Untuk Kamu
yang Merasa Tidak Pernah Disebut Namanya
Entah mana yang lebih baik kuucap
pertama, maaf atau terimakasih yang banyak.
Kamu mungkin
selalu menerka pada sajak yang mana namamu pernah disebutkan, aku ingat kamu
pernah bertanya.
Aku tau,
kamu pernah menyebutku dalam satu dua sajakmu, namaku yang tenggelam dalam
banyak umpama, sulit untuk ku cari tahu sendiri, tapi aku tahu dan aku yakin
kamu tahu. Pada sajak-sajak sebelumnya mungkin benar memang tidak ada namamu,
bukan karena kamu tidak cukup spesial untuk muncul dalam sajak-sajak biasaku,
hanya saja belum waktunya.
Sesungguhnya
aku juga tidak yakin betul ini waktu yang tepat, karena jika tulisan ini
berisikan banyak maaf, aku yakin setelahnya masih banyak maaf lagi yang akan
tercipta, begitupun terimakasih.
Pada sifatku
yang mudah goyah dihantam badai sebentar, kamu salah satu orang yang paling
sabar dan kuat membantuku menyusun kembali segala yang pernah retak. Salah satu
yang paling banyak menyaksikan air mata meluncur tanpa pegangan pada kedua
pipiku yang sudah basah.
Pada sifatmu
yang lebih kuat dan sejak lama jadi atap untuk yang lainnya, meski kadang
terasa terlalu kaku, kamu cukup pandai mensiasati badai. Rasanya kamu lebih
cocok dipanggil nahkoda dalam kapal ini, dan aku cuma bayangan yang banyak
muncul dalam perayaan seremonial. Nyatanya benar memang kamu si sutradara dan
katakan saja kami cuma pemanis cerita.
Dari awal
memang sulit buatku, aku tak pernah memilih tempatku dan aku yakin begitupun
kamu, begitupun mereka. Tapi cerita yang kita perankan mustahil berjalan tanpa
pemeran, jadi entah terpaksa atau pura-pura terpaksa, kita tetap punya naskah
untuk dibaca.
Belakangan
aku makin merasa beruntung saja bisa bersinggungan jalan denganmu, dan aku
yakin yang lain pun begitu. Diluar caramu yang tak biasa kamu punya banyak
pesona, dan entah mengapa aku teramat yakin diakhir cerita kamu lah
satu-satunya yang pantas menerima riuh tepuk tangan dan banyak bunga.
Teruntuk
dirimu yang merasa tak pernah disebut namanya, ada doa-doa dalam diam
yang tersisip untuk menguatkanmu agar kuat menguatkanku, menguatkan kami.
Teruntuk
dirimu yang merasa tak pernah disebut namanya, ada cinta yang teramat
besar untuk sebuah potongan cerita sederhana dari keseluruhan kisahmu yang
singkat, semoga kelak kisah ini tidak jadi sia-sia.
Teruntuk
dirimu yang merasa tak pernah disebut namanya, maaf dan terimakasihku
biar kusimpan dan kusampaikan sendiri
pada persimpangan tempat kita akhirnya memilih jalan sendiri-sendiri.
Teruntuk
dirimu, bersabarlah pada waktu yang sedikit lagi ini...
No comments:
Post a Comment