Untuk yang keberadaannya seringkali
aku abaikan,
Halo Mama
Pada sore yang biasa, aku mendapati
diriku tertidur lebih lama.
16.37 aku seharusnya bangun pukul
16.00 tepat.
Aku merasa kecewa, karna aku sudah
berpesan pada seseorang di lain tempat
“Hei bangunkan aku pukul 16.00 ya”.
Sayang sekali, karna suatu alasan ia
tidak membangunkanku sore itu.
Ma, setelah itu aku pergi sholat dan
berdoa, aku bertanya pada Tuhan, mengapa hal sederhana bisa membuatku begitu
terluka?
Mengapa hal sederhana seperti pesan
yang tidak dibalas bisa membuat aku begitu terluka?
Setelah sholat, aku kembali ke kamar,
kudapati mama memenjamkan mata di kamarku, tertidur, aku rasa cukup lelap.
Ku amati wajahmu yang ahh... ternyata
terlihat berbeda.
Mama terlihat lebih tua sekarang,
kerut-kerut di pipi, lingkar hitam
dibawah mata, rambut mama yang jadi lebih kelabu, sejak kapan mama jadi terlihat begini tua?
Setelahnya memori di kepala
sepertinya membawa aku pada lorong-lorong kenangan yang terdapat mama
didalamnya. Dari semua kenangan yang berlarian dihadapan, yang paling
mengangguku adalah saat-saat dimana aku mengabaikan ucapan mama, entah karna
topik ibu-ibu yang menurutku tak menarik, perihal politik yang aku rasa banyak
terdapat perbedaan diantara kita, mama yang minta dibantu merapikan lemari
rumah, mama yang meminta aku lebih mengerti papa, pembicaraan terkait keadaan
finansial keluarga dan lainnya.
Dalam memori yang terputar, aku
melihat diriku yang seringkali terlihat tak tertarik, atau bahkan terlalu lelah
untuk menanggapi pembicaraan.
Apa pernah mama merasa kecewa?
Jika hal sederhana tadi bisa membuat
aku begitu terluka, apa mama pernah merasa terluka karna anak perempuannya yang
terlihat abai dan bosan?
Apa pernah mama diam-diam berdoa pada
Tuhan, dan bertanya mengapa anak perempuannya seringkali mengabaikannya?
Untuk sifat pendiamku yang
menyebalkan dan sikapku yang terkesan mengabaikan. Aku hanya ingin terlihat
tegar dihadapa mama, anak perempuan yang sejak kecil dibiarkan mandiri, tidak
pernah ada tawaran untuk menjemputku pulang, menanyakan apa aku sudah makan
dengan benar diluar, atau pergi dengan siapa. Aku tidak ingin terlibat pada
banyak percakapan yang berujung pada pertanyaan-pertanyaan mendalam. Aku hanya
ingin mama tau, si pendiam ini baik-baik saja.
Suatu hari, mungkin mama akan cukup
beruntung membaca curhatan sederhanaku karena sesungguhnya aku tidak memiliki
keberananian sedikitpun untuk menunjukkan ketidakberdayanku dihadapanmu ma.
Maafkan aku untuk setiap percakapan yang
berakhir bisu.
Untuk setiap tanya tanpa jawab.
Untuk setiap luka, untuk setiap doa.
I love you Ma.
Post-an kamu yang ini stirred my heart with unexplainable feelings, Syap. Gw merasa ini benar, sangat benar. Karena aku juga mengalami hal yang sama. Hanya aja aku bahkan gak bisa menyadari hal ini saat nyokap aku masih ada :"). Now, the regret burst out all over again. #curhat
ReplyDeleteAnyway, ini bagus banget Syap. Love you writings Syap!
Baru blog walking lagi dan menyadari ada komen dari Riska!
DeleteIt is Ka, kalo diinget-inget suka bikin hati rasanya gimana gitu...
Doa terbaik untuk mamanya Ika disana yaa, Mamanya Ika pasti bangga banget liat Ika sekarang! all the best for you too ka
Makasih Ika buat pujiannya ehehe mau dong baca tulisannya Ika lagi
Oh how I really miss college life..