintang yang kita lihat adalah
bintang-bintang yang sudah lama hilang. Bisa jadi meledak karna bintang itu
sudah terlampau tua, bisa jadi melebur dengan bintang lainnya karena mungkin ia
terlalu dekat dengan bintang yang lebih besar dan tertarik gaya magnetnya yang
terlampau kuat, hingga melebur jadi satu bintang.
Lalu mengapa kita masih bisa melihat
bintang dengan jelas?
Karena bintang-bintang itu berada
pada jarak yang amat sangat jauh, ratusan bahkan ribuan tahun kecepatan cahaya.
Sehingga meski ia, bintang-bintang itu sudah tiada, bintang yang sama masih muncul
menerangi malam-malam gelap kita.
Sebenarnya menatap bintang seperti
melihat sesuatu yang sudah tiada, menatap pada ketiadaan yang nampak nyata.
Lagi, lalu apa hubunganya cahaya
bintang dengan iman?
Bintang seolah-olah sedang mengajari
kita tentang hal sederhana yang seringkali luput dari perhatian dan pemikiran
kita. Bintang mengajarkan kita tentang hal sederhana, bahwasanya yang nampak
jelas kita lihat, belum tentu benar-benar ada. Bintang yang sudah lama meledak,
masih bisa kita lihat seumur hidup kita, karena jaraknya yang terlampau jauh
dan cahayanya butuh banyak waktu untuk merambat.
Dengan ini, bintang juga sebenarnya sedang mengajarkan kita bahwa yang
tidak nampak belum tentu tidak ada.
Pernahkan terpikirkan bawah sebenarnya
bintang sedang mengajarkan kita tentang iman?
Aku jadi ingat pernah membaca sebuah
artikel singkat tentang pertanyaan seorang anak pada ibunya.
“Bu, kenapa Allah tidak bisa kita lihat?”
Si Ibu lantas menjawab “Allah itu sangat besar dek. Lihat langit yang luas dan besar, itu baru
secuil dari keseluruhan langit yang ada. Adek gak bisa lihat ujung langit kan?
Nah kita gak bisa lihat Allah karena Allah itu adalah pencipta langit yang
besar tadi.”
“Coba sekarang hadapkan telapak tangan adek ke arah wajah. Adek bisa
lihat kan jari-jari dan garis-garis tangan adek dengan jelas. Nahh... sekarang
coba dekatkan tangan adek sedekat-dekatnya ke mata, apakah adek masih bisa
lihat jari-jari dan garis-garis tangan adek?”
“Gak bisa kan dek, nahh kesimpulannya kita gak bisa lihat Allah karena Allah itu Maha Besar
dan teramat dekat dengan kita”
Yaa, bintang-bintang yang bertaburan bebas
di angkasa malam memang sedang mengajarkan kita tentang iman. Mengajarkan kita
tentang penciptanya yang Maha Besar dan teramat dekat. Mengajarkan kita yang
melulu nampak belum tentu ada, dan yang tak nampak belum tentu tidak ada. Dan
Iman ada untuk membuat kita percaya akan sesuatu yang tidak bisa kita lihat.
Malam terakhir Ramadhan ini terasa
sedikit berbeda, ada banyak kesedihan yang tiba-tiba memenuhi rongga dada.
Rasanya ia berlalu terlampau cepat, hinggap sebentar dan berlalu secepat kilat.
Kini tinggal doa dan banyak semoga, semoga aku masih bisa mengucap selamat
datang Ramadhan lagi tahun depan...

No comments:
Post a Comment