Rinduku yang Sederhana
Pagi tadi aku menguncir rambutku dan
menjepit ujung poniku dengan pita warna ungu, warna favoritku. Dengan gaun
putih sebatas lutut dan rendanya yang lucu kuberanikan diri memantaskannya
dengan fantofel hitam pemberianmu. Lalu aku melangkah malu-malu.
Hari ini ku beranikan diri
menggunakan tas yang kau belikan untukku di pasar malam waktu itu. Warnanya
belum juga pudar, mengingat tas ini sepertinya sudah ada bersamaku seabad yang
lalu, masih hitam legam serupa rambutmu dalam ingatanku. Didalamnya hanya ada
sebatang pensil yang baru selesai ku raut, dan sepucuk surat yang isinya
hati-hati sekali aku tuliskan.
Pagi tadi aku sudah menggenapkan
tekadku untuk pergi sendiri kekantor pos ditengah kota, semata untuk
mengirimkan sepucuk surat yang akhirnya selesai aku rangkai.
Sebenarnya pagi itu, ada sebagain
dari diriku yang rasanya tak mau ikut pergi ke tengah kota. Ada
partikel-partikel kecil tubuhku yang sejak awal melarangku menguncir rambutku,
mengenakan gaun putih rendaku, dan mengajak ku pulang sejak awal aku membuka
gerbang rumah.
Tapi demi sepucuk surat yang sudah
dengan susah payah aku tuliskan, aku biarkan partikel-partikel itu mati, satu
persatu, tiap aku mengayunkan kakiku satu langkah lebih jauh dari rumah. Kamu
pasti tertawa jika mampu melihatku... gadis pemalu itu, langkahnya tegas demi
sedikit lebih dekat dengamu. Kamu pasti tak percaya jika mampu melihatku.
Sepucuk surat ini seluruh isinya
tentang rindu, tentang kamu.
Tentang banyak kata yang tak pernah
tersampaikan ketika kau ada bersamaku, yang tak pernah aku katakan ketika aku
masih bisa memandangmu.
Bukan, bukan tentang rayuan ku yang
mendayu agar kamu cepat pulang kerumahku yang kini sendu. Surat ini seluruhnya
berisi cemas dan pilu yang tertahan diujung kerongkonganku.
Sepucuk surat ini aku alamatkan
padamu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan
tak mampu lagi menatap tegasnya matamu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan
tak mampu lagi tertidur dalam sajakmu.
Mengungkapkan betapa aku mencemaskan
tak mampu menyentuh ujung-ujung jarimu.
Mencemaskan kamu yang tak akan pernah
lagi bisa memandangku yang kenakan pita ungu dirambutku.
Pagi itu, akhirnya aku tiba di kantor
pos dengan cat putih mendominasi senada gaunku. Seorang berseragam lengkap
menyapaku ramah, dan menanyakan apa yang bisa ia bantu untukku.
Segera kuminta secarik kertas putih
baru, dan kukeluarkan pensil dari dalam tasku, ragu-ragu kutuliskan...
“Aku rindu kamu”
Ini pak, tolong kirimkan padanya yang
berjanji cepat pulang, padanya yang berjanji menina bobokan ku dengan
sajak-sajak putisnya, padanya yang berjanji hanya akan menatap sepasang mata
milikku saja, padanya yang pergi dan meninggalkan jiwaku sendiri, padanya yang
pergi dan lupa menyapaku lagi.
Maafkan aku yang hanya tuliskan
sebuah rindu disurat itu dan urungkan niatku yang hendak kirimkan berbait rindu
lewat surat didalam tasku.
Lagi, dihadapanmu yang meski tak
benar-benar nyata muncul pada pandangaku, aku tak mampu ungkapkan sajakku yang
mendayu.
Karena begitulah aku dihadapanmu,
rapuh, malu, kelu dan kaku.
Sepucuk surat itu, biar saja
tersimpan didalam tasku.
Nanti saja kau baca jika kamu sudah
paham aku yang pemalu.
Biar sekarang aku sampaikan saja
maksudku dalam tiga kata sederhana, “Aku rindu kamu”.
No comments:
Post a Comment