Thursday, December 15, 2016

Untuk yang keberadaannya seringkali aku abaikan,

Halo Mama
Pada sore yang biasa, aku mendapati diriku tertidur lebih lama.
16.37 aku seharusnya bangun pukul 16.00 tepat.
Aku merasa kecewa, karna aku sudah berpesan pada seseorang di lain tempat
“Hei bangunkan aku pukul 16.00 ya”.
Sayang sekali, karna suatu alasan ia tidak membangunkanku sore itu.

Ma, setelah itu aku pergi sholat dan berdoa, aku bertanya pada Tuhan, mengapa hal sederhana bisa membuatku begitu terluka?
Mengapa hal sederhana seperti pesan yang tidak dibalas bisa membuat aku begitu terluka?

Setelah sholat, aku kembali ke kamar, kudapati mama memenjamkan mata di kamarku, tertidur, aku rasa cukup lelap.
Ku amati wajahmu yang ahh... ternyata terlihat berbeda.
Mama terlihat lebih tua sekarang, kerut-kerut di pipi,  lingkar hitam dibawah mata, rambut mama yang jadi lebih kelabu,  sejak kapan mama jadi terlihat begini tua?

Setelahnya memori di kepala sepertinya membawa aku pada lorong-lorong kenangan yang terdapat mama didalamnya. Dari semua kenangan yang berlarian dihadapan, yang paling mengangguku adalah saat-saat dimana aku mengabaikan ucapan mama, entah karna topik ibu-ibu yang menurutku tak menarik, perihal politik yang aku rasa banyak terdapat perbedaan diantara kita, mama yang minta dibantu merapikan lemari rumah, mama yang meminta aku lebih mengerti papa, pembicaraan terkait keadaan finansial keluarga dan lainnya.
Dalam memori yang terputar, aku melihat diriku yang seringkali terlihat tak tertarik, atau bahkan terlalu lelah untuk menanggapi pembicaraan.
Apa pernah mama merasa kecewa?

Jika hal sederhana tadi bisa membuat aku begitu terluka, apa mama pernah merasa terluka karna anak perempuannya yang terlihat abai dan bosan?
Apa pernah mama diam-diam berdoa pada Tuhan, dan bertanya mengapa anak perempuannya seringkali mengabaikannya?

Untuk sifat pendiamku yang menyebalkan dan sikapku yang terkesan mengabaikan. Aku hanya ingin terlihat tegar dihadapa mama, anak perempuan yang sejak kecil dibiarkan mandiri, tidak pernah ada tawaran untuk menjemputku pulang, menanyakan apa aku sudah makan dengan benar diluar, atau pergi dengan siapa. Aku tidak ingin terlibat pada banyak percakapan yang berujung pada pertanyaan-pertanyaan mendalam. Aku hanya ingin mama tau, si pendiam ini baik-baik saja.

Suatu hari, mungkin mama akan cukup beruntung membaca curhatan sederhanaku karena sesungguhnya aku tidak memiliki keberananian sedikitpun untuk menunjukkan ketidakberdayanku dihadapanmu ma.

Maafkan aku untuk setiap percakapan yang berakhir bisu.
Untuk setiap tanya tanpa jawab.
Untuk setiap luka, untuk setiap doa.


I love you Ma. 

2 comments:

  1. Post-an kamu yang ini stirred my heart with unexplainable feelings, Syap. Gw merasa ini benar, sangat benar. Karena aku juga mengalami hal yang sama. Hanya aja aku bahkan gak bisa menyadari hal ini saat nyokap aku masih ada :"). Now, the regret burst out all over again. #curhat
    Anyway, ini bagus banget Syap. Love you writings Syap!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru blog walking lagi dan menyadari ada komen dari Riska!
      It is Ka, kalo diinget-inget suka bikin hati rasanya gimana gitu...
      Doa terbaik untuk mamanya Ika disana yaa, Mamanya Ika pasti bangga banget liat Ika sekarang! all the best for you too ka

      Makasih Ika buat pujiannya ehehe mau dong baca tulisannya Ika lagi
      Oh how I really miss college life..

      Delete