Sajakmu yang Itu
Lagi dalam sajakmu,
yang kini tak lagi malu kau tanyakan padaku, ada banyak umpama yang terbang
melayang pelan bak daun kecoklatan yang gugur di halaman depan rumah.
Pada sajakmu yang itu
aku menemukan lebih banyak tanya berani kau terbangkan satu-satu ke halamanku,
lebih banyak lagi mungkin dalam kepalamu. Haruskah aku jawab satu-satu? Menerbangkannya
ke halamanmu, lewat sebentuk pesawat kertas yang tak lagi salah alamat?
Pernahkah kau
mendengar mata adalah jendela menuju jiwa?
Sungguh tanpa sajak
semua sudah terasa begitu jelas. Namun mungkin karena hakikat manusia mencintai
semua yang nyata bentuknya, kadang yang datang tanpa bentuk yang jelas dan
samar, berakhir dalam danau tanya ditengah hutan. Untuk sampai disana saja kamu
sudah banyak tinggalkan luka di seluruh badan, berkat duri dan ranting-ranting
kecilnya yang mengoyak kulitmu tanpa bertanya.
Aku sungguh tak
menyangka menyimpulkan tali sepatu pada kedua kaki yang luka akan sebegini
perihnya. Sedihnya, kurang lebih luka pada kaki itu ada berkat kecerobohanku,
lalu kamu dan yang lain terjebak dalam simpulnya yang menyesakan.
Bagaimana bisa aku
tidak mengatakan maaf?
Belakangan, entah
hanya perasaanku saja atau benar begitu adanya, rumah kita yang bersebelahan,
jaraknya entah mengapa terasa makin jauh saja. Aku perlu mengayunkan tanganku
kuat-kuat untuk menerbangkan pesawat kecilku ke halamanmu.
Mungkin waktu sudah
mulai membiasakan kita, pada hal yang tak bisa kita terima langsung tanpa
pernah terbiasa.
Mungkin waktu memang
mulai membiasakan kita, bahwa nanti akan ada jarak yang benar-benar menyamarkan
segalanya dalam jutaan memori di otak yang berdesakan, berlarian, minta
dipanggil dan diingat.
Mungkin waktu memang
benar-benar sedang membiasakan kita pada sesuatu yang akan lebih menyakitkan
kalau tidak begini jalannya.
Aku hanya
menebak-nebak, sama sepertimu.
Sama seperti yang
lainnya.
Sama seperti 7 milyar
manusia lainnya.
Karena hakikat kita
yang abai pada sesuatu yang tak jelas bentuknya.
No comments:
Post a Comment