Friday, May 1, 2015

HAI...

Menyapamu selalu jadi tugas terberatku, rasanya kelu. Melihatmu, selalu jadi derita dan bahagiaku, rasanya kupu-kupu terbang bebas diperutku. Hai.. rasanya sulit, aku selalu berusaha terlihat biasa, atau setidaknya berpikir untuk terlihat biasa. Aku selalu menebak-nebak sampaikah nada bicaraku yang berbeda pada neuron mu, sehingga kau bisa tanya “Hai Syap, mengapa kamu berbeda?” tanpa perlu aku hilangkan senyumku, mengirim chat dengan nada sendu, atau terduduk sendiri di Taman Makara sore itu.

Mereka bilang waktu sembuhkan semua, semua luka dan derita. Aku percaya, hanya saja sampai kapan. Sampai kapan aku harus menunggu, menunggu doaku berubah dari ingin bersamamu jadi sekedar merelekanmu. Rasanya egois dan tak pantas, seolah aku dustakan semua nikmat Tuhan yang pernah titipkan senyum dan air matamu padaku. Tapi apa dayaku, kalau aku hanya ingin kamu.

Ya, aku selalu berurai tentang keadaan yang tak sesuai. Tentang situasi yang tak mengizinkan. Mungkin aku hanya sedang menepis keraguan, atau itu cuma alasan. Alasan bahwa aku sebenarnya cuma ingin bersamamu, tapi terlalu takut untuk bersamamu.

Sayang, kita cuma sebentar bersama, cuma sebentar berkenalan. Kamu sudah terlanjur merelakan, tanpa pernah bertanya maukah aku ikut bersama. Tanpa pernah bertanya apakah aku bersedia berjalan bersama. Kamu terlanjur merelekan.

Mungkin doa, mungkin lewat curhatku yang sederhana, mungkin juga lewat sapaku yang berbeda. Aku bisa menyentuh neuronmu dengan signal yang berbeda. Mungkin doa yang belum juga rela bisa jadi diijabah, mungkin curhat sederhana lewat kata teman tak terduga bisa tersampaikan, sesuai,mungkin lewat sapaku yang sendu padamu yang selalu nampak bahagia.

Aku hanya manusia, dan cuma mau jadi manusia. Izinkan aku jadi tak berdaya dan pinjam bahumu untuk bersandar. Izinkan aku jadi rapuh dan pinjam tanganmu untuk ku genggam. Izinkan aku jadi egois, dan pinjam kamu seutuhnya.

Hai...
Aku mencoba membuat wajahku terlihat biasa, berbasa-basi tentang kuliah yang tak masuk akal, atau organisasi yang melelahkan. 
Basa-basi sederhana. 

6 comments:

  1. Hai...
    Jika cinta memiliki pintu,
    mengapa kita mendustai rindu?
    Apakah yang telah pergi,
    tidak akan pernah kembali?

    ReplyDelete
  2. Hai...
    Kita sedang berperang,
    atau sedang saling mengenang?

    ReplyDelete
  3. Hai...
    Cinta selalu tak disangka-sangka,
    Rindu tak pernah tidak tiba-tiba

    Seolah kita menjadi korban,
    padahal kita yang menginkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puisinya bagus, kenapa di post nya cuma sepenggal gitu?

      Delete
  4. Leh uga tulisannya mb..

    ReplyDelete