Saturday, July 25, 2015

Rinduku yang Sederhana

Pagi tadi aku menguncir rambutku dan menjepit ujung poniku dengan pita warna ungu, warna favoritku. Dengan gaun putih sebatas lutut dan rendanya yang lucu kuberanikan diri memantaskannya dengan fantofel hitam pemberianmu. Lalu aku melangkah malu-malu.

Hari ini ku beranikan diri menggunakan tas yang kau belikan untukku di pasar malam waktu itu. Warnanya belum juga pudar, mengingat tas ini sepertinya sudah ada bersamaku seabad yang lalu, masih hitam legam serupa rambutmu dalam ingatanku. Didalamnya hanya ada sebatang pensil yang baru selesai ku raut, dan sepucuk surat yang isinya hati-hati sekali aku tuliskan.

Pagi tadi aku sudah menggenapkan tekadku untuk pergi sendiri kekantor pos ditengah kota, semata untuk mengirimkan sepucuk surat yang akhirnya selesai aku rangkai.

Sebenarnya pagi itu, ada sebagain dari diriku yang rasanya tak mau ikut pergi ke tengah kota. Ada partikel-partikel kecil tubuhku yang sejak awal melarangku menguncir rambutku, mengenakan gaun putih rendaku, dan mengajak ku pulang sejak awal aku membuka gerbang rumah.

Tapi demi sepucuk surat yang sudah dengan susah payah aku tuliskan, aku biarkan partikel-partikel itu mati, satu persatu, tiap aku mengayunkan kakiku satu langkah lebih jauh dari rumah. Kamu pasti tertawa jika mampu melihatku... gadis pemalu itu, langkahnya tegas demi sedikit lebih dekat dengamu. Kamu pasti tak percaya jika mampu melihatku.

Sepucuk surat ini seluruh isinya tentang rindu, tentang kamu.
Tentang banyak kata yang tak pernah tersampaikan ketika kau ada bersamaku, yang tak pernah aku katakan ketika aku masih bisa memandangmu.
Bukan, bukan tentang rayuan ku yang mendayu agar kamu cepat pulang kerumahku yang kini sendu. Surat ini seluruhnya berisi cemas dan pilu yang tertahan diujung kerongkonganku.

Sepucuk surat ini aku alamatkan padamu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan tak mampu lagi menatap tegasnya matamu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan tak mampu lagi tertidur dalam sajakmu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan tak mampu menyentuh ujung-ujung jarimu.
Mencemaskan kamu yang tak akan pernah lagi bisa memandangku yang kenakan pita ungu dirambutku.

Pagi itu, akhirnya aku tiba di kantor pos dengan cat putih mendominasi senada gaunku. Seorang berseragam lengkap menyapaku ramah, dan menanyakan apa yang bisa ia bantu untukku.
Segera kuminta secarik kertas putih baru, dan kukeluarkan pensil dari dalam tasku, ragu-ragu kutuliskan...
“Aku rindu kamu”

Ini pak, tolong kirimkan padanya yang berjanji cepat pulang, padanya yang berjanji menina bobokan ku dengan sajak-sajak putisnya, padanya yang berjanji hanya akan menatap sepasang mata milikku saja, padanya yang pergi dan meninggalkan jiwaku sendiri, padanya yang pergi dan lupa menyapaku lagi.

Maafkan aku yang hanya tuliskan sebuah rindu disurat itu dan urungkan niatku yang hendak kirimkan berbait rindu lewat surat didalam tasku.
Lagi, dihadapanmu yang meski tak benar-benar nyata muncul pada pandangaku, aku tak mampu ungkapkan sajakku yang mendayu.
Karena begitulah aku dihadapanmu, rapuh, malu, kelu dan kaku. 

Sepucuk surat itu, biar saja tersimpan didalam tasku.
Nanti saja kau baca jika kamu sudah paham aku yang pemalu.

Biar sekarang aku sampaikan saja maksudku dalam tiga kata sederhana, “Aku rindu kamu”.  

No comments:

Post a Comment